Memilih Pengganti sang Macan Udara

Memilih Pengganti sang Macan Udara

Keterangan Gambar Utama © Pemilik Gambar

Saya pernah beberapa kali melihat pesawat yang berusia cukup uzur ini. Dan TNI AU pernah memiliki 16 pesawat tempur berhidung runcing dan badan ramping ini. Kini usianya sudah cukup uzur.

Mereka adalah pesawat F-5 Tiger (Macan) buatan Northrop-Grumman, Amerika Serikat. Tonggak sejarah F-5-E/F Tiger II di Indonesia dimulai ketika tanggal 21 April 1980 pesawat C-5A Galaxy yang membawa pesawat F-5E/F mendarat di Lanud Iswahjudi, Madiun. Dari mulut pesawat angkut itu keluarlah moncong pesawat F-5 yang panjang, khan, dan runcing seperti jarum. Satu per satu pesawat diturunkan. Dan akhirnya, pesawat yang dibeli dari pabrik Northrop Co, Amerika Serikat itu dijejerkan di tepi landasan. Hadirnya F-5E/F diharapkan mampu mengembalikan taring MiG-21F yang disegani era 1960-an. Karena F-5 ini menjadi salah satu macan-macan udara, tulang punggu kekuatan udara AS dalam perang Vietnam yang melelahkan itu.

Walau berbentuk panjang runcing, F-5 sejatinya lahir dari konsep pesawat tempur yang dirancang ringan, supersonik, dan relatif murah sebagaimana kebutunan negara-negara NATO dan SEATO kala itu.

Dan kini, sang Macan harus segera diganti, tentu dengan pesawat yang lebih canggih, sesuai dengan kebutuhan pertahanan udara masa kini. Dan Indonesia, setidaknya mendapatkan 3 kandididat pengganti, yakni Sukhoi SU-35 (Russia), JAS-29 Grippen (Swedia), dan Dassault Rafale. Tak ingin ketinggalan, F-16 Block 52+ Fighting Falcon (AS) dan Eurofighter Typhoon dari konsorsium Eurofighter (Jerman, Italia, Inggris, dan Spanyol) pun mencoba peruntungan.

JAS-39 Gripen | Walldevil
JAS-39 Gripen | Walldevil

Beberapa minggu terakhir ini, seolah hampir pasti Sukhoi SU-35 menjadi pengganti F-5 Tiger, dan akhirnya kabar itu mulai menguap karena terkendala permintaan transfer teknologi dari Indonesia, yang belum bisa dipenuhi pihak Russia. Dan kemudian muncullah kabar bahwa JAS-39 Grippen menawarkan sesuatu yang menarik, biaya terbang yang hanya 1/10 biaya Sukhoi SU-35, dan juga menawarkan untuk merakitnya di Indonesia.

Eurofighter juga pernah menyambangi Indonesia untuk memamerkan jet tempur Typhoon. Konsorsium Eropa ini membawa replika Typhoon ukuran asli ke hangar PT Dirgantara Indonesia, Bandung. Head of Industrial Offset Eurofighter, Martin Elbourne, bahkan berani menjanjikan perakitan Typhoon di bengkel PT DI sebagai kerja sama alih teknologi. “Indonesia akan menjadi pabrik pembuat Typhoon di luar Eropa,” kata Martin, April lalu.

Su-35 | Indian Defence News
Su-35 | Indian Defence News

Menarik. Karena sebulan sebelumnya, pesawat tempur buatan Prancis, Dessault Rafale, tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, untuk unjuk kebolehan. Dessault Rafale adalah pesawat tempur generasi 4,5 yang memiliki desain unik. "Kami ingin ganti F-5 dengan pesawat baru generasi 4,5. Rafale termasuk generasi 4,5," kata Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto, yang saat itu menjabat Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara. "Jenisnya seperti apa, Kementerian Pertahanan yang menentukan. Kami hanya minta pesawat generasi 4,5 dan punya daya gentar tinggi."

Indonesia memang mengajukan syarat khusus terhadap setiap pembelian pesawat tempur dari luar negeri, kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso. "Kalau mau jual pesawat ke Indonesia jangan cuma menjual unitnya saja, tapi perakitan akhirnya harus di Indonesia," kata dia.

Dassult Rafale | youtube.com
Dassult Rafale | youtube.com



Di Asia, adalah India, salah satu negara yang mampu menekan pabrikan sehingga komponen dan perakitannya dilakukan di negara pembeli itu. India membeli 178 unit Dassault Rafale dari Dassault Aviation (Prancis), dengan hanya 28 unit dibangun di Prancis dan sisanya di India.

Namun di balik itu, tradisi manufaktur produk teknologi tinggi dan tradisi kedirgantaraan India sudah berjalan lama secara berkesinambungan dan diakui dunia. India juga memiliki pabrikan-pabrikan pesawat terbang dan komponen pesawat terbang di negaranya.

F-16 Block 70 Viper | militaryphotos.com
F-16 Block 70 Viper | militaryphotos.com


Dengan proses perakitan di Indonesia maka peluang mempelajari teknologi pesawat dapat dilakukan secara baik, sehingga mampu mematangkan kemandirian pertahanan Indonesia. Juga untuk memudahkan perawatan dan pemeliharaan pesawat tempur itu.

Memang banyak pertimbangan, antara daya getar pesawat, dengan syarat transfer of techology (ToT), dan bahkan membangun pusat perakitan di Indonesia. Dan tak kalah pentingnya adalah, kesinambungan perawatan dan upgrade pesawat tersebut di masa depan.

Bagaimana menurut anda?

Referensi :

https://tni-au.mil.id/

https://m.tempo.co/read/news/2015/07/22/078685583/feature-mencari-pengganti-si-macan-tua/3

http://www.antaranews.com/berita/462883/komponen-pesawat-tempur-juga-harus-dibuat-di-indonesia

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi67%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Bravo! Apple akan Bangun Innovation Center di Indonesia Sebelummnya

Bravo! Apple akan Bangun Innovation Center di Indonesia

Ini Perbedaan Jalur dan Lajur, Sudah Tahu? Selanjutnya

Ini Perbedaan Jalur dan Lajur, Sudah Tahu?

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.