Lupa Sandi?

Ketika Takbir dan Pekik Merdeka Si Bung Menggema

Irfantoni Listiyawan
Irfantoni Listiyawan
0 Komentar
Ketika Takbir dan Pekik Merdeka Si Bung Menggema

Radio Pemberontakan tak henti menyalak menjelang peristiwa yang kelak dikenal dengan Hari Pahlawan. Suara menggelegar Sutomo terus mengobarkan semangat juang Arek-Arek Suroboyo. Semua orang seolah tak ingin melewatkan orasi Sutomo yang dikumandangkan hampir setiap hari sejak pukul setengah enam sore. Tiang pengeras suara yang tersebar di penjuru kota Surabaya pun semakin ramai dipenuhi orang-orang yang ingin mendengar orasi Si Bung.

Sutomo cemas akan kondisi Surabaya kala itu. Kecemasannya bermula ketika dia berkunjung ke Jakarta satu bulan sebelumnya. Dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan pasukan Sekutu bebas membikin malu pasukan Indonesia. Bendera Belanda masih berkibar di sudut-sudut kota. Dia semakin cemas apabila hal seperti ini menyebar ke Surabaya. Untuk mengobati kecemasannya dan menjaga semangat juang rakyat agar tetap berkobar, agitasi dan propaganda menjadi satu pilihan. Maka dimulailah orasi Sutomo di Radio Pemberontakan.

Saat pertama kali berorasi, Si Bung nampak grogi. Dengan diawali Basmallah, perlahan dia mulai membuka suara dengan lantang. Kenangan bersama sang kakek saat pertama kali mendengar pidato di Gedung Nasional Indonesia Surabaya tahun 1930-an membayanginya kala dia berorasi. Dan saat itulah dia dengan suara lantang mengobarkan semangat ala Soekarno.

Orasi Sutomo semakin menjadi tatkala Inggris menyebarkan selebaran ultimatum agar warga Surabaya menyerah dengan tangan terangkat paling lambat pagi tanggal 10 November 1945. Si Bung seperti disulut api, berorasi mengajak semua rakyat untuk angkat senjata. Tukang becak, penjual soto, penjual es, dan seluruh Arek-Arek Suroboyo pun semakin berapi-api semangat juangnya mendengar orasi Si Bung pada tanggal 9 November 1945.

Baca Juga

Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih, merah putih, maka selama itu, tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga....
Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar...Merdeka !!.

Radio Pemberontakan pun menyiarkan orasi Sutomo ke berbagai kota, Malang, Solo, dan Yogyakarta. Bahkan banyak para pemuda dari Bekasi berdatangan ke Surabaya untuk memperoleh senjata. Mengingat Arek-Arek Suroboyo sebelumnya memperoleh 60 ribu pucuk senjata hasil rampasan dari gudang Jepang.

Takbir, Orasi dan Petuah Sang Kiai

Takbir selalu melekat didalam pidato dan orasi Bung Tomo. Ini tidak lepas dari pengaruh Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh para ulama sebulan sebelumnya, 22 Oktober 1945. Bung Tomo juga dikenal dekat dengan tokoh sentral ulama NU seperti KH.Hasyim Asyari. Dia kerap berkunjung ke kediaman Sang Kiai untuk mendapatkan kekuatan spiritual dan keteguhan imannya saat berjuang. Dari hasil kunjungannya kepada Sang Kiai, Si Bung pun mendapat wirid atau petuah. Petuah tersebut adalah untuk selalu mengucap takbir di awal pembuka dan penutup orasi. Hal ini bertujuan agar senantiasa mendapatkan perlindungan Tuhan saat di medan pertempuran.

Bung Tomo menyadari betapa pentingnya resolusi Jihad dan peran serta kaum ulama serta santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dia tak henti-hentinya menggelorakan semangat jihad tersebut lewat teriakan Takbirnya yang menggema. Bahkan, saat serdadu Inggris membombardir Surabaya pada 10 November 1945 suara orasi Si Bung dengan Takbir dan pekik merdekanya terus menggelora di radio dan pengeras suara.

Darah pasti banyak mengalir. Jiwa pasti banyak melayang. Tetapi pen gorbanan kita ini tidak akan sia-sia, Saudara-saudara. Anak-anak dan cucu-cucu kita di kemudian hari Insyaallah, pasti akan menikmati hasil perjuangan kita ini...”.

Begitulah sekelumit isi pidato Si Bung di hari yang paling heroik dan bersejarah itu. Setelah 71 tahun kemudian, anak cucu negeri ini pun menikmati hasil perjuangan itu.

Refleksi

Sebagaimana dikemukakan sejarawan senior Taufik Abdullah, peristiwa 10 November 1945 harus dipahami dari konteks kesejarahan. Peristiwa ini terjadi ketika antusiasme akan kemerdekaan berada pada tingkat idealisme tertinggi. Dengan peristiwa 10 November 1945 adalah pernyataan yang keras bahwa “proklamasi kemerdekaan” sesungguhnya mewakili aspirasi bangsa. Momentum hari pahlawan, dengan kata lain adalah pengakuan bahwa sebuah negara telah sah berdiri dan karena itu haruslah dipertahankan hingga anak cucu kita mendatang.


Sumber :

- Tim Penyusun. 2016. Seri Buku Tempo, Bung Tomo : Soerabaja di Tahun 1945. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia & Tempo Publishing.

- Nasruddin Anshoriy & Djunaidi Tjakrawerdaya. 2008. Seri Satu Abad Kebangkitan Nasional : Rekam Jejak Dokter Pejuang dan Pelopor Kebangkitan Nasional. Yogyakarta : LKIS.

Pilih BanggaBangga65%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi26%
Pilih TerpukauTerpukau9%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG IRFANTONI LISTIYAWAN

Content Writer, Pegiat Sepeda Tua Komunitas Sepeda Lawas (KOMPAS) Jember - Jawa Timur, Penikmat Kajian Budaya & Sejarah ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara