"Kok iduik tambah sangsaro, eloklah rantau dipajauah", pepatah Minang ini kira-kira berarti, "Walau tidak beruntung di tanah sendiri, tapi kita beruntung di tanah rantau." begitulah kira-kira pepatah yang tepat menggambarkan cerita anak bangsa yang banyak berprestasi di luar negeri. Liana Christiani adalah salah satu di antara mereka. 

Wanita yang akrab disapa Kak Liana ini adalah mahasiswi Indonesia yang kini sedang menempuh tahun terakhirnya di program doktoral Jurusan Hydrogen Energy System, Graduate School of Engineering, Kyushu University, Jepang. Alumni Universitas Negeri Jakarta ini berhasil menorehkan namanya sebagai juara di berbagai macam kompetisi internasional setelah sebelumnya sudah berjuang mengikuti ajang-ajang serupa ketika beliau masih kuliah di tingkat S1, di Jakarta. Namun begitu, kegagalannya di masa lalu kini telah terbayar lunas sejak Liana menginjakkan kakinya di Jepang untuk menempuh pendidikan S2 dan S3.  

Sejak saat itu, hampir setiap tahun Liana berhasil memenangkan berbagai kompetisi tingkat nasional dan internasional. Beberapa prestasi yang telah diraihnya antara lain adalah Grand Prize Winner Hydrogen Student Design Contest, Washington, USA (2013); Young Scientist Poster Award, International Polymer Conference, Tsukuba, Japan (2014); Runner Up Winner, Perstop Open Innovation Challenge, Malmo, Sweden (2016); dan First Winner, Falling Walls Lab Indonesia, Jakarta, Indonesia (2016). 

Dari kiri,
Liana Christiani (dua dari kiri) bersama rekan-rekannya di Jerman ketika mengikuti Final Falling Walls Lab @2016 Liana Christiani

Bagi mahasiswa-mahasiswa yang berkuliah di Jepang, terutama mahasiswa doktor, bukan rahasia umum lagi bahwa kehidupan perkuliahan di Jepang bukanlah suatu hal yang mudah. Karakter orang Jepang yang disiplin, cepat, dan suka bekerja ini mau tidak mau membuat para mahasiswa harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mendapatkan gelar master atau doktor. Maka dari itu, keberhasilan Liana berprestasi hampir setiap tahun ini membuat lidah orang-orang berdecak kagum akan kemampuannya mengatur waktu.

Selain melakukan penelitian dan mengikuti kompetisi, wanita kelahiran Jakarta ini juga aktif dalam kegiatan-kegiatan Perhimpunan Pelajar Indonesia Fukuoka (PPIF) serta aktif mengajar mengaji untuk anak-anak di Masjid Fukuoka.

Dengan segudang kegiatan yang ada, Liana pun mengaku bahwa Ia pun merasa kesulitan mengatur waktu. Baginya, Ia tidak punya trik khusus untuk mengatur waktu. "Tidak ada trik kerja khusus, cuma yang paling penting itu kedekatkan sama Allah," ujarnya.

Ketika diwawancara oleh Kawan GNFI tentang trik khusus memenangkan lomba, Ia  pun berujar bahwa ide yang unik itu penting dan ide tersebut akan bisa didapat dengan cara banyak membaca. Selain itu, kemampuan dalam menuliskan ide dalam bahasa Inggris pun tidak kalah pentingnya. Untuk itu, beliau menyarankan agar kita belajar menulis ide dalam bahasa Inggris dengan gaya academic writing yang bagus. Sedangkan untuk kompetisi yang bergaya presentasi, ia menyarankan untuk banyak-banyak berlatih 'menjual ide' dalam bahasa Inggris. "Setelah itu, menang atau kalah ya semuanya dikembalikan ke Allah," begitu tambahnya.

Kini, Liana fokus melakukan riset mengenai energi hidrogen untuk disertasi doktornya. Topik yang beliau angkat adalah tentang pembuatan salah satu komponen fuel cell yaitu polyelectrolyte membrane yang merupakan jantung dari fuel cell. "(Komponen) ini harus mudah dilewati proton, tapi tidak mudah dilewati elektron," ujarnya menjelaskan.

Menurutnya, teknologi hidrogen ini termasuk teknologi yang diunggulkan di antara teknologi energi terbarukan yang lain karena selain sumbernya terbarukan, tingkat efisiensinya adalah yang tertinggi. Jepang sebagai negara maju yang tidak memiliki banyak sumber daya alam, telah memperketat penggunaan nuklir sebagai sumber energi setelah tsunami Tohoku terjadi yang mengakibatkan kecelakan pembangkit tenaga nuklir di Fukushima. Karenanya, saat ini Jepang mulai fokus ke pengembangan hidrogen sebagai sumber energi. 

"Topik ini menarik, karena saya bisa belajar sintesa kimia polimer sekaligus belajar menjadi insinyur energi terbarukan," katanya.

Terkait dengan manfaat penelitian ini untuk Indonesia, Liana berpendapat bahwa untuk memanfaatkan teknologi ini, Indonesia harus punya ilmu tentang teknologi tingkat tinggi dalam bidang energi terbarukan. Maka dari itu, Ia menyarankan agar anak-anak muda Indonesia terus semangat belajar agar segera mencapai ke tahap tersebut untuk kepentingan nusa dan bangsa.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu