PT Dirgantara Indonesia terus berupaya memenuhi kebutuhan pesawat di dalam negeri. Perusahaan plat merah itu belum lama ini (Selasa, 15/11) melakukan serah terima helikopter yang didesain khusus untuk Badan SAR Nasional (Basarnas). Dua helikopter yang termasuk dalam kelas medium seri AS465 N3+ Dauphin melengkapi dua lainnya yang pernah diserahterimakan pada Februari 2014 silam.

Direktur Utama (Dirut) PTDI Budi Santoso patut berbangga karena mendapat kepercayaan dari Basarnas yang melakukan repeat order helikopter bercat oranye khas Basarnas. Dauphin memang didesain sesuai standar SAR dan coast guard dengan total 170 helikopter Dauphin yang digunakan di seluruh dunia. Termasuk yang digunakan US Coast Guard.

Helikopter itu dilengkapi dengan hoist untuk menarik/mengevakuasi korban pada sisi pintu kanan. Helikopter ini juga dilengkapi radar cuaca, serta dilengkapi forward looking infrared camera (FLIR) untuk mendukung operasional pada segala medan dan kondisi.

“Helikopter ini merupakan produk kerja sama antara kami dengan Airbus Helicopters, Perancis,” kata Budi di sela-sela penyerahan dua helikopter Dauphin kepada Basarnas yang berlangsung di Hanggar helikopter PTDI Jalan Pajajaran, Kota Bandung.

Masih lekat dalam ingatan bagaimana jajaran Basarnas sukses dalam pencarian korban kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501. Salah satu bintang dalam misi evakuasi tersebut yaitu helikopter berwarna oranye jenis AS365 N3+ Dauphin yang ikut diturunkan dalam misi SAR Air Asia QZ8501, merupakan helikopter yang telah diserahkan pada tahun 2014 yang lalu.

Terdapat sejumlah keunggulan Helikopter SAR Medium Class AS365 N3+ Dauphin di antaranya mampu terbang di lingkungan panas ataupun lembab serta mampu bermanuver. Memiliki sistem auto pilot terbaik dan merupakan satu-satunya sistem autopilot yang dikembangkan untuk Helikopter yang lebih berfokus pada ketinggian bukan kecepatan.

Helikopter SAR dengan kemampuan terbaik karena dilengkapi teknologi FMS (Flight Management System), instrumen yang digunakan pilot untuk mengatur rencana terbang (Flight Plan) meliputi jalur yang akan dilewati pesawat, kecepatan saat take-off, cruising, dan landing, serta informasi lainnya yang harus disiapkan sebelum penerbangan dimulai yang tentunya akan menambah pengalaman SAR.

Dauphin juga merupakan helikopter yang dapat lepas landas di atas kapal laut, yang telah terbukti mampu lepas landas di atas Sigma Class Ship, yaitu kapal patroli dengan kemampuan untuk mengarungi samudera untuk patroli maritim Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), pencarian dan penyelamatan (SAR) dan anti kapal selam.

Dari sisi biaya operasional, relatif rendah dibandingkan dengan helikopter di kelasnya. Serta dukungan layanan purna jual oleh PTDI (dalam kemitraan dengan Airbus Helicopter), memberikan respon yang lebih cepat untuk dukungan Teknis dan Logistik.

Secara kapasitas, Dauphin mampu mengangkut beban hingga 4.300 kg atau 12 orang dengan kecepatan maksimal 269km/jam dengan ketahanan terbang mencapai 4,3 jam. Kabin yang ada di dalamnya pun terbilang lapang dengan pintu geser lebar cocok untuk mengangkut dan mengevakuasi korban.

Terakhir, helikopter rakitan anak bangsa ini memiliki Fenestron atau rotor belakang dalam sirip tertutup yang senyap, dengan jarak blade/pisau yang tidak sama dan dapat meredam tingkat kebisingan, efisiensi tinggi, kemudahan pemeliharaan serta telah teruji.


Sumber : Koran Sindo & PTDI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu