Martha Christina Tiahahu, Perempuan Pertama Penentang Belanda

Martha Christina Tiahahu, Perempuan Pertama Penentang Belanda

Martha Christina Tiahahu, Perempuan Pertama Penentang Belanda

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Ketika perempuan identik dengan dapur dan merawat anak, Martha Christina Tiahahu memilih jalan yang sedikit berbeda. Senjata berupa tombak panjang dan ikat kepala merah menjadi teman kesehariannya. Ia mengobarkan semangat kepada para wanita untuk turut serta bertempur melawan penjajah.

Ia lahir pada 4 Januari 1800 di Nusa Laut, Maluku dan merupakan putri sulung dari Kapitan Paulus Tiahahu, salah satu pemimpin tentara rakyat Maluku. Sang ibu telah meninggal dunia saat usianya masih belia sehingga seluruh tangung jawab mengasuh,mendidik,serta membesarkan ditangani oleh sang ayah.

Martha kecil terkenal berkemauan keras dan pemberani. Kemanapun sang ayah pergi, ia selalu mengikutinya. Bahkan ia juga ikut sang ayah ketika menghadiri rapat perencanaan perang, akhirnya Martha sudah terbiasa mengatur pertempuran dan membuat kubu pertahanan. Kemampuan, sikap keras kepala, dan tekad yang kuat membuatnya tidak kalah dari para pejuang laki-laki.

Marta Christina Tiahahu (pahlawanindonesia.com)
Marta Christina Tiahahu (pahlawanindonesia.com)

Mulai Berperang di Garis Depan di Usia Remaja

Ketika usianya menginjak 17 tahun, Martha Christina Tiahahu sudah ikut angkat senjata melawan para penjajah Belanda di garis depan. Bersama dengan sang ayah, Paulus Tiahahu, dan Kapitan Pattimura, pasukan Maluku berhasil menggempur tentara kolonial yang menguasai Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Mereka bahkan berhasil membumihanguskan Benteng Duurstede.

Karena sebagian besar pasukan rakyat bergerak ke Saparua untuk membantu Kapitan Pattimura, tindakan Belanda yang berencana mengambil alih Benteng Beverwijk luput dari perhatian. Sementara itu Guru Soselissa yang memihak Belanda ternyata dengan mengatas-namakan rakyat menyerah pada Belanda sehinga Benteng Beverwijk jatuh ke tangan Belanda tanpa perlawanan.

Meninggalnya sang Ayah, Kapitan Tiahahu

Peperangan di Saparua terus berkobar, namun karena semakin berkurangnya persenjataan pasukan rakyat, mereka mundur ke pegunungan Ulath-Ouw. Pasukan Belanda yang berusaha mengejar kawanan pejuang berhasil dipukul mundur. Bahkan pimpinan mereka, Richemont tertembak mati. Begitu juga dengan Meyer yang menggantikan Richemont.

Lama-kelamaan, peluru para pejuang telah habis sehingga mereka menyerang dengan lemparan batu. Mengetahui hal ini, dengan cepat pasukan Belanda bergerak maju untuk menyerang. Pertempuran sengit di Desa Ouw-Ullath inilah yang menjadi akhir perjuangan pasukan rakyat. Mereka ditangkap, termasuk Martha Christina dan sang ayah.

Namun Martha Christina dibebaskan karena usianya yang masih muda, yaitu 17 tahun. Usaha Martha untuk membebaskan sang ayah gagal dan ia harus melihat ayahnya ditembak mati oleh tentara Belanda.

Perjuangan Terakhir Martha Christina Tiahahu

Meninggalnya sang ayah tentulah membuat Martha merasa sangat sedih. Tapi ia tidak ingin berlama-lama bersedih. Ia kembali mengangkat tombaknya dan kembali melakukan pemberontakan terhadap Belanda sehingga ia kembali ditangkap bersama dengan 39 pemberontak lainnya oleh Belanda.

Martha bersama pemberontak lainnya yang berhasil ditangkap akhirnya diangkut dengan kapal Eversten untuk kerja paksa di Pulau Jawa. Di atas kapal tersebut ia mogok makan dan sama sekali tidak mau menerima pemberian Belanda. Kondisinya semakin memburuk hingga akhirnya jatuh sakit, meski begitu ia terus menolak semua pengobatan ataupun makanan. 2 Januari 1818, hanya 2 hari sebelum ulang tahunnya yang ke-18 tahun, wanita pemberani ini akhirnya meninggal dunia di atas kapal dan jenazahnya disemayamkan di Laut Banda.

Martha Christina Tiahahu secara resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional tanggal 20 Mei 1969, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969. Pemerintah Republik Indonesia juga menjadikan 2 Januari sebagai Hari Martha Christina.

Berkat pengorbanannya tersebut, pemerintah Maluku membuat monumen untuk mengenang jasa Martha Christina. Monumen Martha Tiahahu menjadi bukti sejarah keberanian wanita maluku dalam membela tanah air tercinta.



Sumber :

www.kabarindonesia.com

boombastis.com

nationalgeographic.co.id


Sumber Gambar Sampul : https://tintadigital89.wordpress.com/

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga44%
Pilih SedihSedih13%
Pilih SenangSenang9%
Pilih Tak PeduliTak Peduli7%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi22%
Pilih TerpukauTerpukau4%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Pesawat Tanpa Awak Karya Anak Bangsa, Menerbangi Sabang - Merauke Sebelummnya

Pesawat Tanpa Awak Karya Anak Bangsa, Menerbangi Sabang - Merauke

Misteri Tupai Penghisap Darah Pemangsa Kijang yang Hidup di Belantara Borneo Selanjutnya

Misteri Tupai Penghisap Darah Pemangsa Kijang yang Hidup di Belantara Borneo

Imama Lavi Insani
@imalavins

Imama Lavi Insani

http://imalavins.blogspot.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.