Lupa Sandi?

Sang Legenda Sastra, Dari Kamp Penjara Buru menuju Nobel Internasional

Agustina  Suminar
Agustina Suminar
0 Komentar
Sang Legenda Sastra, Dari Kamp Penjara Buru menuju Nobel Internasional

Jangan sekali-kali mengaku pencinta novel, jika mendengar nama Pramoedya saja masih terasa asing di telinga. Semula, Pramoedya bernama lengkap Pramoedya Ananta Mastoer. Tapi karena dia merasa "Mastoer" terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan "Mas" pada namanya. Pria yang lebih akrab dikenal sebagai Bung Pram ini lahir pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah dan meninggal di Jakarta pada 30 April 2006.

Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer

Sepanjang hidupnya selama 81 tahun, beliau mampu menorehkan 50 lebih karya. Bahkan dengan bantuan Amerika dan negara-negara Eropa, novel-novel Pram yang terancam dimusnahkan dapat lolos dan menjadi satu-satunya novel di Indonesia yang diterjemahkan lebih dari 41 bahasa.

Novel yang paling terkenal dan melambungkan namanya di kancah internasional adalah Tetralogi Pulau Buru, antara lain Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Novel tetralogi ini ditulis Pram saat di kamp penjara selama 11 tahun bersama 12.000 tahanan lain di Pulau Buru. Pramoedya dibuang karena dituduh terlibat dalam gerakan G30S/PKI. Meskipun sampai saat ini, belum ada pemeriksaan, pengadilan resmi maupun pembelaan diri mengenai entang itu.

Meskipun dengan banyak keterbatasan bahkan ancaman pemusnahan atas karya-karyanya, beliau tetap menulis dan menghasilkan karya-karya mengangumkan. Salah satunya buku yang berjudul Nyanyian Sunyi Seorang Bisu mampu mencuri perhatian internasional. Terbukti beberapa saat buku itu dirilis pada tahun 1999, salah satu program radio di Amerika, Democracy Now!, meminta Pram untuk sebuah wawancara di New York.

Baca Juga

Caption (Sumber Gambar)

Caption (Sumber Gambar)

Karya-karya Pramoedya yang diterjemahkan lebih dari 41 bahasa
Karya-karya Pramoedya yang diterjemahkan lebih dari 41 bahasa

Perjuangannya yang hidup pada masa kependudukan Jepang, Orde Baru, Orde Lama sampai masa Reformasi, sekaligus menjadikan Pram tidak hanya sebagai sastrawan tetapi juga sejarawan. Karena karya -karyanya tidak hanya berkutat pada cerita fiksi, tetapi menyangkut sejarah Indonesia yang memiliki pengaruh besar di mata dunia.

Tidak heran jika dalam sejarah Indonesia, Pramoedya menjadi satu-satunya sastrawan Indonesia yang mendapat puluhan penghargaan internasional, mulai dari Freedom to Write Award dari PEN American Center, 1988 sampai Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004. Itulah yang membuat Pram  menjadi satu-satunya penulis Indonesia, bahkan yang terbanyak di Asia Tenggara yang paling banyak menjadi kandidat penerima Nobel.

Buku yang berisi hasil wawancara Andre Vlitchek & Rossie Indira kepada Pramoedya
Buku yang berisi hasil wawancara Andre Vlitchek & Rossie Indira kepada Pramoedya

Sejak tahun 1996, Pram berkali-kali menjadi kandidat penerima Nobel di bidang sastra. Meskipun sampai saat ini Nobel belum pernah diterima Pram. Tentunya hal ini menimbulkan banyak asumsi, mengapa sampai akhir hayatnya, Nobel tak pernah mampir di kehidupan Pramoedya.

Menurut beberapa sumber, ada yang berspekulasi karena penerjemahan ke bahasa Inggris yang buruk, sehingga membuat kualitas kesusastraannya merosot. Namun disisi lain, ada juga yang menganggap bahwa adanya campur tangan pemerintah Indonesia untuk menahan penghargaan itu untuk Pram, karena statusnya sebagai eks-tapol pada saat itu. Meskipun banyak juga yang mengkritik pemberian Nobel merupakan permainan politik. Seperti yang diungkap Benedic Anderson dalam bukunya yang berjudul Politik Penganugerahan Hadiah Nobel Sastra.

Namun tanpa Nobel pun, Sosok Pramoedya Ananta Toer tetap menjadi legenda penulis besar di Indonesia. Beliau tidak pernah mengharap adanya penghargaan apapun. Pramoedya hanya menginginkan karyanya mau menyumbang perubahan sejarah besar bagi kemajuan bangsanya.

“Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana” - Pramoedya A. Toer




Sumber : wikipedia
Sumber Gambar Sampul : goodread.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AGUSTINA SUMINAR

We write to taste life twice. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas