Optimisme untuk Masa Depan Ekonomi Indonesia

Optimisme untuk Masa Depan Ekonomi Indonesia
info gambar utama

Di awal tahun 2015 ini perekonomian Indonesia limbung. Ibarat sebuah kapal, ekonomi Indonesia diterjang ombak yang cukup kuat. Bulan lalu, rupiah menyentuh posisi terendah dalam 16,5 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi melambat, hanya 4,71 persen selama kuartal I-2015, atau yang terendah sejak 2009.

Sementara itu kinerja ekspor kurang memuaskan dan kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Namun dengan berbagai tantangan yang ada, Fauzi Ichsan menolak untuk menyerah. “Saya optimis dengan perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Fauzi adalah satu dari beberapa pengamat ekonomi yang setiap komentarnya layak untuk disimak. Ketika masih menjabat sebagai Senior Economist and Head of Government Relations di Standard Chartered Indonesia, setiap pendapatnya yang berkaitan dengan kondisi perekonomian nasional selalu ditunggu-tunggu oleh para pelaku pasar.

Setelah menghabiskan 13 tahun bekerja di bank asing tersebut, Fauzi memutuskan untuk sedikit pindah haluan.

Sejak awal tahun ini, pria yang selalu berpenampilan necis ini ditampuk sebagai anggota Dewan Komisioner merangkap Plt. Kepala Eksekutif di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). DUA FAKTOR UTAMA YANG MEMPENGARUHI EKONOMI NASIONAL Ditemui di ruangan kerjanya, Fauzi mengungkapkan bahwa ada dua faktor utama yang menjadi alasan tertekannya ekonomi Indonesia saat ini.

Pertama adalah faktor global, di mana dollar akan terus menguat terhadap mata uang global lainnya, termasuk terhadap Yen dan Euro. Berakhirnya aliran dana segar ke dalam perekonomian Amerika Serikat melalui pencetakan uang pada triwulan keempat tahun 2014, menurut Fauzi, merupakan faktor global yang menekan perekonomian Indonesia. Selain mulai usainya kebijakan quantitative easing dari pemerintah Amerika Serikat, Fauzi mengatakan, “Pelaku pasar juga memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat akan menaikkan suku bunga acuannya.”

Faktor lokal menjadi faktor yang kedua, tunjuk Fauzi. Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang cukup berat dari dalam, yaitu twin defisit. Indonesia memang mengalami defisit baik pada transaksi berjalan maupun APBN. Menurut data yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI), sudah tiga tahun Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan. Di tahun 2012 defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat sebesar US$ 24 miliar, US$29 miliar di 2013 dan US$ 25 miliar di tahun 2014.

Sementara itu, di dalam APBN-P yang disahkan oleh DPR di bulan Februari lalu, pemerintah menetapkan defisit anggaran sebesar Rp 222,5 triliun atau sekitar 1,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Indonesia saat ini ada di antara beberapa negara berkembang lainnya yang memiliki defisit neraca transaksi berjalan, seperti India, Brazil dan Turki.

“Ketika Bank Sentral Amerika Serikat dan bank sentral global lainnya menerapkan kebijakan moneter yang ekstra longgar, otomatis defisit neraca transaksi berjalan ini dapat dibiayai dengan murah. Namun setelah ada wacana pengetatan dari Bank Sentral Amerika Serikat, pembiayaan defisit tersebut menjadi lebih sulit. Inilah alasan kenapa mata uang dari negara-negara yang mengalami defisit neraca transaksi berjalan langsung melemah ketika ada wacana kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat,” Fauzi menjelaskan.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Joko “Jokowi” Widodo untuk mengurangi beban APBN adalah dengan mengurangi subsidi BBM. Dalam enam bulan pertama masa pemerintahannya, Presiden Jokowi tercatat sudah menaikkan harga BBM sebanyak tiga kali dan menurunkan dua kali. Kebijakan ini mendapat kritikan keras dari masyarakat luas.

Namun menurut Fauzi, pil pahit ini merupakan keputusan yang tepat. Pada masa kejayaannya, Indonesia memang sempat memproduksi minyak sebanyak sekitar 1,68 juta barel per hari, dengan konsumsi BBM masyarakat hanya 300 ribu barel per hari. Tapi itu jauh di era 1970-an. Kondisi sekarang jelas jauh berbeda. Di tahun 2015, pemerintah menargetkan produksi minyak sekitar 850 ribu barel per hari, sementara konsumsi BBM lebih dari 1,36 juta barel per hari.

“Defisit ini kan harus diimpor mengikuti harga pasar dalam dollar, sehingga wajar apabila harga BBM harus disesuaikan dengan harga pasar,” ujarnya, sembari menambahkan kalau subsidi BBM selama ini didapatkan dari hutang.

Ia menunjukkan ironi dari subsidi BBM. “Pembiayaan hutang diperlukan untuk membiayai defisit migas untuk mengimpor minyak bumi padahal kita tahu bahwa lebih dari 70 atau 80 persen dari BBM bersubsidi dinikmati oleh kelas menengah dan orang kaya. Jadi kalau dari sisi ekonomi keputusan itu memang harus dilakukan, kecuali Indonesia masih surplus migas seperti di jaman dulu. Situasi kita sekarang memang tidak memungkinkan lagi.”

OPTIMISME FAUZI TERHADAP EKONOMI INDONESIA DI SEMESTER II 2015

Walaupun ada banyak tantangan yang menghadang, namun Fauzi mengaku tetap optimis dengan perekenomian Indonesia, baik di semester II tahun ini maupun secara jangka panjang. Walau pertumbuhan 7 persen, seperti yang dijanjikan oleh Presiden Jokowi di masa kampanye tahun lalu, sangat sulit dicapai namun setidaknya ia percaya ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di atas rata-rata dunia.

“Saya optimis perekonomian Indonesia tahun ini bisa tumbuh 5,3 atau 5,4 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi global yang cuma 3 persen,” ujar Fauzi.

Menurutnya Indonesia memiliki potensi yang begitu besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. “Kalau kita lihat, ada lebih dari 250 juta penduduk di Indonesia, di mana separuhnya adalah usia di bawah 29 tahun. Sementara itu kelas menengah kita terus berkembang.”

Komposisi demografi Indonesia memang menguntungkan perekonomian. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan bahwa Indonesia akan memiliki sedikitnya 305 juta orang di tahun 2035, di mana mayoritas berusia 15 tahun sampai 64 tahun, atau yang biasa disebut usia produktif. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bappenas, jumlah penduduk usia produktif adalah sebesar 66,5 persen di tahun 2010. Proporsi ini akan meningkat menjadi 68,1 persen dari tahun 2028 hingga 2031.

Banyaknya jumlah masyarakat usia produktif berarti turunnya angka ketergantungan, yaitu jumlah penduduk usia tidak produktif yang ditanggung oleh mereka dengan usia produktif, sebuah situasi yang biasa disebut dengan bonus demografi. Besarnya jumlah penduduk produktif tentu juga meningkatkan konsumsi domestik, satu elemen penting yang dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Fauzi menjelaskan bahwasanya konsumsi domestik menggerakkan sekitar 65 persen perekonomian nasional, sementara konsumsi penduduk di Indonesia mampu berkontribusi sekitar 55 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Saya sangat optimis dengan demografi muda kita, saya yakin ekonomi Indonesia akan tetap baik,” ujarnya.

Namun bonus demografi bukanlah sesuatu yang dapat dinikmati begitu saja. Bank Dunia memberikan peringatan kepada pemerintah melalui laporan yang dikeluarkan tahun lalu. Menurut Bank Dunia, perekonomian Indonesia harus tumbuh di atas 8 persen untuk dapat keluar dari middle income trap, sebuah istilah ekonomi yang menggambarkan ketidakmampuan suatu negara untuk ‘naik kelas’ dari statusnya sebagai negara berpendapatan menengah menjadi negara maju.

Sementara Indonesia sudah menjadi negara berpendapatan menengah bawah sejak awal 1990-an hingga sekarang. Namun Fauzi menolak untuk pesimis. Ketika ditanya mengenai peluang Indonesia masuk ke dalam middle income trap, ia mengatakan, “Kalau saya bilang, semuanya relatif. Middle income trap itu masih lebih baik dari poverty trap. Sekarang yang penting adalah mengurangi kemiskinan, fokus pada angka kemiskinan dulu.”

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi bukanlah segalanya, namun pertumbuhan ekonomi yang berkualitas lebih penting. “Kalau saya melihatnya, kita jangan terpaku dengan middle income trap tapi kita harus mengurangi jumlah kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Bagi saya isu middle income trap lebih merupakan sebuah isu akademis, tapi bukan sebuah isu yang paling urgent untuk sementara ini.”

TRANSFORMASI FAUZI ICHSAN SAAT INI K

eputusannya untuk meninggalkan dunia perbankan yang sudah ditekuninya selama lebih dari 15 tahun, diakui Fauzi, merupakan sebuah langkah yang sangat penting bagi karir dan tujuan hidupnya secara jangka panjang. Ia menjelaskan bahwa ketika bekerja di bank, ia lebih banyak memainkan peran yang sifatnya sangat makro. Sementara bersama LPS ia merasa diberikan kesempatan untuk bersentuhan langsung dengan sektor riil.

“Di sini saya dan teman-teman terlibat langsung dengan sektor riil. Di satu titik terkadang kita merasa harus berbuat sesuatu yang lebih nyata bagi orang banyak,” ujarnya.

Dulu sebagai seorang economist, ia dituntut untuk memberi masukan kepada para investor dalam menghadapi setiap gejolak ekonomi, seperti penguatan atau pelemahan rupiah. “Ketika saya berbicara dengan para investor itu sifatnya reaktif.”

Sementara di LPS, Fauzi dan para pemangku kepentingan lainnya dari Kementrian Keuangan, Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama-sama membentuk berbagai kebijakan secara proaktif untuk kepentingan masyarakat luas. Ketika ditanya mengenai posisi LPS di dalam menjaga kestabilan ekonomi nasional, Fauzi mengatakan bahwa kedudukan LPS sangatlah strategis dan penting.

“Deposito yang dijamin oleh pemerintah atau suatu lembaga bertujuan agar masyarakat tidak panik,” ujarnya, sembari menjelaskan bahwa adanya blanket guarantee merupakan salah satu alasan tidak ambruknya sektor perbankan nasional di masa-masa krisis moneter di akhir era 1990-an.

“Jadi bisa kita bayangkan kalau misalnya tidak ada program penjaminan, walaupun dengan batasan, dan kemudian kita mengalami ‘rush’ dari para deposan yang kehilangan kepercayaan dari sistem perbankan. Apa jadinya?” Fauzi kemudian menerangkan fungsi utama LPS dalam menjaga sistem perbankan nasional.

Keberadaan LPS, ujarnya, adalah untuk membantu menjaga stabilitas sektor perbankan di Indonesia, terutama ketika terjadinya krisis. Kemudian fungsi penting lain dari LPS adalah mengambil alih peran regulator perbankan, dalam hal ini OJK, sewaktu terjadi bank gagal. “Jadi tugas LPS adalah memastikan bahwa bank-bank yang ada di Indonesia itu sehat dan layak.”

Di luar dunia pekerjaan, Fauzi adalah orang yang mementingkan keluarga serta keseimbangan hidup. Sebagai seorang ayah, ia mengatakan bahwa tugas utamanya adalah mempersiapkan anak-anaknya di masa depan untuk bisa mandiri dan mampu berkontribusi.

Di waktu senggang, seringkali ia mengajak anak-anaknya berlatih berkuda di daerah Sentul. Ketika ditanya soal pesan yang ia ingin sampaikan kepada orang lain, terutama generasi muda, pria yang mengaku bercita-cita menjadi seniman ketika muda ini menyampaikan tiga pesan kunci. Yang pertama, setiap orang harus memiliki rencana.

“Ada pepatah manusia merencanakan namun Tuhan menentukan, itu benar. Tapi kita tetap harus punya rencana dalam lima tahun, sepuluh tahun hingga dua puluh tahun ke depan, termasuk langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan tersebut.” Kemudian kita harus siap membantu orang lain dan memberinya kesempatan. “Karena di dalam hidup, kita bisa berada di posisi sekarang karena bantuan orang lain, karena kita diberi kesempatan oleh orang lain, bos, orangtua, teman atau sahabat. Jadi kita pun harus membantu mereka yang layak dibantu, yang layak diberi kesempatan dan yang layak untuk maju,” kata Fauzi, sambil menambahkan bahwa empat bulan lalu ia tidak pernah berangan-angan menjadi seorang anggota dewan komisioner apalagi acting kepala eksekutif di LPS.

“Terakhir, apapun peran dan pekerjaan kita, kita harus yakin bahwa kita berkontribusi. Apabila kita melakukan pekerjaan secara profesional dan dengan niat yang tulus, maka jalan akan terbuka dengan sendirinya.”

ditulis oleh: Tasa Nugraza Barley

Artikel ini adalah hasil kerjasama antara GNFI dan HEGIRA, sebuah majalah gratis bulanan yang ditujukkan untuk pembaca muda Muslim Indonesia.

Foto oleh Rizky Panca Saputra

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini