Lupa Sandi?

Inilah Asal-Usul Bahasa Indonesia

Athaya P. Belia
Athaya P. Belia
0 Komentar
Inilah Asal-Usul Bahasa Indonesia

Seperti yang kita ketahui, Bahasa Melayu merupakan akar dari bahasa Indonesia. Ketika Belanda singgah di Indonesia, bahasa Melayu pun digunakan sebagai bahasa resmi kedua dalam korespondensi dengan orang lokal. Akhirnya, bahasa Melayu dan bahasa Belanda bersaing semakin ketat.

Walaupun Gubernur Jenderal Roshussen telah mengusulkan bahasa Melayu untuk menjadi bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat, ada pihak-pihak yang gigih menolak bahasa Melayu di Indonesia. Van der Chijs, seorang berkebangsaan Belanda, menyarankan supaya sekolah memfasilitasi ajaran bahasa Belanda. JH Abendanon yang merupakan Direktur Departemen Pengajaran juga berhasil memasukkan bahasa Belanda ke dalam mata pelajaran wajib di sekolah rakyat dan sekolah pendidikan guru pada 1900.

Akhirnya, persaingan bahasa ini dimenangkan oleh bahasa Melayu. Kemudian di Kongres Pemuda I tahun 1926, bahasa Melayu menjadi wacana untuk dikembangkan sebagai bahasa dan sastra Indonesia. Lalu pada Kongres Pemuda II 1928, Sumpah Pemuda mengikrakan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan Indonesia.

Sebenarnya, bahasa Indonesia ini terbentuk dari beraneka ragam bahasa asing. Pada tahun 1999, Pusat Bahasa menerbitkan buku “Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia’ dan menyatakan bahwa terdapat 10 donor bahasa Indonesia, yakni Belanda, Inggris, Arab, Sanskerta-Jawa Kuna, China, Portugis, Tamil, Parsi/Persia, dan Hindi.

Baca Juga

Bahasa Sanskerta dipercaya menjadi donor bahasa Indonesia karena telah ditemukan sebuah prasasti di Kutai (Kaltim) pada abad ke-5 menggunakan bahasa Sanskerta (Prasasti Mulawarman). Telah diperkirakan sejak abad ke-9 SM bahwa bahasa Sanskerta sudah daa di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan karena tersebarnya agama Hindu di Indonesia. Misalnya, kata Asmara dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari kata Āśrama; dan kata Sederhana merupakan serapan dari kata Sādhāraṇa.

Bahasa Arab dipercaya menjadi donor bahasa Indonesia karena Islamisasi di Nusantara, yakni Arab. Conto dari Bahasa Arab adalah Akal merupakan serapan dari ʿaql dan kata Kabar merupakan serapan dari kata Khabar. Ketiga, Bahasa Parsi, bahasa yang berasal dari kawasan yang sekarang disebut Iran dan sekitarnya. Contoh dari kata bahasa Parsi adalah Anggur dari kata Angūr.

Selanjutnya adalah Bahasa Hindi, bahasa resmi kedua di rumahnya sendiri, India. Contohnya adalah kata Ayah yang berasal dari Āyā, dan Roti dari kata Roṭī. Kelima, Bahasa Tamil. Bahasa ini berasal dari India Selatan dan dikategorikan rumpun Dravida dan telah bersinggungan dengan bahasa Melayu. Bahasa ini juga digunakan di Negara Jiran seperti Malaysia dan Singapura. Contohnya adalah kata Andai berasal dari kata Aṇṭai dan Keledai dari kata Kaṭalai.

Keenam adalah Bahasa Cina. Bukti awal eksistensinya adalah adanya prasasti Jawa Kuno (abad ke-10). Bahasa Cina yang berkunjung ke Nusantara pun diambil dari dialek Hokyan. Kata-kata yang merupakan diambel dari Bahasa Cina contohnya adalah Apa dari 阿爸 a pà, Angpau, Bakso, dan Bakwan. Selanjutnya adalah Bahasa Portugis. Bangsa Portugis masuk ke Melaka dan timur Nusantara untuk berdagang. Contoh dari bahasa serapannya adalah Bendera dari kata Bandeira, Boneka dari kata Boneca, Algojo dari kata Algoz.

Selanjutnya adalah Bahasa Belanda. Bahasa ini merupakan donor terbanyak ke dalam Bahasa Indonesia namun tidak menjadikan bahasa itu sebagai lingua franca, atau bahasa pergaulan karena tergeser oleh bahasa Malaysia. Beberapa kata Bahasa Indonesia dari bahasa Belanda yakni Aktivitas dari kata Activitiet, Bando dari kata Bandeau, Harmonis dari kata Harmonisch, Losmen dari kata Logement dan kata Indekos dari kata in de kost. Lalu, bahasa Inggris. Contohnya adalah kata Analisis dari Analysis, Bisnis dari kata Business, dan sebagainya.

Terakhir adalah bahasa Jepang. Bahasa ini sudah masuk Nusantara sejak tahun 1942. Di antara yang tetap bertahan muncul di KBBI edisi ke-IV adalah keibodan, kamikaze, dan jibaku. Selain itu, ada pula kata Kimono.

Sumber : berbagai sumber

Pilih BanggaBangga14%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi42%
Pilih TerpukauTerpukau19%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ATHAYA P. BELIA

Menulis untuk mengingat dan diingat. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie