Lupa Sandi?

Pilar Ekonomi Bernama Gas Alam

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Pilar Ekonomi Bernama Gas Alam
Pilar Ekonomi Bernama Gas Alam
by Akhyari Hananto Banyak fakta menarik dan membanggakan mengenai gas alam di Indonesia, yang sayangnya tidak banyak dari kita yang mengetahui. Di antaranya bahwa Indonesia adalah salah satu negara penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, juga pengekspor LNG terbesar ke-2 atau ke-3 di dunia (berkejaran dengan Malaysia), sementara nomor satu masih dipegang oleh Qatar. Fakta lainnya adalah Indonesia diyakini masih menyimpan cadangan gas dalam jumlah besar yang belum dieksploitasi. Fakta-fakta ini sebenarnya begitu memberikan harapan kepada kita semua, bahwa Indonesia bisa sukses melewati periode di mana makin menipis dan mahalnya sumber energi berbasis fosil. Total cadangan gas dunia adalah 6,112 triliun kaki persegi, dan Indonesia ada di peringkat ke-11 dunia dengan cadangan 98 triliun kaki persegi. Inilah daftar 20 besar Negara dengan cadangan gas terbesar dalam satuan triliun kaki persegi: 1.         Rusia = 1,680 2.         Iran = 971 3.         Qatar = 911 4.         Arab Saudi = 241 5.         United Arab Emirates = 214 6.         AmerikaSerikat = 193 7.         Nigeria = 185 8.         Aljazair = 161 9.         Venezuela = 151 10.       Irak = 112 11.       Indonesia = 98 12.       Norwegia = 84 13.       Malaysia = 75 14.       Turkmenistan = 71 15.       Uzbekistan = 66 16.       Kazakhstan = 65 17.       Belanda = 62 18.       Mesir = 59 19.       Kanada = 57 20.       Kuwait = 56   Total cadangan 20 negara di atas adalah 5,510 triliun kaki persegi dan total cadangan negara-negara di luar 20 besar di atas adalah 602 triliun kaki persegi. Salah satu ladang gas di Indonesia juga masuk dalam daftar ladang gas terbesar dalam satuan (*109 m³), yakni Ladang Gas Tangguh di Papua. Berikut adalah daftarnya:   1.         Asalouyeh, South Pars Gas Field (10000 - 15000) 2.         Urengoy gas field (10000) 3.         Shtokman field (3200) 4.         Karachaganak field, Kazakhstan (1800) 5.         Slochteren (1500) 6.         Troll (1325) 7.         Greater Gorgon (1100) 8.         Shah Deniz gas field (800) 9.         Tangguh gas field , Indonesia (500) 10.       Sakhalin-I (485) 11.       Ormen Lange (400) 12.       Jonah Field (300) 13.       Snøhvit (140) 14.       Barnett Shale (60 - 900) 15.       Maui gas field (?) Berkas:Natural gas production world.PNG Gambar I : Produksi gas alam dunia, warna coklat adalah produksi terbesar, diikuti warna merah Sebenarnya, pemanfaatan gas alam di Indonesia dimulai pada tahun 1960-an. Yaitu, ketika produksi gas alam dari ladang gas alam PT Stanvac Indonesia di Pendopo, Sumatera Selatan dikirim melalui pipa gas ke pabrik pupuk Pusri IA, PT Pupuk Sriwidjaja di Palembang.  Pemanfaatan gas alam di Indonesia berkembang dengan pesat sejak tahun 1974, ketika gas alam mulai dialirkan lewat pipa gas dari ladang gas alam di Prabumulih, Sumatera Selatan ke pabrik pupuk Pusri II, Pusri III dan Pusri IV di Palembang. Karena sudah terlalu tua dan tidak efisien, pada tahun 1993 Pusri IA ditutup, dan digantikan oleh Pusri IB yang dibangun oleh putera-puteri bangsa Indonesia sendiri.  Waktu itu, Pusri IB merupakan pabrik pupuk paling modern di Asia, dengan memanfaatkan teknologi tinggi. Di Jawa Barat, pada tahun yang sama, gas alam juga dipasok lewat pipa gas dari ladang gas alam di lepas pantai (off shore) laut Jawa dan kawasan Cirebon untuk pabrik pupuk dan industri menengah dan berat di kawasan Jawa Barat dan Cilegon Banten. Pipa gas alam yang membentang dari kawasan Cirebon menuju Cilegon, Banten, memasok gas alam antara lain ke pabrik semen, pabrik pupuk, pabrik keramik, pabrik baja dan pembangkit listrik tenaga gas dan uap. LNG vs LPG (Elpiji) Mungkin masih banyak dari kita yang bertanya –tanya mengenai perbedaan LNG dengan LPG.  Secara teknis maupun fokus penggunaan, keduanya memang berbeda. Banyak dari kita yang jauh lebih mengenal LPG (Elpiji) dibanding LNG. Elpiji merupakan campuran dari berbagai unsur Hydrocarbon yang berasal dari penyulingan minyak mentah dan berbentuk gas. Dengan menambah tekanan dan menurunkan suhunya, gas berubah menjadi cair, sehingga dapat disebut sebagai “gas minyak bumi yang dicairkan” atau Liquefied Petroleum Gas. Di Indonesia, Elpiji sudah diperkenalkan oleh Pertamina sejak 1968, dan kini pemakaiannya semakin luas. Sementara LNG atau Liquefied Natural Gas adalah gas alam yang dicairkan, yang komposisi kimia terbanyaknya adalah Methana, lalu sedikit Ethana, Propana, Butana dan sedikit sekali Pentana dan Nitrogen. LNG biasanya dipakai di Industri sebagai bahan bakar. Bagaimana perkembangan saat ini? Tentu saja sangat besar harapan kita semua, agar gas, aset bangsa yang luar biasa tersebut dapat dikelola oleh dan dimanfaatkan untuk anak bangsa, demi kelangsungan pembangunan dan pertumbuhan di berbagai sektor. Sungguh merupakan kabar yang membanggakan karena pada bulan Juni tahun ini masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Lampung patut berbangga, karena salah satu fasilitas gas alam cair (LNG) terbesar di dunia akan mulai beroperasi di Lampung. Fasilitas LNG ini disebut floating storage and regasification unit (FSRU) atau unit penyimpanan dan regasifikasi dan terapung dibuat oleh PGN (Perusahaan Gas Negara). Dengan kapasitas sebesar 170.000 metrik ton, FSRU Lampung menjadi yang terbesar di Indonesia. Posisi kedua adalah Tangguh (di Papua) dengan kapasitas 145 meter kubik dan posisi ketiga adalah Kilang Bontang (Kalimantan Timur) dengan kapasitas 125 meter kubik. Hoegh Scores Belawan FSRU Job Gambar II : FSRU (sumber: LNGworldnews.com) FSRU adalah fasilitas terapung yang berfungsi sebagai penyimpanan dan penguapan kembali gas alam dalam bentuk cair menjadi dalam bentuk gas seperti pada aslinya. FSRU merupakan salah satu solusi PGN untuk mempermudah transportasi gas dan untuk memenuhi kebutuhan gas di daerah yang jauh dari sumber gas, karena biaya pembangunan infrastruktur pipa gas memang sangat mahal. Ladang gas Indonesia sendiri memang kebanyakan berada di Indonesia bagian timur, ditambah lagi bentuk geografis negara kita yang terdiri dari kepulauan membuat transportasi gas lebih susah. Di situasi seperti inilah FSRU menjadi salah satu solusinya. Pada pengoperasiannya nanti, FSRU Lampung akan mengambil pasokan gas bumi dari Blok Tangguh di Papua dan membawanya dengan berlayar ke Lampung. Sebelumnya, pasokan gas di Blok Tangguh diekspor ke Sempra, Amerika Serikat. FSRU Lampung adalah sebuah investasi padat modal, akan tetapi dipastikan sepadan dengan dampak ekonomi dan dampak positif di sektor-sektor lain. PGN berkomitmen dengan berinvestasi hingga US$ 3000 juta untuk pembuatan FSRU Lampung, dan pembangunannya dimulai sejak Februari 2013 kemarin di galangan kapal Hyundai Heavy Industries di Ulsan, Korea Selatan. Sedangkan untuk pengoperasiannya PGN memilih Hoegh Ltd, sebuah perusahaan penyedia jasa dan transportasi LNG yang berbasis di Norwegia, dan perusahaan rekayasa industry milik pemerintah, PT Rekayasa Industri. Sekali lagi, ini adalah investasi padat modal yang berani. Bayangkan saja, untuk menyambungkan Labuhan Maringgai di Lampung Timur dan lokasi FSRU Lampung yang berada di wilayah lepas pantai Labuhan Maringgai, PGN membangun infrastruktur system pipa gas sepanjang 21 KM. Kemudian PGN juga membangun pipa distribusi sepanjang 88 KM dari Stasiun Penerimaan dan Pembagi Gas Bumi di Labuhan Maringgai menuju kota Bandar Lampung. FSRU Lampung merupakan FSRU kedua yang dibangun PGN. Sebelumnya, PGN bekerjasama dengan Pertamina melalui anak perusahaan PT Nusantara Regas, membangun FSRU Jawa Barat yang telah beroperasi sejak tahun 2012. Gambar III: FSRU Jawa Barat (nusantararegas.com) Kenapa FSRU Lampung sangat penting? FSRU Lampung adalah investasi yang sepadan. Nantinya, fasilitas ini akan memenuhi kebutuhan energi gas bumi masyarakat di Lampung, Sumatera Selatan dan Jawa Bagian Barat –baik di sektor rumah tangga, komersil, industri, maupun listrik–. Di sektor listrik, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) juga akan memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan gas pembangkit listriknya, terutama untuk menopang pembangkit listrik saat beban puncak malam hari. Dengan meningkatnya kemampuan jumlah pasokan gas bumi ke wilayah Lampung dan Jabar, kebutuhan energi konsumen industri yang terus berkembang akan dapat terpenuhi.   Keberadaan dan kestabilan pasokan gas, terutama menjadi pemicu pertumbuhan bisnis sektor industri, dan menumbuhkan kepercayaan investor lain terhadap kemampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi di sektor industri. Terus tumbuhnya sektor industri tentunya juga akan membuka berbagai kesempatan-kesempatan ekonomi di wilayah sekitarnya, baik itu kesempatan kerja maupun sektor usaha-usaha kecil dan menengah. Pilar energi itu bernama PGN   Tidak mengherankan kalau banyak dari kita berpikir bahwa pengelola gas di Indonesia dari hulu ke hilir hanyalah Pertamina, yakni dalam bentuk tabung-tabung elpiji yang ada di dapur rumah-rumah kita. Padahal, selama hampir 50 tahun ini, ada BUMN yang khusus menangani gas bumi, yakni PGN. Di masa lalu, PGN bernama PN Gas. PGN sejauh ini telah berhasil membangun jaringan pipa gas bumi di Indonesia sepanjang lebih dari 6.000 KM (lebih panjang dari jarak antara Sabang ke Merauke yang 5248 KM!) Layaknya kota-kota besar lain di dunia, sebetulnya sudah ada daerah-daerah tertentu di beberapa kota Indonesia yang telah lama dipasangi saluran gas bumi, contohnya daerah Menteng di Jakarta. Selain di Jakarta, PGN juga beroperasi di Jawa Barat (Bekasi, Karawang, Bogor, Banten, Cirebon), JawaTimur (Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan), dan di Pulau Sumatera (Medan, Pekanbaru, Batam, Lampung, Palembang). PGN bersama dengan Hoegh Ltd akan bekerjasama untuk FSRU Lampung hingga 20 tahun, sebuah komitmen yang besar, dan SKK Migas pun telah membuat rencana pasokan FSRU Lampung hingga tahun 2021. Secara sederhana bias disimpulkan bahwa adanya pasokan energi yang lebih besar dan stabil akan membawa kemajuan dan perkembangan bagi wilayah Lampung, Sumatra Selatan dan Jawa Barat. FSRU Lampung akan membawa efek multiple yang tidak terbayangkan, dan bisa menjadi benchmark bagi solusi energi di daerah-daerah lain di Indonesia, untuk menumbuh-kembangkan ekonomi secara berkelanjutan.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

Artikel Terkait

Thank God, I'm Indonesian

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

Fragile? Not Anymore

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu

"Ray of Hope"

Akhyari Hananto3 tahun yang lalu
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas