Lupa Sandi?

Dari Surabaya Kita Belajar, Bangsa ini Adalah Bangsa Para Pemberani

Thomas Benmetan
Thomas Benmetan
0 Komentar
Dari Surabaya Kita Belajar, Bangsa ini Adalah Bangsa Para Pemberani

Pertempuan di Surabaya 71 tahun silam yang hingga kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan merupakan salah satu peristiwa historis terbesar sepanjang sejarah bangsa ini. Betapa tidak, selang beberapa bulan proklamasi kemerdekaan, kaum penjajah ingin kembali mengintervensi kedaulatan negara ini secara masif, bahkan dengan menunggangi pasukan – pasukan sekutu untuk melancarkan serangan mereka. Sayang, upaya itu tidaklah berjalan dengan lancar sebab ditengah euforia kemerdekaan yang begitu berapi – api dikobarkan di seluruh penjuru negeri. Perlawanan Indonesia pada November 1945 merupakan perang pertama di dunia setelah Hitler ditumbangkan pada Mei 1945.

Beberapa insiden yang sangat momentum menjadi sakral hingga saat ini dan selalu identik dengan peringatan akan perjuangan para pahlawan dalam pertempuran mati – matian yang menewaskan dua orang jenderal Inggris pada saat itu. Penyobekan bendera Belanda di atap Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit), Pidato Bung Tomo yang berapi – api hingga kronologi tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby yang sangat dramatis pun menjadi bumbu dari sikap patriotik para pejuang saat itu.

Peristiwa di atap Hotel Yamato menjadi saksi deklarasi nasionalisme oleh arek – arek suroboyo. Belanda digebuk habis – habisan, lalu beberapa orang pemuda naik ke atas atap Yamato dan merobek warna biru bendera Belanda, sementara warna merah dan putih dikibarkan sebagai bendera Indonesia. Sekejap rakyat Surabaya langsung terdiam. Indonesia raya berkumandang dengan suara yang gemetar. Hari itu, rakyat Indonesia menunjukkan taringnya sebagai negara yang merdeka.  

(sumber : wikimedia.org)
(sumber : wikimedia.org)

Ultimatum kepada masyarakat Surabaya untuk menyerahkan senjata sampai tanggal 10 November 1945 tidak diambil pusing, sebab para pejuang lebih memilih untuk mengokang senjata dan bertarung hingga titik darah penghabisan. Merdeka atau mati, demikian semboyan yang kerap dikumandangkan. Lewat pidato Bung Tomo yang berapi – api, sinyal perang digulirkan.

Baca Juga

Para pemuda membangun benteng – benteng, menjalin kawat berduri hingga bersembunyi di jendela – jendela toko, tanda siap tempur. “Kita tidak mau dijajah kembali, merdeka…!!” demikian pernyataan yang diteriakkan oleh Gubernur Surjo di depan beberapa tokoh pemuda.  

Surabaya menjadi bombardir serangan dari darat, laut dan udara. Inggris merasa mereka berada di atas angin, namun watak orang Surabaya bukanlah seperti yang mereka duga. Pasukan rakyat yang walaupun dengan senjata seadanya tetap bertahan dengan kobaran semangat yang membara, melawan hingga titik darah penghabisan. Brigadir Jenderal Mallaby tewas di dalam mobilnya, begitu pula Brigadir Jenderal Robert Guy Loder Symonds yang tewas ketika melakukan patroli udara. Ini merupakan suatu peristiwa menohok bagi Inggris, dimana mereka kehilangan dua jenderal besarnya.

Pasukan rakyat tidak hanya dari Surabaya. Bala bantuan muncul dimana – mana, mulai dari Aceh, Medan, Bali, Mataram siap turun menggempur sekutu. Pertempuran ini tercatat sebagai salah satu yang paling brutal dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Dengan senjata seadanya mereka berjuang, menyingsingkan lengan baju dengan satu semboyan yang sama, merdeka atau mati. Kedaulatan Indonesia ditegakkan hingga titik darah penghabisan. Di akhir pertempuran selama berhari – hari, belasan ribu pasukan Indonesia meregang nyawa, menjadi korban perang demi tegaknya kedaulatan bangsa.

Perjuangan, bukti sebuah keberanian yang patut kita kenang (sumber : bianglalahayat.blogspot.com)
Perjuangan, bukti sebuah keberanian yang patut kita kenang (sumber : bianglalahayat.blogspot.com)

Kita bisa melihat bahwa perjuangan para pahlawan pada saat itu bukanlah sesuatu yang main – main. Semangat kemerdekaan yang terpatri di dalam diri membuat mereka mampu untuk menggoncangkan sebuah perlawanan yang sangat besar. Tidak semua dari mereka merupakan anggota militer. Tidak semua dari mereka pernah memegang senjata dan bertarung di medan perang. Namun semangat mereka patut diperhitungkan. Keberanian mereka menjadi landasan betapa kuatnya sebuah bangsa apabila rakyatnya bersatu dalam semangat yang sama.

Bangsa ini terlahir dari sebuah keberanian. Kita harus mengakui itu. Para pejuang yang telah menumpahkan darahnya untuk kedaulatan negeri ini bukanlah mereka yang menginginkan kematian secara sia – sia. Mereka telah menetapkan sebuah standar yang hakiki bahwa pemberani adalah sebuah kata yang sanggup menggambarkan kepribadian Indonesia sebagai sebuah bangsa. Keterbatasan yang bukanlah penghalang terbesar, sejauh api semangat masih berkobar di dalam dada. Mereka telah pergi dan menjadi pahlawan, sekarang tugas kita menjalankan makna keberanian dari sebuah perjuangan.



Pilih BanggaBangga90%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi10%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG THOMAS BENMETAN

A Fulltime life-learner who lost himself into book, poem, Adventure, travelling, hiking, and social working. Graduated from Faculty of Communication Science, Petra Christian University. Currently pur ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie