Di awal tahun ini, sebagian besar wilayah Surabaya tergenang banjir. Bencana seperti ini dapat melumpuhkan kegiatan ekonomi dan membahayakan kehidupan masyarakat, terutama di kota besar dengan kepadatan penduduk yang tinggi seperti di Surabaya. Untuk meminimalisir dampak bencana, upaya berkesinambungan mulai dicanangkan. Termasuk di dalamnya dengan melengkapi data pemetaan dasar kota yang sangat diperlukan untuk pembuatan rencana kontinjensi saat terjadi bencana. Tentunya dengan tidak melupakan aspek lainnya, seperti pembangunan infrastruktur terkait, semisal pintu air, rumah pompa dan tanggul untuk mencegah luapan air saat curah hujan tinggi.

Suatu alat untuk meningkatkan kajian risiko, sistem peringatan dini dan pengambilan keputusan untuk penanggulangan bencana, InAWARE, dikembangkan oleh Pacific Disaster Centre (PDC), bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), didukung oleh data dari Peta Bencana–Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT).

Caption (Sumber Gambar)
Bertugas memetakan data infrastruktur Surabaya, HOT mulai melakukan pelatihan teknisi Data Entry (DE) dan Quality Assurance (QA) yang baru saja direkrut di kantor cabang HOT di Surabaya. Sejumlah 16 orang DE dan 4 orang QA dilatih selama tiga hari dalam menggunakan alat pemetaan, seperti Tasking Manager, Java OpenStreetMap dan OpenMapKit. Standarisasi obyek dan atribut OSM, proses pengumpulan dan validasi data jarak jauh dan di lapangan, serta mengatasi pergeseran citra dan konflik adalah sedikit dari topik yang menjadi fokus pelatihan.

Surabaya terdiri atas 31 kecamatan, masing-masing dengan jumlah kelurahan beragam, berjumlah 160 secara keseluruhan. Pendekatan pemetaan di Surabaya dilakukan dengan membagi kota ini dalam dua bagian administrasi, masing-masing terdiri atas 8 DE dan 2 QA yang bertanggungjawab atas 15-16 kecamatan. Peta berikut menunjukkan pembagian metodologi pemetaan antara Utara (15 kecamatan dan 80 kelurahan) dan Selatan (16 kecamatan dan 80 kelurahan) Surabaya.

Caption (Sumber Gambar)

Untuk bulan ini, HOT berfokus pada digitasi jejak bangunan, jalur jalan dan air di 7 kecamatan berikut, sebelum melakukan mapathon (lomba pemetaan) bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di awal bulan Nopember 2016.

1. Kecamatan Bulak [http://tasks.hotosm.org/project/2063]

2. Kecamatan Genteng [http://tasks.hotosm.org/project/2066]

3. Kecamatan Gubeng [http://tasks.hotosm.org/project/2067]

4. Kecamatan Mulyorejo [http://tasks.hotosm.org/project/2079]

5. Kecamatan Sukolilo [http://tasks.hotosm.org/project/2078]

6. Kecamatan Tambaksari [http://tasks.hotosm.org/project/2074]

7. Kecamatan Tegalsari [http://tasks.hotosm.org/project/2068]

Lebih dari 350,652 edit dan 59,133 bangunan telah ditambahkan melalui pelatihan menggunakan Tasking Manager di atas. Tasking Manager digunakan untuk membagi wilayah yang akan dipetakan menurut kecamatan serta untuk mengolah data secara strategis. Alat yang digunakan juga memungkinkan siapa saja berpartisipasi dalam pemetaan ini. Partisipasi Komunitas OpenStreetMap, terutama yang mengenal dekat lokasi yang dipetakan akan sangat membantu kesuksesan program ini, sangat diperlukan dalam pengembangan pengawasan ancaman dan sistem peringatan dini secara real-time.

Tergolong dalam program Missing Maps, data yang dikumpulkan dari proses ini adalah data yang terbuka dan gratis, dapat diakses oleh siapa saja untuk pengembangan respon krisis serta untuk tujuan inovasi pengembangan ekonomi lainnya. Kami mengundang anggota komunitas relawan OpenStreetMap untuk berkontribusi aktif menyukseskan InAWARE dan mendukung penanggulangan bencana dimulai dari Kota Surabaya, Indonesia, melalui pemetaan jarak jauh menggunakan daftar pranala Tasking Manager di atas. Bagi yang baru akan belajar memetakan pertama kali dapat melihat tutorial pemetaan untuk pemula di sini.


Sumber : openstreetmap.id, hotosm.org
Sumber Gambar Sampul : dokumentasi organisasi

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu