Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Indonesia dan 100 Tahun Kemerdekaan pada 2045

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar
Indonesia dan 100 Tahun Kemerdekaan pada 2045
Indonesia dan 100 Tahun Kemerdekaan pada 2045

Saya seringkali takjub dengan generasi muda Indonesia, dan berbagai hal yang membuncah dalam batinnya. Kemaren pagi, saya dipertemukan dengan 2 orang anak muda yang satu pesawat dengan saya, dan saya merasa beruntung sekali bertemu dengan dua orang ini. 

Yang menarik, entah bagaimana, mereka mengenali saya dan mengajak duduk bersama di penerbangan yang tak penuh itu. Awalnya saya berniat menolak secara halus (saya sangat kekurangan istirahat beberapa hari terakhir dan ingin tidur sebentar). Namun tanpa saya sangka, ada hal yang membuat saya harus menerima tawaran mereka. 

Mereka adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan thesis di salah satu perguruan tinggi di Indonesia, dan mereka ingin saya sedikit membantu mereka. Thesisnya pun berjudul luar biasa, mengenai prediksi Indonesia 30 tahun dari sekarang. 

Selama lebih dari 20 menit pertama, mereka bercerita bagaimana pendapat mereka tentang Indonesia, berbagai potensi dan tantangannya, dan kondisi negeri ini setelah 30 tahun nanti. Ulasan mereka menarik, dengan berbagai analisa yang masuk akal, dari berbagai sisi.

Baca Juga

Saya kemudian ditanya "Kira-kira, tahun 2045 nanti, Indonesia akan seperti apa ya, mas?"

...

Saya seringkali mendapat pertanyaan serupa, tahun 2045, ketika Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaannya, bagaimana rupa dan kondisi negeri ini. Dan di setiap kalinya, saya menjawab berdasar optimisme saya (yang selalu besar) pada Indonesia. 

Optimisme saya sebenarnya tumbuh dan selalu terjaga usai melihat bahwa makin banyak anak-anak muda yang, tak hanya mencintai dan membanggakan Indonesia, namun juga berbuat sesuatu untuk bangsanya. Saya bertemu dengan ribuan anak-anak muda, yang berusia di bawah saya, yang melakukan begitu banyak hal, bukan untuk dirinya, namun untuk sesuatu yang lebih besar darinya. 

Dan ini tentu bukan hal 'biasa'. Ini hal besar. 

Indonesia, yang kini didominasi oleh angkatan muda, adalah aset dan kekuatan besar, yang akan menjadi tulang punggung bagi hitam putihnya Indonesia saat 100 tahun kemerdekaan Indonesia nanti. Hitam putihnya Indonesia nanti, sepenuhnya tergantung pada apa yang anak-anak muda kita impikan saat ini. 

Dan mereka, rasanya punya mimpi yang juga besar. 

Meski begitu, banyak yang kemudian melihat berbagai tantangan yang ada, yang terlihat begitu besar dan beratnya hambatan untuk dihadapi, dan diselesaikan.

Namun, bukankah bangsa-bangsa yang kini sudah maju, dulunya juga penuh dengan rintangan dan hambatan yang..mungkin lebih berat? 

Pada tahun 1945, Jepang adalah negara yang hancur lebur secara fisik, selain kekalahan perang yang menguras semua aset negara, kota-kota yang hancur (belum lagi Hiroshima dan Nagasaki), juga jutaan anak muda terbaiknya mati atau cacat permanen karena Perang Dunia II. Hebatnya, 12 tahun kemudian, bangsa yang masih terluka karena peperangan besar tersebut mampu membangun dan mengoperasikan kereta tercepat di dunia, Shinkansen. Dan jepang pun menjadi kekuatan besar teknologi dan industri dunia. 

Shinkansen pertama Jepang | wikipedia
Shinkansen pertama Jepang | wikipedia

Hal yang sama juga terjadi di tetangga Jepang yang kini juga sangat maju, Korea Selatan. Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa Korea adalah negara yang dulunya juga compang-comping karena perang besar yang juga menghancurkan seluruh sendi bangsanya. Perang yang baru berakhir pada 1953 tersebut juga membunuh banyak orang-orang terbaik Korea. Namun, dalam waktu yang singkat Korea (Selatan) bahkan mampu meluncurkan mobilnya sendiri, yakni Hyundai Pony pada tahun 1975. Manufactur otomotif ini menjadi pemicu industrialisasi besar-besaran Korea Selatan dan kini produk-produknya begitu mendunia. 

Galangan kapal Hyundai, terbesar dunia | 3dprint.com
Galangan kapal Hyundai, terbesar dunia | 3dprint.com

China yang dulu dikenal sebagai wajah kemiskinan Asia, dalam waktu singkat mampu mengubah bangsanya menjadi negara yang maju dan besar. Dan dari laporan terakhir, negara itu sudah menjadi negara dengan ekonomi terbesar di dunia, melampaui AS dari sisi Purchase Power Parity (PPP). 

Negara-negara Asia Timur tersebut memang bisa menjadi tolok ukur bagaimana memanfaatkan bonus demografi, yang kini dianugerahkan kepada Indonesia. Keberhasilan Jepang, Korsel, dan China tak lepas dari besarnya investasi meraka di bidang infrastuktur, pendidikan, pengetahuan, dan teknologi selama masa transisi demografi, yang memungkinkan mereka berkembang dan berubah begitu cepat. Ajaib.

"Keajaiban" ini tak lepas dari peran anak muda yang begerak full speed, larger than their lives. 

Indonesia, kini sedang menikmati booming anak muda, seperti yang dinikmati Jepang era 50-an, atau Korea era 70-an, dan China di era 90-an. Sedikit perbedaannya adalah, anak-anak muda Indonesia begitu terhubung satu sama lain, yang memungkinkan mereka bergerak bersama-sama, mencapai tujuan yang sama. 

Anak-anak muda yang kian terhubung | vemale.com
Anak-anak muda yang kian terhubung | vemale.com

Dua anak muda yang saya temui di pesawat tersebut, adalah dua dari ribuan anak-anak muda yang saya temui sebelumnya, yang punya begitu banyak keinginan, kegelisahan, dan ide yang selalu siap diledakkan. Mereka ini yang akan menjadi simpul-simpul pembawa perubahan, dan menjadikan Indonesia lebih baik dari sekarang. 

Sebab itulah saya selalu optimis, bahwa 100 tahun kemerdekaan Indonesia, adalah perayaan yang membanggakan. 

(Gambar utama : walldevil.com)

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi33%
Pilih TerpukauTerpukau33%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata