Sebuah prestasi membanggakan datang dari dunia arsitektur. Dalam ajang Arcasia Achitecture Awards (AAA) 2016, sebuah desain karya arsitek Indonesia muncul sebagai yang terbaik, mengungguli karya – karya lainnya dari seantero Asia. Karya yang diberi nama P-House atau “Dancing Mountain House” merupakan hasil kerja keras Budi Pradono Architects (BPA) meraih penghargaan sebagai karya residensial terbaik.

Penghargaan yang diterima ini menunjukkan bahwa kualitas arsitek – arsitek dalam negeri sudah mulai diakui oleh dunia. Dengan konsep yang mengedepankan peran arsitektur di tengah masyarakat, serta kombinasi antara modernisasi dengan unsur tradisional, karya ini mampu mengundang decak kagum dari para pengamat arsitektur.

Budi Pradono menjelaskan bahwa metode merancang yang digunakannya adalah menerapkan apa yang sesuai dengan kemampuan masyarakat dengan memanfaatkan konstruksi dari bahan dasar bamboo. Selain itu, ia juga mengimplementasikan bentuk – bentuk gunung yang mengelilingi kota dan pedesaan Salatiga, yakni Merapi, Tidar, Telomoyo dan Andong sebagai bentuk atap rumah. Tak heran, dengan konsep seperti ini banyak pujian berdatangan dalam ajang yang dibentuk oleh Dewan Arsitek Regional Asia (ARCASIA) ini.

Salah satunya adalah Rebecca Lo, seorang pengamat dari A+D Design and Architecture Singapore. menurutnya, Dancing Mountain House merupakan proyek yang mampu memberikan nuansa intim kekeluargaan daam desain bangunan. Dengan konsep rumah tanpa sekat, BPA mampu membuat suasana kekeluargana menjadi semakin terasa dengan berpusat pada ruang keluarga dan ruang makan utama sebagai yang paling luas.

Rebecca juga menambahkan bahwa materi – materi yang digunakan dalam desain ini memberikan romantika yang menganggumkan, dan bahwa orang Indonesia sangat memahami bahwa hidup yang baik adalah hidup yang dekat dengan alam. Hal inilah yang diimplementasikan BPA dalam Dancing Mountain House.

Budi Pradono mengungkapkan bahwa proyek perumahan ini diselesaikan pada 2014 sebagai dedikasi pada mendiang ayahnya yang merupakan seorang pendidik di sebuah universitas yang ada di kota Salatiga. Selain membangun perumahan, ia juga membangun perpustakaan umum peninggalan ayahnya di sekitar kompleks rumah tersebut agar bisa diakses masyarakat.

Sumber : tribunnews.com
Sumber Gambar Sampul : deezen.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu