Lupa Sandi?

Inilah Cara agar Diakui Sebagai Pria Dewasa di Nias

Fairuz Rana Ulfah
Fairuz Rana Ulfah
0 Komentar
Inilah Cara agar Diakui Sebagai Pria Dewasa di Nias

Bagaimana cara memutuskan bahwa seorang pemuda sudah dianggap sabagi pria? Di berbagai daerah di Indonesia, biasanya seorang pemuda otomatis dianggap dewasa jika sudah mencapai umur tertentu. Namun kenyataannya tidak semua pemuda dapat dengan mudah mendapat pengakuan sebagai pria.

Di Nias Sumatera Utara misalnya, seorang pemuda harus berhasil melewati tradisi Hombo Batu/ Fahombo yang juga terkenal dengan sebutan tradisi lompat batu. Tradisi ini merupakan adat yang masih dijaga dan dipelihara oleh masyarakat Nias. Tradisi lompat batu ini memiliki makna mendalam bagi para pemuda Nias. Tradisi ini pertama kali dimulai dari perang antar-suku yang kerap terjadi di Nias pada masa lalu. Konon,saat itu kerajaan-kerajaan di Nias memiliki pagar dari bambu untuk melindungi wilayahnya. Berangkat dari kondisi itulah, para prajurit di Nias harus bisa meloncati batu agar dapar menembus pagar-pagar tersebut dengan mudah.

Tarian Perang Nias, Sumber: print.kompas.com
Tarian Perang Nias, Sumber: print.kompas.com

Seiring berjalannya waktu, makna dari tradisi ini mengalami pergeseran yang lebih luas. Dari syarat menjadi seorang prajurit, tradisi ini menjelma menjadi syarat menjadi seorang pria dewasa. Dengan kata lain, seorang pemuda belum dianggap laki-laki jika belum berhasil lompat batu. Tradisi ini hanya berlaku bagi anak laki-laki namun tidak bagi anak perempuan karena untuk berhasil melewati tradisi ini tidaklah mudah, pemuda-pemuda Nias mulai menyiapkan dirinya sejak kecil.

Cedera adalah hal yang lumrah terjadi ketika menjalankan tradisi, mulai dari patah tangan, patah kaki, patah tulang rusuk, bahkan cedera kepala akibat terbentur dengan batu. Oleh karena itu, butuh persiapan yang lama untuk berhasil karena tidak semua pemuda bisa menjalankan tradisi ini. Misalnya saja Nicholaus yang juga warga Bawomataluo. Diusianya yang ke-29 ia sudah tidak bisa lagi lompat batu. Hal ini dikarenakan kondisi fisik Nicholaus tidak lagi sekuat seperti saat ia pertama kali melakukan tradisi ini pada usianya yang ke-21 tahun.

Anak laki-laki Nias sedang berlatih lompat batu, sumber:metro.co.uk
Anak laki-laki Nias sedang berlatih lompat batu, sumber:metro.co.uk

Lalu bagaimana caranya tradisi ini dijalankan? Sesuai dengan sejarahnya, pemuda yang melakukan lompat batu menggenakan pakaian prajurit. Deretan pemuda ini berbaris dan mengambil ancang-ancang dengan jarak yang tidak begitu jauh sekitar 5-6 meter. Kemudian secara bergiliran mereka akan berlari kencang dan menginjak sebongkah batu kecil. Pijakan ini memberikan daya dorong hingga tubuh melayang ke udara melewati batu besar dengan tinggi lebih dari 2 meter. Ketika melayang, tubuh mereka tidak boleh menyentuh permukaan batu sedikit pun. Karena itu lah, para pelompat harus dapat memperkirakan dengan tepat antara kecepatan berlari, kekuatan berpijak, hingga melayang ke udara. Karena jika mereka gagal, ada sederet resiko yang harus dihadapi.

Meskipun telah berlatih selama bertahun-tahun tidak semua pemuda berhasil melewati ujian ini. Hanya pemuda-pemuda terpilih dan memiliki fisik yang kuat yang berhasil. Bahkan jika dikaitkan dengan tradisi masa lampau, hanya mereka yang mendapat restu dari roh nenek moyang serta memiliki kesaktian yang berhasil menjadi pelompat batu.

Tradisi unik ini kini menjadi salah satu atraksi wisata andalan di Nias. Jangan heran jika ada yang mengatakan tidak sah ke Nias kalau belum menonton lompat batu. Sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi lompat batu suku Nias, pemerintah mengabadikan tradisi ini dalam bentuk uang berupa pecahan 1000 yang dikeluarkan pada tahun 1992.

Uang pecahan Rp 1000 yang mengabdikan tradisi lompat batu, Sumber: 5.	2.bp.blogspot.com
Uang pecahan Rp 1000 yang mengabdikan tradisi lompat batu, Sumber: .2.bp.blogspot.com

Sayangnya tidak semua tempat di Nias ternyata mempertahankan tradisi ini. Tapi jangan khawatir, kita masih bisa menemukan tradisi lompat batu di Desa Adat Bawomataluo. Bahkan dalam tiga tahun terakhir, pemerintah sedang giat-giatnya mempromosikan desa adat dan tradisi ini ke dunia. Terbukti dengan ditetapkannya Desa Bawomataluo sebagai Cagar Budaya Nasional. Penetapan ini merupakan jalan bagi Desa Bawomataluo untuk diakui sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO. Diharapkan pada akhir tahun ini desa yang dikenal sebagai desa megalitikum ini dapat menjadi Warisan Dunia oleh UNESCO sekaligus menambah daftar kebudayaan Indonesia yang diakui oleh dunia.


Sumber :

ranah.id

liputan6.com

travel.detik.com

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang8%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau25%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FAIRUZ RANA ULFAH

Penikmat alam, kopi, sastra. Sedang tertarik dengan isu-isu kelas, gender, lingkungan. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata