Pada masa kolonial, tidak semua pribumi Indonesia dapat mengakses informasi mengenai kondisi bangsanya. Selain karena masih banyak yang belum mengenal baca tulis, surat kabar pada jaman kolonial tentunya menggunakan bahasa Belanda. Sehingga hanya pribumi yang berpendidikan serta menguasai bahasa asing yang dapat mengeakses berita. Hal itu sangat bertolak belakang dengan situasi sekarang yang sangat mudah dalam mengakses informasi dalam bentuk digital.

Namun seiring berjalannya waktu, muncul tokoh pribumi yang mampu mendirikan surat kabar pertama yang menggunakan bahasa melayu. Dia tak lain adalah Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo.  Beliau lahir pada tahun 1880 di Blora, Jawa Tengah. Lahir dan hidup di kalangan priyanyi tidak membuatnya buta atas penindasan kolonial terhadap warga pribumi Indonesia.

RM.Tirto Adhi Soerjo. Sumber:pramonoedhiewibowo.com
RM.Tirto Adhi Soerjo. Sumber:pramonoedhiewibowo.com

Akhirnya pada tahun 1907, RM.Tirto Adhi Soerjo mendirikan surat kabar bernama Medan Prijaji . Medan Prijaji menjadi jurnalisme advokasi pertama milik pribumi yang berisi kasus perampasan tanah yang dilakukan oleh kononial maupun ketidakadilan lain terhadap pribumi Indonesia. Bahkan untuk membantu memperjuangkan keadilan dalam bidang advokasi, perusahaan Medan Prijaji menyewa seorang ahli hukum untuk membantu menyelesaikan kasus yang menjerat kaum pribumi saat itu.

Untuk mengembangkan kemampuan literasi bangsanya, Tirto menggunakan seluruh pekerja mulai dari pengasuh, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. Bahkan Medan Prijaji menjadi koran pertama yang dikelola pribumi dengan uang dan perusahaan sendiri. Selama 5 tahun berdirinya Medan Prijaji, surat kabar tersebut berisi advokasi publik dari kesewenang-wenangan kekuasaan maupun kemauan untuk membangun perusahaan pers yang mandiri dan otonom.

Surat Kabar Medan Prijaji, merupakan surat kapar perjuangan pribumi Indonesia. Sumber: wikipedia
Surat kabar Medan Prijaji, merupakan surat kapar perjuangan pribumi Indonesia. Sumber: wikipedia

Berbeda dengan surat kabar sekarang yang memiliki ukuran yang sangat lebar, Medan Prijaji seperti buku yang hanya berukuran 12,5x19,5 cm yang terbit mingguan setiap hari Jumat. Surat kabar ini memiliki beberapa rubrik tetap seperti mutasi pegawai, salinan lembaran negara dan pasal-pasal hukum, cerita bersambung, iklan, dan surat-surat.

Karena surat kabar berjalan secara mandiri dalam hal pendanaan, maka untuk bisa berlangganan, pelanggan harus membayar uang muka terlebih dulu selama satu kuartal, setengah atau satu tahun. Uang muka tersebut tidak jauh beda dengan saham jika dalam proses niaga saat ini.

Koran Medan Prijaji menjadi koran pertama yang menampung suara pribumi dan menjadi kritik pedas bagi pemerintah kolonial. Selain itu surat kabar ini juga menjadi tujuan pengaduan akhir kasus pribumi yang diperlakukan tidak adil oleh kekuasaan. 

Nomor terakhir terbit 3 Januari 1912 tahun VI. Pada 23 Agustus 1912 Medan Prijaji pun ditutup. Tirto Adhi dituduh menipu sejumlah orang yang berhimpun diVereeniging van Ambtenaren bij het Binnenlandsch Bestuur (Perhimpunan Amtenar Pangreh Praja).

Sebagai pendiri surat kabar dalam bidang jurnalisme advokasi, Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu.

Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Penangkapan itu merupakan dalih dari Jaksa Agung Hindia Belanda, A Browner yang menuduh Tirto bersalah telah menulis penghinaan kepada Bupati Rembang. Setelah selesai dari masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia dan meninggal dunia pada 17 Agustus 1918.

Kisah perjuangan dan kehidupan RM.Tirto Adhi Soerjo  diangkat oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Buru dan Sang Pemula. Bahkan salah satu karya Pramoedya yakni Tetralogi Buru yang menceritakan kisah hidup Tirto dalam sosok Minke mengantarkan Pramoedya Ananta Toer sebagai calon penerima Nobel Sastra satu-satunya dari Indonesia.

Novel Tetralogi Buru. Sumber:bukalapak
Novel Tetralogi Buru. Sumber:bukalapak
Novel Sang Pemula. Sumber:bukalapak
Novel Sang Pemula. Sumber:bukalapak



Sumber : liputan6  wikipedia 
Sumber Gambar : 4.bp 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu