Lupa Sandi?

Desa Kuno yang Menjadi Desa Terindah Di Dunia ada di Sumatera Barat.

Babah Boim
Babah Boim
0 Komentar
Desa Kuno  yang Menjadi Desa Terindah Di Dunia ada di Sumatera Barat.

Mungkin Sedikit dari kita yang tahu tentang sebuah perkampungan dilereng gunung Merapi yaitu Desa Pariangan yang berada di kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Desa Kuno Pariangan
Desa Kuno Pariangan

Kali ini ada Kabar gembira buat bangsa Indonesia yang datang dari New York, Amerika Serikat. Travel Budget, sebuah media pariwisata berpengaruh di dunia, menjatuhkan pilihan pada Nagari Pariangan sebagai Desa terindah di dunia.

Banyak kriteria dalam menjatuhkan pilihan, di antaranya keasrian dan warisan leluhur yang masih terjaga apik, yang menjadi ciri dan identitas budaya Sumatera Barat.

Baca Juga
Perkampungan di Desa Paringen
Perkampungan di Desa Paringen

Perkampungan di lereng Gunung Marapi nan sejuk ini mampu bersanding dengan keindahan Desa Wengen dari Swiss, Desa Eze dari Prancis, Niagara on The Lake di Kanada, serta Desa Cesky Krumlov dari Republik Ceko.

Kabar ini sebetulnya muncul dan dirilis seluruh media beberapa tahun silam, namun dampaknya baru terasa sekarang. Nagari Pariangan belakangan semakin banyak dikunjungi pendatang. Tak hanya turis lokal, tapi turis dari mancanegarea pun kerap mampir di sini.

Saat pelaksanaan Tour de Singkarak — event balap sepeda internasional– misalnya, Nagari Pariangan ini tak luput menjadi salah satu destinasi mereka.

Nagari Pariangan dapat ditempuh sekitar tiga jam dari Padang, Ibu Kota Propinsi Sumatera Barat. Lokasi ini berjarak sekitar 14 km dari Kota Batusangkar, Ibukota Kabupaten Tanah Datar.

Nagari Tua Pariangan
Nagari Tua Pariangan

Desa seluas 17.92 km 2 secara administratif di bawah Kecamatan Pariangan dan dihuni sekitar 6.479 jiwa. Posisi Pariangan di bawah lereng Gunung Marapi, sebuah gunung api aktif berketinggian 700 m di atas permukaan air laut, menjadikan udara di nagari cukup sejuk.

Di desa ini terdapat sebuah mesjid terbesar yang berusia ratusan tahun yang dikenal dengan Masjid Ishlah. Masjid dengan gaya arsitektur Dongson ala dataran tinggi Tibet, menggambarkan betapa majunya peradaban Minangkabau kala itu.

Di desa ini pun terdapat bangunan rumah gadang dengan dinding terbuat anyaman rotan, ukiran kayu sebagai ciri khas bangunan di Sumbar.

Rumah gadang ini di antaranya seperti Balairung Sari Tabek atau Rumah Gadang tertua di Minangkabau, Rumah Gadang Dt. Bandaro I, Rumah Gadang Dt. Rangkayo Sati, Masjid Tuo Pariangan, serta Monumen Api Porda.

Nagari Pariangan merupakan desa kuno dan sebagai cikal lahirnya sistem pemerintahan khas masyarakat Minangkabau, yang populer dengan nama nagari.

Namun, sistem pemerintahan nagari hanya bertahan sampai tahun 1980 menyusul lahirnya undang-undang tentang perubahan sistem pemerintahan tingkat bawah yang mengharuskan nagari diganti dengan sistem pemerintah desa, sebagaimana yang berkembang pada masyarakat Jawa. Namun, sejalan dengan semangat Otonomi Daerah, 1999 yang memberi peluang bagi daerah untuk mengembangkan diri secara mandiri, masyarakat Sumatra Barat pun kembali menerapkan sistem pemerintahan nagari.

Baliak ka nagari, istilah inilah kala itu populer terutama di luhak nan tigo, yaitu Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Sistem pemerintahan desa pun berganti dengan sistem pemerintahan nagari. Pariangan sebagai daerah asal Minangkabau pun berganti nama dari Desa Pariangan menjadi Nagari Pariangan.Tak hanya dikenal sebagai asal-muasal nagari, Nagari Tuo Pariangan juga dikenal sebagai asal-mula masyarakat Minangkabau.

Dalam catatan sejarah yang terekam dalam tambo Minang menunjukkan bahwa Nagari Pariangan adalah nagari asal suku Minangkabau yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai “Tampuk Tangkai Alam Minangkabau”. Artinya, nagari ini dipercaya sebagai tempat pertama munculnya kehidupan di Alam Minangkabau ratusan tahun silam. Dalam tambo diceritakan, bahwa masyarakat Minangkabau merupakan keturunan Alexander Agung. Konon, beliau memiliki tiga orang putra, yaitu Sultan Maharaja Dipang (Sutan Maharajo Dipang), Sultan Maharaja Alif (Sutan Maharjo Alif), dan Sultan Maharaja Diraja (Sutan Maharajo Dirajo).

Lalu bagaimana Nagari Pariangan bisa terpiih sebagai desa terindah di dunia? Banyak variabel yang menentukan pilihan jatuh pada Pariangan, di antaranya masyarakat dan Pemda setempat mampu mempertahankan warisan budaya leluhur mereka. Kearipan lokal mereka gunakan sebagai modal untuk mengembangkan desa yang penuh sejarah ini.

Hasilnya, Nagari Pariangan tak hanya sebagai maskot Kabupaten Tanah Datar tapi sudah kebanggaan Sumatera Barat dan kini juga menjadi kebangaan kita semua bangsa Indonesia.

Sumber : berbagai sumber

Sumber Gambar : baguskali.com

Pilih BanggaBangga82%
Pilih SedihSedih1%
Pilih SenangSenang3%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi6%
Pilih TerpukauTerpukau8%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BABAH BOIM

Social Activism|Fotografer|Writer|Berusaha Bisa memberi manfaat bagi yang lainnya. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie