Indonesia kembali membuktikan bahwa mereka pantas diperhitungkan sebagai raksasa olahraga Paralayang dunia. Dede Supratman merebut gelar Juara Dunia Kelompok Umum pada Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang (WPAC) VIII FAI 2015 Indonesia, di Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat, 10-16 Agustus. Putra lokal Kampung Pensiunan, Cisarua itu berhasil mematahkan dominasi peringkat sementara terbaik putra dunia, Matjaz Sluga (Slovenia) dan para jawara Eropa (Timur) lainnya.
Dede Supratma Juara Kelompok Umum Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang VII FAI 2015 (Foto: Kompas.com)
Hingga Ronde 4 Dede, 28, masih di peringkat 3 Kelompok Umum. Berkat dua kali berhasil menginjak tepat titik nol Ronde 3 dan 5, dia mengambil alih pimpinan peringkat. Sluga turun ke peringkat kedua, disusul Tomas Lednik (Republik Ceko). Kemenangan Dede sangat dramatis karena diantara para peringkat Tiga Besar itu, hanya berselisih satu angka. Sluga dan Letnik yang sempat memimpin Dua Besar hingga Ronde 3, gagal mengungguli Dede di ronde-ronde terakhir karena tidak pernah menginjak titik nol. Keberhasilan Dede bukan saja menjadi hadiah manis bagi Indonesia yang memperingati Kemerdekaannya pada 17 Agustus, namun juga bagi Paraboy, julukan untuk bocah-bocah yang tinggal disekitar di Kampung Pensiunan, Cisarua, Jawa Barat., lokasi pendaratan Kejuaraan Dunia ke delapan kali ini. Mereka membantu para pilot (atlet Paralayang) melipat, mengemas dan mengangkut parasut ke kendaraan yang siap membawa pilot kembali ke lokasi lepas landas. Dede, anak bungsu dari empat bersaudara, sejak kecil aktif sebagai Paraboy. Sepulang sekolah ketika masih di bangku Sekolah Dasar, ia langsung menuju lapangan pendaratan tempat para atlit Paralayang berlatih, 100 meter di depan rumahnya. Tak heran jika bekal pengetahuannya tentang Paralayang sangat kuat, karena sejak kecil ia sudah memperhatikan langsung teknik terbang dan mendarat pilot handal nasional maupun asing. Kini ia adalah Raja Ketepatan Mendarat Paralayang Dunia. Pilot senior Thailand, Nunnapat Phuchong, 26, makin menunjukkan dominasinya sebagai pilot ketepatan mendarat terbaik dunia menggantikan Lis Andriana (Indonesia), Juara Seri Piala Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang (PGAWC) 2012-2014. Peringkat teratas putri dunia sementara itu meraih emas. Sementara, Lis Andriana tak mampu bersinar di Kejuaraan Dunia kali ini. Cedera lutut kanannya yang terkilir saat berlatih beberapa hari sebelum kejuaraan dimulai, menghalanginya untuk tampil maksimal. Lis diharapkan segera pulih, karena Desember nanti bersama pilot putra peringkat 10 Nasional dan peringkat 15 Dunia, Darumaka Rajasa, akan mewakili Indonesia di World Air Games Dubai, setingkat Olimpiade bagi cabang-cabang olahraga dirgantara dunia. Lis akan kembali berhadapan dengan Nunnapat dan Tamara Kostic, andalan Serbia. Keberhasilan Dede menjadi modal penting cabang Paralayang untuk membuktikan pada Komite Olahraga Indonesia (KOI), bahwa mereka amat layak mengikuti Asian Games 2018 Indonesia. Namun dibutuhkan segera “Bapak Asuh” dari pihak BUMN untuk mendukung dana bagi para atlit Paralayang nasional mengikuti kejuaraan sebanyak mungkin di tingkat internasional. Karena pesaing Indonesia dari 18 negara yang dapat mengikuti Asian Games 2018, seperti Thailand matang di kompetisi dunia. Dede harus membuktikan ia bukan jago kandang saat mempertahankan gelar di Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang IX FAI 2017 di Albania.

Kompas.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu