Dunia perfilman Indonesia sudah sangat maju dan berkembang. Buktinya sudah banyak karya film anak bangsa yang diapresiasi oleh dunia, bahkan ada yang mendapatkan peghargaan, hal itu merupakan prestasi yang membanggakan.

Pertengahan bulan November ini, diadakan Indonesian Film Festival di Belanda. Festival yang masih terbilang baru ini, memasuki tahun kedua dalam penyelenggaraanya. Acara ini digelar untuk memperkenalkan kultur sinema Indonesia beserta sejarah, pertumbuhan, tantangan dan perkembangannya.

Tema yang diangkat dalam Indonesian Film Festival yaitu “Contemporary Indonesia - Cinema of Riri Riza”. Festival ini juga menandai 15 tahun karir Riri Riza di dunia perfilman. Film yang diputar  adalah karya - karya terbaik Riri seperti “Ada Apa Dengan Cinta 2”, “Atambua 390C” dan “Athirah”.

Indonesia Film Festival digelar oleh Kedutaan Republik Indonesia di Den Haag, bekerjasama dengan Rumah Budaya Indonesia, MAta Hari Media, Jakpro, Cikarang Listrindo, Blanco Coffe Yogya dan didukung Miles Films. Selain Riri Riza ada juga Nicolas Saputra dan Sissy Priscillia.

Riri Riza, Nicolas Saputra dan Sissy Priscillia saat konferensi pers (KBRI Den Haag)
Riri Riza, Nicolas Saputra dan Sissy Priscillia saat konferensi pers (KBRI Den Haag)

Persiapan festival ini menghabiskan waktu setahun. Sehingga Riri yang mulai dikenal dari film “Petualangan Sherina” ini bisa memunculkan karya terbarunya “Athitah”. Film terbarunya meraih penghargaan Piala Citra 2016 sebagai film terbaik.

Riri terlibat dari awal persiapannya, dari format sampai proses pemilihan film serta penyusunan progam. Riri mengatakan sebagai pembuat film, kegitan sepeti ini sangat menarik untuk refleksi karya dan sangat bermanfaat bagi promosi film Indonesia tentunya.

Indonesian Film Festival dibuka oleh Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Den Haag, Ibnu Wahyutomo. Ibnu mengatakan bahwa acara seperti ini digelar untuk mengenalkan situasi Indonesia terkini. Generasi sekarang di Indonesia tidak hanya terampil dalam memainkan angklung atau gamelan. Akan tetapi sudah berkembang dalam pembuatan film.

Lewat film yang dipertontonkam ke publik Belanda. Hal itu bisa mengenalkan kepada masyarakat Belanda bahwa Indonesia mempunyai wajah baru soal masyarakat kontemporer. Film yang diputar merupakan bentuk promosi yang baik untuk melihat kultur dan alam Indonesia. Karena dalam film Riri seperti “Ada Apa Dengan Cinta 2” melihatkan keindahan Yogyakarta dan film “Atamba 39C” juga menyuguhkan keindahan alam dan kultur Indonesia Timur di Nusa Tenggara Timur.

Suasana acara Indonesian Film Fesatival (KBRI Den Haag)
Suasana acara Indonesian Film Fesatival (KBRI Den Haag)

Utrecht yang menjadi kota diselenggarakan festival ini dianggap sangat cocok. Menurut Josscy Vallazza Aartsen Utrecht adalah kota pelajar dan banyak universitas besar, selain itu ada HKU School of Arts. Jadi apresiasi lingungan sekitar bisa dibilang tinggi dan penyelenggaraan festival ini diharapkan menarik minat para mahasiswa.


Sumber : Tempo.co

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu