Permasalahan polusi asap rokok belakangan menjadi perbincangan sebab asap rokok dianggap mampu memberikan dampak yang sama seperti orang yang merokok, yakni memicu kanker. Namun sampai saat ini kebijakan yang diambil oleh pemerintah hanya menekan ruang gerak para perokok di wilayah-wilayah tertentu tanpa memikirkan tentang bagaimana mengolah asap rokok tersebut agar menjadi lebih ramah lingkungan. Melihat permasalahan tersebut tiga siswa MTs pondok pesantren (Ponpes) Tahfidz Yanbu'ul Qur'an, Kudus, menjadi satu-satunya madrasah di Indonesia yang mengirimkan tim dan mengikuti Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) 2015, setingkat SMP, di Bali. Mereka membuat alat yang mampu mengubah asap rokok menjadi lebih ramah lingkungan. Sempat dipandang sebelah mata, mereka justru pulang membawa medali emas, untuk kategori 'Lomba Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa'. "Kami sempat minder, karena alat yang kami rangkai cukup sederhana. Sementara, punya peserta lain bentuknya bagus-bagus. Namun, setelah pengumuman, mereka kaget karena kami bisa menggondol medali emas," kata seorang anggota tim, Abdullah Faqih.
Para siswa dari MTs pondok pesantren (Ponpes) Tahfidz Yanbu ul Qur an, Kudus. (Foto: Yayan Isro Roziki / Tribun Jateng) Para siswa dari MTs pondok pesantren (Ponpes) Tahfidz Yanbu ul Qur an, Kudus. (Foto: Yayan Isro Roziki / Tribun Jateng)

Abdul Faqih bersama dua temannya, Alin Adzkannuha dan M. Nasim Mubarok menciptakan alat pengurang polutan, yang diberi nama T-Fanter 25. "Alat ini bisa mendegradasi kadar CO2 dalam asap rokok, dari 60 persen menjadi 14 persen," jelas Faqih. Anggota tim lainnya, Alin, mengatakan ia dan timnya menciptakan alat ini di bawah pengawasan guru pembimbing, M. Saman. Butuh waktu empat bulan untuk merangkai alat tersebut, mulai dari penyiapan bahan hingga diujicoba di laboratorium milik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. "Awal ikut lomba, kita kirimkan naskah ke Jakarta, di sana harus bersaing dengan 1.124 naskah lainnya. Kemudian, ribuan naskah itu disaring menjadi 113," katanya. Selanjutnya, dari 113 hasil karya ilmiah yang lolos seleksi kemudian dikelompokkan menurut provinsi, untuk dilakukan pembinaan. "Selama 22-24 Oktober 2015, bersama enam sekolah lain se-Jateng yang lolos, kami dikumpulkan dan diberi pelatihan di Semarang. Lalu, pada 25-29 Oktober kami berkompetisi secara nasional di Bali," katanya. Nasim, mengungkapkan bahwa ide membuat alat ini bermula dari banyaknya pabrik rokok di Kudus. Serta, banyaknya perokok yang ada di masyarakat sekitar. "Kami lalu berpikir, bagaimana caranya agar asap rokok itu tak memberi efek buruk bagi orang sekitar yang tak merokok," ucapnya. Diterangkan, komponen alat ini cukup sederhana. Antara lain terdiri dari, lampu ultraviolet, TEOS, karbon aktif, TiO2, dan beberapa komponen lain. "Karena asap selalu bergerak ke atas, alat ini cukup ditaruh di atas, nanti asap yang terserap akan diproses selama kurang lebih 30 menit, dan keluar sudah menjadi udara segar lagi," terangnya. Menurut dia, untuk membuat alat berdimensi tinggi 75 Cm, lebar 15 Cm, dan panjang 50 Cm ini, diperlukan biaya Rp 810 ribu. "Hanya selama penelitian untuk menemukan komposisi yang pas dari alat ini kami sudah menghabiskan uang lebih dari Rp 7 juta, sebagian hasil patungan kami, sebagian disumbang pihak sekolah," tuturnya. Kepala Madrasah Aliyah (MA) Tahfidz Yanbu'ul Qur'an,, Sulis Fanani, mengaku bangga dengan capaian santri-santri ponpes tersebut. Menurutnya, ponpes yang dikepalainya memang punya misi besar membangkitkan kembali era kejayaan Islam di bidang ilmu pengetahuan. "Dua di antara peserta yang menang lomba itu sudah hafidz. Kami ingin, selain pandai ilmu agama, santri-santri juga menjadi ilmuwan. Dulu abad ke-5 sampai 6 Islam pernah melahirkan ilmuwan-ilmuwan handal, semisal Ibnu Sina, Ibnu Rusdh, dan lain-lain," kata dia. Terkait hasil temuan ketiga siswa itu, menurut Fanani, pihaknya ingin agar dilakukan penelitian lebih lanjut. Sehingga, ke depan bisa dipatenkan diproduksi secara massal. "Anjuran dari dewan juri juga seperti itu," tutur dia. Ditambahkan, selain ketiga siswa tersebut banyak siswa lain yang juga punya karya ilmiah. "Jumat depan, ada juga yang akan mengikuti lomba ilmiah di UI. Di sini, memang ada kegiatan ekstrakurikuler untuk melakukan penelitian-penelitian ilmiah," sambung dia. Kendati sudah banyak menorehkan prestasi, menurut Fanani, pihaknya selama ini membiayai sendiri berbagai penelitian secara mandiri. "Kami tak meminta dan mengharap bantuan, hanya jika ada yang berniat membantu kami tak menolak. Kami tanamkan di benak para murid, semua harus bisa mandiri," kata dia. tribunnews.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu