Lupa Sandi?

Keteguhan Sang Macan Betina dari Timur, Opu Daeng Risaju

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Keteguhan Sang Macan Betina dari Timur, Opu Daeng Risaju

Suasana di Kerajaan Luwu tengah menegang. Pasalnya, sepulang dari Jawa, Opu Daeng Risaju semakin gencar menyebarkan ideologi-ideologi dari Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII) ke tanah kelahirannya. Ia melakukan pendekatan kepada sanak saudaranya di kerajaan hingga masyarakat di Palopo untuk turut ikut dalam pergerakan perjuangan PSII.

Tujuan Opu Daeng Risaju hanya satu, ia ingin membebaskan tanah dan rakyat di tempat tinggalnya dari keberingasan Belanda. Ia menyebarkan semangat merdeka itu ke seluruh lapisan masyarakat di Malangke dan Palopo. Pun usahanya ini sukses mendapat banyak simpati dari masyarakat.

Sayangnya tidak dengan orang-orang di dalam Kerajaan Luwu sendiri. Justru saudara-saudaranya di kerajaan menuduh dirinya telah menghasut masyarakat untuk membenci pemerintah. Belanda pun melihat pergerakan yang dilakukan Opu Daeng Risaju ini dapat membahayakan pemerintahan mereka di Sulawesi. Maka, Belanda mendesak kerajaan untuk menekan Opu Daeng Risaju agar menghentikan gerakannya tersebut.

“Sebenarnya tidak ada kepentingan kami mencampuri urusanmu, selain karena dalam tubuhmu mengalir darah “kedatuan,” sehingga kalau engkau diperlakukan tidak sesuai dengan martabat kebangsawananmu, kami dan para anggota Dewan Hadat pun turut terhina. Karena itu, kasihanilah kami, tinggalkanlah partaimu itu!” bujuk Datu Luwu Andi Kambo.

Baca Juga

“Kalau hanya karena adanya darah bangsawan mengalir dalam tubuhku sehingga saya harus meninggalkan partaiku dan berhenti melakukan gerakanku, irislah dadaku dan keluarkanlah darah bangsawan itu dari dalam tubuhku, supaya datu dan hadat tidak terhina kalau saya diperlakukan tidak sepantasnya,” Opu Daeng Risaju berapi-api menjawab bujukan Datu Luwu Andi Kambo.

Maka, dengan amat terpaksa lantaran desakan dari Belanda, pihak kerajaan pun mencabut gelar kebangsawanan Opu Daeng Risaju dan menjebloskannya ke dalam penjara selama 14 bulan. Menyiksanya. Merantai. Dan mengasingkannya.

***

Beberapa hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Belanda kembali datang diwakili oleh NICA
Beberapa hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Belanda kembali datang diwakili oleh NICA

Indonesia baru saja menyatakan kemerdekaan kepada seluruh nusantara dan dunia pagi itu, 17 Agustus 1945. Usai itu, kehidupan masyarakat Indonesia sedikit berubah. Tak lagi mereka dengar dentuman-dentuman bom dan peluru. Tak takut lagi mereka beraktivitas dan bercengkerama dengan sanak saudara.

Namun, belum menginjak satu tahun merdeka, lagi-lagi Indonesia kedatangan tamu tak menyenangkan. Ya, Belanda kembali lagi, hendak merebut kemerdekaan Indonesia dan masih punya mimpi menduduki seluruh wilayah Indonesia. Kedatangan Belanda diwakili oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

Di Sulawesi Selatan, pasukan NICA menggeledah rumah Opu Gawe untuk mencari senjata. Sayangnya, mereka tidak mendapatkannya dan berlanjut ke penjarahan masjid. Suasana di Palopo tiba-tiba mencekam. Mengetahui hal ini, para pemuda di Palopo pun mengeluarkan ultimatum kepada NICA untuk segera meninggalkan kota. Namun, NICA tak menghiraukannya sehingga pecahlah konflik senjata antara masyarakat Palopo dengan NICA.

Opu Daeng Risaju sudah terbebas dari penjara waktu itu. Ia kembali aktif di PSII dan masih berkobar api semangatnya itu untuk melawan para penjajah. NICA datang ke Sulawesi, ia pun mencium ancaman berbahaya ini. Segera, iapun menggerakkan para pemuda di tanah tempat tinggalnya di Beloppa untuk bersiap melakukan perlawanan terhadap tentara NICA. Perempuan berdarah bangsawan dari Kerajaan Luwu ini berada di garda depan, melawan para penjajah yang kembali.

Opu Daeng Risaju mulai aktif di oraganisasi Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII) melalui perkenalannya dengan H. Muhammad Yahya, seorang pedagang Asal Sulawesi Selatan yang pernah lama bermukim di Pulau Jawa
Opu Daeng Risaju mulai aktif di oraganisasi Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII) melalui perkenalannya dengan H. Muhammad Yahya, seorang pedagang Asal Sulawesi Selatan yang pernah lama bermukim di Pulau Jawa

Lagi-lagi Belanda dibuat geram oleh Opu Daeng Risaju. NICA ketar-ketir dengan perlawanan yang dilakukan masyarakat Sulawesi atas prakarsa Opu Daeng Risaju tersebut. Akhirnya, mereka berniat untuk meenghentikan aksi Opu Daeng Risaju dan membuat sayembara kepada siapapun yang bisa menangkan Opu Daeng Risaju akan memberikan imbalan yang cukup menggiurkan.

Sayang sekali, sayembara ala NICA itu tidak digubris oleh siapapun dan akhirnya mereka pun mencari sendiri keberadaan Opu Daeng Risaju. Mereka menemukannya di Lantoro dan menggiringnya menuju Watampone dengan berjalan kaki sejauh 40 kilometer. Ia kemudian ditahan di penjara Bone selama satu bulan tanpa diadili dan dipindahkan ke penjara Sengkan kemudian dipindahkan lagi ke Bajo.

Belum puas menekan Opu Daeng Risaju dengan cara tersebut, NICA juga menyiksa perempuan yang kala itu sudah cukup renta di distrik Bajo. Kepala distrik Bajo, Ladu Kalapita membawa Opu Daeng Risaju ke tengah lapangan dan memaksanya berdiri di sana menghadap pada matahari. Kalapita juga menembakkan peluru ke pundah Opu Daeng Risaju dan membuatnya jatuh tersungkur. Usai itu, mereka membawanya ke penjara di bawah tanah. Ia baru dibebaskan setelah 11 bulan dan akibat penyiksaan-penyiksaan tersebut, Opu Daeng Risaju menjadi tuli seumur hidupnya.

***

Opu Daeng Risaju sebenarnya adalah putri keturunan bangsawan dari Kerajaan Luwu. Namun, perjuangan kemerdekaannya ternyata ditentang oleh pihak kerajaan dan gelar kebangsawanannya pun dicabut
Opu Daeng Risaju sebenarnya adalah putri keturunan bangsawan dari Kerajaan Luwu. Namun, perjuangan kemerdekaannya ternyata ditentang oleh pihak kerajaan dan gelar kebangsawanannya pun dicabut

Opu Daeng Risaju memang tidak pernah terlibat dalam perlawanan terhadap penjajah pada 10 November 1945 di Surabaya. Jauh dari kota pahlawan itu, Opu Daeng Risaju juga tengah memperjuangkan tanah kelahirannya dari NICA.

Opu Daeng Risaju menjadi perempuan pertama yang dipenjarakan oleh Belanda karena masalah politik. Namun, berkali-kali dipenjara, disiksa, dicabut gelar kebangsawanannya, hingga bercerai dengan suaminya tidak pernah membuatnya berhenti untuk berjuang membebaskan masyarakat dari jerat cengkraman penjajah. Atas keberaniannya ini, ia pun mendapatkan julukan “macan betina dari timur”.

Perjuangan Opu Daeng Risaju memiliki dasar nilai budaya yang dipegangnya. Dalam masyarakat Sulawesi Selatan ada sistem nilai budaya yang disebut Siri’ na Pesse. Secara harfiah siri’ berarti malu. Secara kultural siri’ mengandung arti pertama, ungkapan psikis yang dilandasi perasaan malu yang dalam guna berbuat sesuatu hal yang tercela serta dilarang oleh kaidah adat. Kedua, yaitu nilai harga diri yang berarti kehormatan atau disebut martabat. Pesse merupakan padanan kata siri’. Secara harfiah pesse mengandung arti pedih atau perih meresap dalam kalbu karena melihat penderitaan orang lain. Pesse berfungsi sebagai pemersatu, penggalang solidaritas, pembersamaan serta pemuliaan humanitas (‘sipakatau).

Melihat kembali perjuangan Opu Daeng Risaju, sebenarnya ia memperjuangkan kemerdekaan sesuai dengan nilai budaya lokal yang mendasarinya, yakni pesse. Opu Daeng Risaju mewakili perasaan seluruh rakyat bahwa penjajahan Belanda telah menimbulkan kesengsaraan. Sayangnya, perjuangannya yang bernilai pesse ini tidak dihargai oleh kerajaan lantaran adanya tekanan dari Belanda. Bagi pihak kerajaan, pergerakan politik yang dilakukan Opu Daeng Risaju telah membuat keluarganya malu seperti yang dikatakan Datu Luwu Andi Kambo. Namun, Opu Daeng Risaju bersikukuh untuk tetap berjuang melawan penjajah melalui PSII. Dari situlah, Opu Daeng Risaju kemudian diusir dan dicabut gelar kebangsawanannya.

Opu Daeng Risaju menghabiskan masa tuanya di Beloppa dan Pare-pare mengikuti anaknya, Haji Abdul Kadir Daud. Ia wafat pada 10 Februari 1964 dan dimakamkan di pemakaman raja-raja Lokkoe di Palopo. Dan perjuangan Opu Daeng Risaju ini lantas menjadikannya sebagai pahlawan bangsa yang ditetapkan pada tahun 2006.

*

GNFI

Pilih BanggaBangga70%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau30%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas