Lupa Sandi?

Mengupas Wajah Lain Indonesia Bersama Wregas Bhanutedja

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Mengupas Wajah Lain Indonesia Bersama Wregas Bhanutedja

Muda dan berkarya. Wregas Bhanutedja (24) pertengahan tahun ini menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam ajang festival film terakbar di dunia, Cannes Film Festival. Tak hanya membawa karya film pendeknya yang berjudul 'Prenjak' ke sana, pulang ke tanah air, Wregas dan keempat kawannya pun berhasil membawa penghargaan film pendek terbaik dari sana.

Kini, Wregas makin gagah melangkahkan kakinya di dunia perfilman Indonesia. Impiannya di dunia ini tidak muluk-muluk. Melalui film, Wregas ingin menunjukkan wajah lain dari Indonesia kepada seluruh dunia.

Di sela-sela pelaksanaan Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2016, GNFI berkesempatan sedikit berbincang dengan sineas muda satu ini tentang wajah Indonesia dalam film.

Dalam satu artikel Wregas pernah mengatakan ingin menampilkan wajah lain Indonesia melalui film. Mengapa?

Baca Juga

Selama ini di festival-festival, terutama internasional banyak sekali film dari Asia Tenggara yang menampilkan ketradisionalan atau keeksotisan budaya-budaya mereka. Seperti Thailand misalnya, film yang ditampilkan selalu film di hutan, kalau di Indonesia cenderung yang kemiskinan dan tari-tarian Jawa. Saya bukannya nggak mau menampilkan itu cuman ke depan saya ingin menampilkan sesuatu budaya yang lebih actual.

Masyarakat Indonesia sekarang jauh berada pada peradaban yang lebih kontemporer di mana kita sudah mengenal media-media sosial. Dan kita punya banyak kesenian baru yang kontemporer. Yang tidak melulu tentang budaya. Bayangan di aku seperti Eko Nugroho, novel Eka Kurniawan, termasuk band-band Indie. Kita punya itu dan itu yang belum pernah ditunjukkan kepada dunia. Dari sini ingin menunjukkan kalau ‘we are the same country’ septi di Eropa gitu, kita bukan bangsa yang tertinggal.

Potret modern seperti apa yang ingin ditampilkan?

Potret modern sebenarnya tidak harus yang sangat futuristic, tetapi yang actual. Istilahnya adalah kini. Kalau di tahun 2016 ya harusnya segala elemen yang ada di tahun 2016. Gojek, makan di McD, sepatunya balance, tasnya, maksudnya segala elemen yang serealis mungkin yang dipakai sekarang. Jadi bukan yang futuristic, tapi yang realis apa yang saat ini ada gitu. Jadi nggak berusaha juga yang tradisional, misalnya masyarakat Jogja yang pakai blankon. Kenyataannya mana masyarakat Jogja sekarang yang pakai blankon? Tetangga saya nggak ada yang pakai.

Film-film yang seperti itu nantinya ditujukan kepada siapa?

Untuk bangsa ini dan semua orang di dunia. Karena bagi saya film itu adalah penanda zaman, di mana film itu dibuat. Kalau film itu dibuat tahun 2016, nanti di masa depan orang bisa merefleksikan ‘oh, seperti ini kehidupan di tahun 2016’. Jadi ini adalah penanda zamannya.

Dari modernitas itu bagaimana dengan nilai-nilai keindonesiaan di dalamnya?

Saya masih akan tetap memasukkannya tetapi tidak menjadi poin utama. Maksudnya itu tidak menjadi poin yang diekspos begitu dalam karena saya tumbuh besar di Jogja, tetapi saya tidak pernah hidup di tengah komunitas yang penabuh gamelan atau penari wayang orang. Jadi bisa dibilang saya nggak paham 100 persen tentang kehidupan di dalamnya. Saya nggak mau kalau itu hanya di permukaan, tapi untuk masuk ke dalamnya saya harus hidup di sana sedangkan saya tidak.

Wajah modern Indonesia menurut Wregas itu seperti apa?

Wajah modern Indonesia adalah latah, mudah terpengaruh, dan mudah sekali berganti. Jadi begitu ada satu tren di sosmed semua ikut-ikutan, begitu ada satu gossip semua membicarakannya, begitu ada satu fenomena semua ikut-ikut.

Film pendek karya Wregas, Prenjak, memenangi film pendek terbaik di ajang Festival Film Cannes 2016
Film pendek karya Wregas, Prenjak, memenangi film pendek terbaik di ajang Festival Film Cannes 2016

Bagaimana menyandingkan kedaerahan dengan modernitas?

Kebudayaan atau kedaerahan itu bukan melulu harus sesuatu yang diangkat dari batik, atau gamelan, atau tarian. Tapi budaya itu kan adalah kebiasaan yang dilakukan masyarakat berulang-ulang. Seperti di Jogja, budaya untuk salim kepada orang tua, itu kan budaya. Bagaimana orang itu mudah sungkan, di depan bilangnya enggak apa-apa tapi di baliknya dia sebenarnya nggak mau, nah itu kan budaya. Kenapa bukan hal itu saja yang di-capture? Itu juga realita kehidupan. Bagi saya justru itu yang lebih dalam.

Dari film yang sudah dibuat kebanyakan Bahasa Jawa, ke depannya menggunakan Bahasa daerah lain atau Bahasa Indonesia?

Sejauh in kemungkinan adalah masih Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, dan kemungkinan yang paling dekat lagi adalah Bali. Yang paling relevan adalah 3 bahasa itu karena saya sendiri belum terlalu memahami Bahasa daerah lain seperti padang atau Dayak karena belum pernah berada di sana dalma waktu lama. Saya nggak mau membuat itu Cuma gara-gara film itu akan menjadi unik. Saya harus tahu betul Bahasa itu dan saya merasa nyaman.

Apa yang ingin dikontribusikan kepada dunia perfilman dan khususnya Indonesia sendiri dari film?

Bahasa sinema. Saya sebagai film maker dan sebagai seniman, saya selalu memiliki keinginan untuk membuat inovasi baru dalam Bahasa penuturan sinema. Bukan melulu menuturkan sinema dalam tiga babak seperti yang Holywoon bikin gitu. Film Indonesia sekarang banyak sekali yang mnegikuti itu. Plotnya drama permasalahan di awal, ending di tengah, klimaks di akhir. Sementara banyak Negara lain seperti Filipina, Thailand, Korea mereka menggali Bahasa-bahasa sinema baru yang sesuai dengan negara mereka dan itu bisa diterima gitu. Nah, jadi saya ingin memberikan kontribusi itu pada bangsa ini

Film yang dibuat apakah memang diikutkan untuk internasional atau untuk Indonesia?

Ada beda-beda. Kalau Prenjak itu memang dibikin untuk internasional karena kalau di dalam negeri ini susah. Butuh sensor. Tapi kalau film pendek saya yang ke-3, Lemantun, itu Indonesia banget. Itu malah nggak cocok untuk di luar karena itu kehidupan yang sangat pribadi. Mungkin untuk guyonan di dalamnya itu akan susah dipahami sama orang luar. Jadi, saya pikir ini lebih baik untuk di dalam negeri aja. Jadi, ada saat di mana aku bikin untuk Indonesia dan bikin untuk dunia.

Apa rencana Wregas ke depan?

Menulis film panjang pertama saya. Jadi di bulan Desember nanti di Paris ada sebua development lab yang akan mengembangkan scenario saya. Jadi bulan Desember nanti saya akan terbang ke Paris untuk menyempurnakan scenario saya.

Bagaimana menurut Wregas UWRF berperan dalam mendukung potret-potret modernitas Indonesia?

Saya sebagai film maker ini sesuatu yang baru bagi saya karena biasanya saya ke festival film, sedangkan di sini adalah sastra. Tapi bagi saya ini penting untuk saya karena saya bisa menemukan akar dari kesenian yang saya geluti sekarang. Saya menggeluti film. Film tidak hadir begitu saja tapi punya roots, yaitu sastra dan seni rupa. Gambar dan cerita, dan yang terakhir adalah suara. Nah, aku harus tahu betul roots cerita ini dari sastra, jadi aku harus tahu.

Dan soal UWRF terhadap modernitas Indonesia, Menurut saya ini berperan sekali. Sekarang penulis-penulis kita makin punya kesadaran untuk menampilkan Indonesia di kehidupan sekarang, di masanya. Sastra juga jadi penanda zaman.

Muda Bergerak - Apalah Indonesia Tanpamu ?
Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie