Inspirasi inovasi bisa saja datang dari mana saja. Bahkan dari permasalahan yang mungkin bagi kita terlihat sepele, namun terlihat penting untuk mereka yang memandangnya secara berbeda. Tampaknya itulah yang terjadi pada bocah bernama Muhammad Zulfikar Avicenna, murid kelas VB SD Semesta Bilingual Boarding School, Semarang, Jawa Tengah. Ceritanya berawal ketika ia merasa risih karena rak buku di perpustakaan sekolahnya dikerumuti rayap. Siswa berusia 10 tahun ini kemudian langsung mengajak teman sekelasnya Muhammmad Baiata Farisi untuk mencari solusi agar rayap tersebut tidak lagi mampir di rak buku perpustakaan sekolah. Bermodal internet untuk riset bahan formula yang ampuh, Cenna sapaan akrab Avicenna, bersama Farisi dan guru pembimbingnya, Umarudin, akhirnya menemukan buah bintaro sebagai bahan utama formula anti rayap. Dua bocah itu kemudian mulai melakukan eksperimen dengan mengubah buah bintaro yang terkenal beracun menjadi cairan anti rayap. Semua ide dua anak itu masih berdasar data pada materi pelajaran tentang tumbuhan di kelas III dan pencarian informasi di internet. Muhammad Zulfikar Avicenna Buah bintaro dipilih karena banyak terdapat di Tembalang dan Banyumanik, tidak jauh dari sekolahnya. Buah itu juga sudah terpercaya reputasinya sebagai pembasmi tikus. "Kami lakukan percobaan dua kali. Yang pertama gagal. Terus yang kedua berhasil," kata Farisi Senin (2/11/2015). Pada mulanya, penemuan tersebut tidak dimaksudkan untuk dilombakan di ajang World Creativity Festival 2015 sebab penelitian kedua bocah itu sudah dilakukan dan selesai beberapa bulan sebelumnya. Beruntung, ketika penemuan Cenna dan Farisi itu dikirimkan ke Daejeon, Korea Selatan, mereka malah mendapatkan penghargaan. "Akhir Oktober lalu ikut lomba dan dapat medali perak," kata Cenna. Kedua bocah itu harus melakukan presentasi dihadapan juri dan menjelaskan bahwa dalam proses penggunaannya, buah bintaro harus diubah menjadi cairan dahulu, kemudian disemprotkan ke tempat rayap berkumpul. Hanya hitungan detik, rayap langsung mati. Caranya adalah, buah Bintaro dipotong menjadi kecil-kecil kemudian di blender sampai halus. Hasil blender ditimbang hingga 100 gram lalu dicampur air sulingan atau Aquades seberat 300 gram. Campuran itu diaduk hingga mencampur dan disaring. Cairan yang sudah jadi didiamkan selama dua hari untuk ekstraksi sebelum digunakan. "Ini didiamkan dua hari. Nanti pakainya tinggal disemprotkan," kata Farisi. Hasilnya? Koloni rayap dari kayu yang dijadikan sampel kemudian disemprot menggunakan cairan buatan mereka, dan terbukti cukup tiga kali semprot rayap mati seketika. Selain menggunakan buah Bintaro, Cenna juga mempraktekan cara membuat cairan Terminator (termite exterminator) dari Pongpong Fruit (carbera manghas). Farisi pun menceritakan pengalamannya ketika berada di Daejeno, Korea Selatan. Dia dan Cenna saat itu percaya diri dengan temuan mereka. Saat persentasi dengan bahasa Inggris pun mereka yakin menang. "Sempet deg-degan soalnya slide hilang satu, tapi enggak apa-apa. Tetep go terus. Pas datang sudah yakin menang," kata Farisi. Guru pembimbing, Umarudin mengatakan pihaknya membantu membimbing dan mengarahkan siswanya termasuk mencarikan jurnal tentang buah Bintaro itu. Terkait pengajuan hak paten, sudah ada rencana namun harus melalui penelitian lebih lanjut. "Jadi mereka melihat situasi di sekolahannya. Kemudian di jurnal itu disebutkan buah Bintaro memiliki senyawa yang bisa dimanfaatkan (untuk membasmi rayap). Untuk mematenkan perlu kajian ilmiah lebih lanjut," kata Umarudin. Kepala SD Semesta Bilingual Boarding School, Siti Zubaidah mengatakan, sudah dua kali siswa-siswanya mendapatkan medali di ajang yang sama. Tahun lalu temuan berupa kulit durian yang bisa menjernihkan jlantah atau minyak bekas pakai bisa mendapatkan medali perak. "Dukungan kami berupa pembinaan, pembuatan proyek, pembuatan video dan pembinaan dosen dari Undip. Ini tahun kedua bagi kami mendapatkan Silver. Tahun lalu kulit durian menjernihkan jlantah," kata Siti. liputan6.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu