Lupa Sandi?

“Lisung Geneng” Alat Penumbuk Tradisional Sasak

Fairuz Abu Macel
Fairuz Abu Macel
0 Komentar
“Lisung Geneng” Alat Penumbuk Tradisional Sasak

Digital Camera Digital Camera

Kampung Media; Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan suku Bangsa, dimana setiap suku bangsa itu memiliki kebudayaan sendiri-sendiri. Keadaan inilah yang menyebabkan masyarakat Indonesia hidup dalam kontek multi cultural. Setiap etnis atau suku bangsa yang ada di Indonesia hidup dengan kebudayaan yang berbeda-beda. Namun secara umum seluruh kebudayaan di dunia memiliki unsure universal yang artinya setiap kebudayaan dibentuk oleh unsur tersebut. Salah satu bagian dari unsure universal kebudayaan adalah peralatan hidup. Terkait dengan hal itu etnis Sasak yang menghuni pulau Lombok juga memiliki kebudayaan tersendiri yang membedakannya dengan etnis/suku bangsa lainnya. Sebagaimana kebudyaan etnis/suku bangsa lainnya, kebudayaan etnis/suku Sasak juga memiliki unsure universal kebudayaan yang salah satunya adalah sistem peralatan hidup. Sistem peralatan hidup merupakan bagian penting dari kebudayaan yang dimana sistem peralatan hidup terkait dengan masalah peralatan-peralatan hidup yang dibuat dan digunakan dalam kehidupan social suatu kelompok penganut kebudayaan . Suku Sasak sendiri memiliki berbagai peralatan hidup yang digunakan dalam kehidupannya, baik peralatan rumah tangga, peralatan dalam bidang pertanian, peralatan dalam penyelenggaraan pesta, pernak-pernik dan sebagainya. Salah satu peralatan hidup yang digunakan oleh masyarakat suku Sasak adalah Lisung Geneng. Lisung Geneng merupakan alat penumbuk tradisional masyarakat suku Sasak yang berada di sekitar wilayah Lombok Timur. Pada dasarnya Lisung Geneng adalah alat penumbuk yang dibuat dari bahan kayu yang terdiri dari sebuah lesung dan sebuah anak lesung atau dalam bahsa Sasak disebut dengan nama geneng. Dengan demikian Lisung Geneng merupakan kesatuan dari dua nama alat penumbuk, yaitu lisung dan geneng. Untuk lebih jelasnya mengenai sepasang alat penumbuk tersebut, maka penulis akan mendeskripsikan-nya satu persatu. Lisung merupakan alat yang dibuat dari bahan kayu dengan bentuk bulat dan pada bagian tengahnya dibuatkan lubang sebagai tempat untuk menaruh barang-barang yang akan ditumbuk. Lisung biasanya dibuat dari bahan kayu yang mudah dibentuk namun tidak mudah lapuk/tahan dalam waktu yang cukup lama. Menurut keterangan Amaq Husni (Ketua Adat masyarakat Dusun Sukamulia), lisung bisanya dibuat dari bahan kayu lekong (kemiri), kayu jampelung, kayu nangka dan kayu paoq (mangga). Secara umum lisung berukuran tinggi 50 cm dengan diameter lubang 25 hingga 30 cm. Lisung biasa dibuat/dibentuk pada saat kayu yang digunakan untuk membuatnya masih basah sebab kayu yang masih basah lebih mudah dibentuk dan dilubangi jika dibandingkan dengan kayu yang sudah kering, lebih-lebih jika bahannya adalah kayu nangka dan kayu jampelung. Geneng adalah alat penumbuk yang dibuat dari bahan kayu dengan bentuk bulat memanjang dan berfungsi untuk menumbuk atau melebur barang-barang yang hendak ditumbuk di dalam lisung. Masyarakat Kecamatan Pringgabaya juga menyebut alat ini dengan nama Anak Kalung. Secara umum geneng (anak kalung) dibaut dari bahan kayu yang kuat dan berat sebab berat-nya alan ini sangat mempengaruhi cepat lambatnya benda yang ditumbuk akan lebur dan menjadi halus. Atas pertimbangan itu maka anak kalung (geneng) bisanya dibuat dari bahan kayu jambu biji (nyambuk batu: bahasa Sasak), kayu nangka, dan kayu batu. Secara umum anak kalung dibuad dengan ukuran panjang 100 hingga 120 cm dengan diameter sekitar 5 hingga 6 cm. Sebagaimana dijelaskan pada bagian semelumnya, Lisung Geneng berfungsi sebagai alat penumbuk. Dalam kehidupan masyarakat Kecamatan Pringgabaya, alat ini digunakan untuk membuat tepung beras/ketan, untuk menumbuk kopi dan menumbuk bumbu masak pada saat pelaksanaan tradisi gawe. Alat ini biasa digunakan gunakan pada saat akan dilaksanakannya tradisi gawe, pembuatan jajan pada saat akan dilaksanakannya hari raya idul fitri dan adha, serta dalam pelaksanaan tradisi maulid, bubur dan maleman. Lisung Geneng hanya digunakan untuk menumbuk barang-barang yang disebutkan tadi. Sedangkan untuk menumbuk padi secara tradisional, digunakan alat yang disebut dengan nama Rantok yaitu alat penumbuk padi yang terbuat dari bahan kayu dengan bentuk menyerupai perahu. Saat ini Rantok sudah tidak ditemukan lagi di sekitar wilayah Pringgabaya. Namun di beberapa wilayah pulau Lombok, Rantok masih sering digunakan dalam pelaksanaan tradisi ada, misalnya pada masyarakat Bayan di KLU dan beberapa wilayah di sekitar Lombok Barat dan Loteng. Seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan alat penumbuk tradisional ini tergantikan oleh alat penumbuk modern yang menggunakan mesin (heler mesin). Saat ini alat penumbuk tradisional yang disebut dengan nama Lisung Geneng ataupun Rantok sudah ditinggalkan oleh masyarakat sebab mereka lebih memilih menggunakan alat penumbuk modern yang lebih efektif dan efisien. Sebelum berkembangnya alat penumbuk modern (heler), setiap warga Dusun Sukamulia pada khususnya dan masyarakat Kecamatan Pringgabaya pada umumnya memili Lisung Geneng. Jika ada warga yang akan melaksanakan tradisi gawe maka setiap warga perempuan membawa Lisung Geneng ke rumah penyelenggara gawe dan di sana mereka bersama-sama menumbuk (nujak: bahsa Sasak atau menutu dalam bahasa Bayan) beras/ketan yang akan digunakan untuk membuat jajan yang dibutuhkan pada saat pelaksanaan gawe. Selain itu, warga perempuan juga bergotong royong menumbuk kopi yang dibutuhkan selama penyelenggaraan gawe. Kini alat tersebut telah langka dan hanya beberapa orang warga saja yang masih menyimpan dan mengabadikannya. Namun mereka tidak pernah lagi menggunakannya untuk menumbuk beras/ketan dan kopi. Padahal alat ini juga memiliki makna filosofi yang menggambarkan bahwa lisung adalah perlambangan kesuburan perempuan (yoni dalam bahasa sansekerta) dan geneng merupakan perlambangan kesuburan laki-laki (lingga dalam bahasa sansekerta).

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FAIRUZ ABU MACEL

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie