Lupa Sandi?
/ MSN

"Gusti Allah mBoten Sare"

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar

By Akhyari Hananto

Suatu ketika saya satu mobil dengan direktur sebuah perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Inggris, dan ketika itu saya ajak berjalan-jalan melewati Jl. Magelang menuju Yogyakarta melewati Tempel, Turi, dan Pakem di wilayah utara propinsi Yogyakarta. Ketika memasuki wilayah tempel dan turi, sang direktur ini selalu melihat ke luar kaca mobil, melihat para petani salak dan penjual salak eceran di pinggir-pinggir jalan.

Saking seringnya dia melihat keluar, saya tawarkan "You want to stop a while and get off the car?" Dia dengan gembira menyetujuinya. Kami berhenti di salah satu penjual salak eceran, dan membeli 20 kg salak. Sang direktur dan penjual salak, seorang ibu yang menggendong bayinya (yang mungkin berumur 9 bulan), terlibat dalam percakapan intens yang hangat mengenai kehidupan sederhana sang ibu tersebut. Sang ibu sederhana ini terlihat begitu sopan dan selalu tersenyum menjawab berbagai pertanyaan, dengan sambil menimbang salak.

Kami kemudian melaju lagi. Saya bertanya kepada sang direktur itu, tentang apa yang dibicarakan dengan sang ibu penjual salak.

Baca Juga

“Saya iri. Sungguh sangat iri pada ibu itu. Betapa bahagianya kehidupannya, meski sehari hanya mendapat untung kurang lebih Rp. 50 ribu. Kehidupannya sederhana, pagi buta memasak buat keluarganya, suami memetik salak, jam 7 pagi mengantar anak pertama ke sekolah, dan jam 10-2 siang jualan salak. Pulang menikmati hasil jualannya untuk membeli nasi dan lauk pauk dan sebagiannya disimpan” gumamnya.

Saya sempat tertegun dengan kata-katanya, dan lambat laun mengamini pernyataannya bahwa kehidupan sederhana orang-orang seperti ibu penjual salak tadi justru membuat saya iri. Saya yang seorang karyawan dengan penghasilan (saya rasa) cukup, hampir tak pernah menikmati hari-hari yang ‘sederhana’. Hari-hari saya dipenuhi dengan persoalan kantor, saya setiap waktu harus memikirkan banyak hal, terlalu banyak hal, saya selalu merasa bahwa 24 jam waktu saya perhari tidak mencukupi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Saya tak bisa membayangkan, betapa lebih kompleksnya hari-hari kawan sayasi direktur yang membawahi berbagai divisi dan ribuan karyawan.

Saya sudah berkeliling ke hampir seluruh propinsi di Indonesia, dan karakter sederhana dan bahagia seperti yang saya temui di Yogyakarta tersebut adalah karakter yang sangat umum dimiliki oleh orang-orang Indonesia, meski secara ekonomi tidak terlalu mengesankan (dan kadang bahkan tidak bisa mencukupi beberapa kebutuhan pokoknya), tapi mereka adalah orang-orang yang bahagia, selalu berusaha bersikap sopan, optimis mengenai masa depannya, dan selalu berharap bahwa anak-anaknya akan memiliki kehidupan yang lebih baik. “Gusti Allah mboten sare. Moho adil, moho welas asih” itulah mungkin platfom utama dari semua karakter yang terbangun di kehidupan mereka.

Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh lembaga riset global IPSOS yang berkedudukan di Paris, Prancis pada April 2012, menunjukkan bahwa dari semua negara yang disurvey, Indonesia menempati peringkat pertama negara yang paling bahagia, bahkan 51% menyatakan “sangat bahagia”. Yang mengherankan, justru negara-negara yang lebih maju dan kaya seperti Australia, Korea Selatan, Jerman, Saudi Arabia, peringkatnya dibawah Indonesia.

Dalam sebuah survey lain yang dilakukan oleh lembaga survey dalam negeri , Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS),  menunjukkan bahwa 80,7 persen responden di 33 provinsi di Indonesia percaya bahwa dengan kepemimpinan yang baik, Indonesia akan menjadi negara adidaya. Masyarakat juga optimistis bahwa Indonesia menjadi negara maju, sejahtera dan kuat, dan percaya bangsa ini akan menangkan persaingan global.

Saya meyakini bahwa hasil kedua survey tersebut berhubungan, bahwa makin bahagia seseorang, makin optimis orang tersebut menatap masa depannya. Dan keduanya adalah social capital yang luar biasa, dimana meski dengan segala tantangan dan rintangan, rakyat Indonesia masih tetap menaruh harap tinggi bahwa negeri ini akan menjadi bangsa yang besar dan berpengaruh di masa mendatang. Dan modal besar ini tidak boleh hilang.

Bagaimana menurut anda?

(sumber gambar disini)

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara