Lupa Sandi?

28 Peserta Program Kapal Pemuda Asia Tenggara – Jepang Pelajari Isu Diplomasi Publik dan ASEAN

SSEAYP Indonesia
SSEAYP Indonesia
0 Komentar
28 Peserta Program Kapal Pemuda Asia Tenggara – Jepang Pelajari Isu Diplomasi Publik dan ASEAN

JAKARTA, 14 Oktober 2016— Duta Besar/Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk ASEAN, Bapak Rahmat Pramono dan Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Bapak Al Busyra Basnur memberikan kuliah umum di hadapan 28 peserta Program Kapal Pemuda Asia Tenggara – Jepang (The Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program/SSEAYP) ke-43 pada Pre-Departure Training yang dilaksanakan di Pusdiklat Industri Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.

Duta Besar Rahmat Pramono membuka kuliahnya dengan topik mengenai pasar bebas dan kebijakan masyarakat ekonomi ASEAN.

"Apakah (hal tesebut) sebuah ancaman atau peluang bagi Indonesia?" Pertanyaan tersebut disampaikan Duta Besar/Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk ASEAN saat menyapa Indonesia Participating Youth 43rd SSEAYP 2016.

Ia meminta para peserta untuk mengubah pemikiran bahwa ASEAN dengan kebijakannya bukan sebagai ancaman, namun sebagai peluang. Seperti misalnya pemberlakuan ASEAN free market atau pasar bebas ASEAN. Seharusnya hal ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk meningkatkan daya saing dan kewirausahaan. Pemuda Indonesia harus melihat kebijakan-kebijakan ASEAN sebagai peluang. “Betapa tidak, Indonesia sebenarnya kekuatan ekonomi terbesar 16 dunia, dan 48 persen penduduk ASEAN merupakan masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia berharap Indonesia Participating Youth (sebutan bagi peserta SSEAYP—red.) mau berkontribusi tidak hanya selama 52 hari semasa program, tetapi juga berbagi nilai dan pengalaman kepada masyarakat di provinsi masing-masing.

Selain mempelajari isu-isu ASEAN, para peserta juga mendapatkan kuliah umum mengenai diplomasi publik yang disampaikan oleh Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Al Busyra Basnur.

Sebagai perwakilan bangsa di ajang pertukaran pemuda internasional, diplomasi publik merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh para peserta SSEAYP. Dengan menjalin persahabatan dengan masyarakat negara lain, mereka sesungguhnya telah membantu pemerintah dalam melakukan multi-track diplomacy dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam membangun hubungan kemitraan di dunia internasional. “Diplomasi Publik tidak membutuhkan modal besar, apalagi buat anak muda saat ini yang telah aktif menggunakan media sosial," jelas Al Busyra.

Selain itu beliau juga optimistis bahwa para peserta SSEAYP tahun ini dapat melakukan diplomasi publik dengan baik, pasalnya Indonesia saat ini memiliki modal utama seperti iklim demokrasi yang kondusif, Islam yang moderat, masyarakat yang pluralistik, ekonomi yang progresif, serta keanekaragaman budaya. "Saat ini toleransi sudah menjadi perekat keberagaman di Indonesia. Jelaskan semua itu kepada publik internasional dengan data, guna menepis setiap persepsi negatif yang ada,” pungkas Al Busyra.

Tahun ini, 28 peserta SSEAYP terpilih dari berbagai provinsi di Indonesia. Mereka terpilih setelah dianggap mampu menunjukkan kepemimpinan dan kepeloporan pemuda di daerah masing-masing. Selama 52 hari, mereka akan mengelilingi negara-negara Asia Tenggara dan Jepang menggunakan kapal Nippon Maru dan bertukar pikiran dengan 300 pemimpin muda dari kawasan tersebut.


Sumber : SSEAYP International Indonesia Inc.

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG SSEAYP INDONESIA

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

ARTIKEL TERKAIT

7 Selebriti Internasional Keturunan Indonesia

Good News From Indonesia2 minggu yang lalu

Inilah 7 Cara ASEAN Tahan Hadapi Bencana

Good News From Indonesia2 minggu yang lalu

7 Film Indonesia di Ajang Oscar

Good News From Indonesia3 minggu yang lalu
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata