Pulau Sebatik merupakan salah satu pulau kecil yang berbatasan daratan dengan Malaysia. Wilayahnya terbagi menjadi dua bagian dengan luas wilayah 236 km2 menjadi bagian Indonesia dan 171 km2 menjadi bagian Malaysia. Pulau Sebatik merupakan  pulau terdepan yang menjadi prioritas utama pembangunan karena berbatasan langsung dengan negara tetangga. Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan UU 23 tahun 2014, Pulau Sebatik akan menjadi kota persiapan menjadi daerah otonom selama evaluasi 3 tahun berturut-turut.

Saat ini telah menjadi bagian dari Kabupaten Nunukan yang sebelumnya bergabung di Kabupaten Bulungan. Pemekaran wilayah baru menjadi Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) sejak tahun 2012 dengan luas wilayah . Pada awalnya pula Pulau Sebatik dari 1 desa yakni Desa Pancang, dan berkembang saat ini menjadi 5 kecamatan, Kecamatan Sebatik, Sebatik Barat, Sebatik Utara, Sebatik Timur, dan Sebatik Tengah. Pemerataan pembangunan di lima kecamatan dengan rencana pemerintah mengeksekui daerah otonomi baru menjadi fokus strategis pemerintah daerah baru Kabupaten Nunukan.

Awal mula penamaan Sebatik berawal dari kisah ular besar yang ditemukan oleh peneliti Portugis yang bentuk coraknya seperti batik, namun cerita ini baru hanya ada di dalam buku belum di eksplorasi lebih mendalam oleh masyarakat. Penduduk Sebatik sendiri sebagian besar merupakan transmigran dari daerah Bone, Sulawesi Selatan dengan suku Bugis. Mata pencaharian masyarakat yang sebagian besar merupakan nelayan dan petani perkebunan kelapa sawit telah menopang ekonomi masyarakat sekitar tidak lepas dari potensi alam di dalamnya.

Raksasa Ekonomi Maritim yang Tertidur

“Tidak ada negara yang miskin dan terbelakang yang ada adalah negara-negara yang tidak terkelola dengan baik, manajemen yang dapat menciptakan nilai tambah untuk kemakmuran bagi sebuah bangsa-negara”-Peter Drucker

Masyarakat sedang memanen hasil rumput laut segar
Masyarakat sedang memanen hasil rumput laut segar

Sebatik memiliki potensi ekonomi maritim yang besar dengan sumber daya hasil laut yang melimpah seperti lobster andalan ekspor, berbagai macam ikan laut, kepiting dan rumput laut. “Namun sayang, harga rumput laut saat ini sedang turun sehingga petani rumput laut mengalami kerugian”, ujar salah satu petani rumput laut di Desa Tanjung Aru, Sebatik Timur. Sumber daya laut yang melimpah ternyata masih belum menyejahterakan nelayan dikarenakan masih banyak hasil tangkap laut yang langsung dijual kepada pengumpul dan pengumpul yang akan menjual langsung ke Tawau, Malaysia. Harga lobster besar khas Sebatik dihargai 90 ringgit per kilo sedangkan hasil tangakapan laut seperti ikan, kepiting biasa dihargai 11 ringgit per kilo dan terstandarisasi harus dalam kondisi hidup.

Lobster yang siap di ekspor
Lobster yang siap di ekspor

“Biasanya barang dikirim ke Malaysia, diolah disana setelah itu hasil olahannya dibawa lagi ke Indonesia berupa olahan produk yang nilainya lebih tinggi”. Masih menjadi perhatian bersama dalam hal daya saing di garda terdepan negeri ketika sumber daya melimpah belum teroptimalisasi baik karena keterbatasan pengolahan dan sumber daya manusia yang ada. Pulau terdepan yang katanya menjadi prioritas sudah menjadi janji pemerintah di Nawa Cita dalam membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam negara kesatuan perlu kita kawal bersama kembali. (*Rahma Ariyani)


Sumber Gambar Sampul : insta.sebatik

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu