Lupa Sandi?
/MSN

Pertahanan Terbaik adalah Menyerang

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Pertahanan Terbaik adalah Menyerang

Beberapa minggu lalu, berbagai media nasional terbit dengan halaman muka yang seragam, bukan karena mereka berasal dari satu grup media, namun karena memang berita di halaman mukanya sama, persis. Isinya mengenai Pertamina, yang untuk pertama kalinya, masuk dalam daftar “2013 Fortune Global 500”, sebuah pemeringkatan perusahaan-perusahaan dari seluruh dunia berdasarkan besarnya pendapatan. Pertamina, yang pada tahun 2012 mencatat pendapatan $70.9 milyar,  ada di peringkat ke-122. Inilah satu-satunya dan pertama kalinya, perusahaan nasional masuk dalam ranking dunia.

Sebenarnya, Pertamina hanya satu dari sekian banyak perusahaan nasional yang dimiliki pemerintah, yang menunjukkan kebangkitan yang menakjubkan, mengikuti gelombang pertumbuhan ekonomi Indonesia selama decade terakhir yang cukup mengesankan. Lima belas bahkan sepuluh tahun lalu, saya gak akan berani bermimpi bahwa perusahaan-perusahaan BUMN akan bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan dari negara yang lebih maju. Hal ini, tentu saja terkait dengan ekonomi Indonesia sendiri yang masih terpuruk paska krisis 1998, juga karena, ini asumsi pribadi waktu itu (dari berita-berita yang saya dengar), BUMN terkenal tidak efisien, menjadi rebutan partai-partai, dan malas mengadopsi teknologi dan perkembangan baru di dunia. Bisa jadi saya salah. Namun, saya masih ingat, ketika Garuda Indonesia dilarang terbang ke Uni Eropa karena masalah keamanan penerbangan, hal ini mulai menguatkan pandangan saya bahwa BUMN kita belum siap tempur kancah persaingan global.

Namun rupanya saya tidak sepenuhnya besar (kalau bukan sepenuhnya salah). Rupanya ada ‘gerakan’ membangkitkan BUMN-BUMN tersebut sejak beberapa lama. Selain kabar tentang Pertamina, sebelumnya juga ada kabar baik dari Garuda Indonesia, yang meraih World Best Economy Class 2013 versi Skytrax, mengalahkan jagoan-jagoan udara seperti Emirates, Etihad, Asiana, atau Singapore Airlines.  Garuda Indonesia juga ada di peringkat 8 World Best Airlines. Bahkan beberapa hari lalu, Garuda kembali membuat headline ketika dinobatkan sebagai "The Best Airline in Asia and Australasia" dalam Passanger Choice Awards 2013. Tahun-tahun sebelumnya, Garuda juga selalu mendapatkan penghargaan dari lembaga internasional karena pencapaian di berbagai sector. Sebuah prestasi yang bukan main sulitnya diraih, namun berhasil juga.

Baca Juga

Belum lama juga, Perusahaan Gas Negara mendapatkan meraih peringkat I dunia dalam Top 100 Annual Report Worldwide Winners. Sebuah cerminan good governance, profesionalitas, dan transparansi pada sebuah perusahaan negara. Tiga hal tersebut sampai sekarang masih merupakann tantangan besar bagi Indonesia secara umum. Garuda juga sebelumnya meraih “First Rank Top 100 Annual Report Worldwide dari League  of American Communications Professionals (LACP), sebuah lembaga pemeringkat laporan tahunan terbaik dari perusahaan-perusahaan seluruh dunia.

Selain prestasi-prestasi di atas, yang paling menarik disimak adalah makin gencarnya BUMN mencapai pasar baru, tak lagi berkutat di dalam negeri.  Perusahaan-perusahaan seperti PTDI, Kimia Farma, Wika, Semen Indonesia (Semen Gresik), Pertamina, Telkom, dan beberapa BUMN lain mulai gencar berekspansi ke pasar global. Tak hanya ASEAN saja, seperti  masuknya beberapa BUMN ke Myanmar, Filipina, Vietnam, Brunei, tapi jauh hingga timur tengah, Afrika Utara, dan Amerika Latin. Ekspansi BUMN ini mengikuti perusahaan2 nasional swasta yang lebih dulu lintas batas sejak beberapa tahun terakhir ini. Sama, hal inipun tak terbayangkan oleh saya sepuluh tahun lalu, ketika perusahaan-perusahaan dari Malaysia, Singapura, satu persatu membeli perusahaan2 nasional. Saya masih ingat ketika salah satu petinggi di BUMN yang saya temui di Surabaya, beliau mengatakan “Kini giliran Indonesia yang akan menginvasi mereka”.

Saya kemudian berpikir bahwa tak lama lagi, Asean Economic Community akan mulai berlaku, dimana perusahaan-perusahaan Indonesia, mau tidak mau, siap tidak siap, harus berhadapan head-to-head dengan perusahaan-perusahaan dari negara-negara ASEAN lain. BUMN akan memegang peranan penting memegang lead pertempuran yang akan berlangsung sengit, bersama dengan perusahaan-perusahaan swasta nasional. Rasanya, gabungan antara good governance, strong management, penerapan teknologi mutakhir, dan perbaikan terus menerus, bisa menghindarkan kita dari kekalahan.

Dan di sini lah peran ekspansi gencar BUMN tadi, bukankah “the only real defense is an active and organized offense?"

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie