Waktu itu, September 2015, Hany Koesumawardani bersama para jurnalis Indonesia dan seorang food blogger asal Indonesia yang sudah 10 tahun tinggal di Sydney, Ardi Pradana berjalan-jalan ke kawasan ANZAC Parade. Bukan tanpa alasan mereka kesini karena di jalan di kawasan Sydney ini terdapat banyak restoran yang menyajikan menu masakan khas Indonesia. Tentu ini menjadi rujukan pelipur lara bagi orang-orang Indonesia di AUstralia yang rindu pada masakan nusantara.

"Jalan ini restoran Indonesia ada 10-an. Ada Fajar Restaurant, Ayam Goreng, Penang Bistro, Indo Rasa, Sedap Rasa, Ubud yang fine dining, Pempek Palembang Clovelly, nasi padang. Ada beberapa lagi yang punya orang Indonesia seperti yang buka restoran Jepang," tutur Ardi seperti yang dituliskan Hany dalam artikelnya di Radio Australia.

Menurut Ardi mengapa di kawasan ini banyak restoran Indonesia mungkin karena banyak mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di University of New South Wales (UNSW). Selain itu ada Konsulat di Maroubra, rumah Konjen di Rose Bay.

Kawasan Victoria Street selalu ramai dilalui oleh para turis (Foto: viator.com)
Kawasan Victoria Street selalu ramai dilalui oleh para turis (Foto: viator.com)

Menjamurnya restoran Indonesia di Australia juga terjadi di Kota Melbourne. Sekitar enam tahun lalu restoran Indonesia di kawasan pusat Kota Melbourne bisa dihitung dengan jari. Namun, berdasarkan laporan dari Australia Plus, hingga 2016 kemarin jumlah restoran di kawasan yang sering disebut 'Melbourne CBC (Central Business District) sudah mencapai hampir sepuluh restoran.

Sebut saja kawasan Elizabeth Street, yang dulu dengan mudahnya bisa ditemukan restoran Jepang, China, Vietnam, Korea, tapi tak ada restoran Indonesia. Padahal jalan ini termasuk yang paling sering dilewati turis yang berkunjung ke pasar paling terkenal di Melbourne, yakni Queen Victoria Market, yang berada di ujung jalan Elizabeth Street dan Victoria Street.

Hal ini lantas menjadi inspirasi bagi Ian Mok, pemuda asal Kamboja dan rekannya Hani Phanggestu dari Pontianak untuk membuka restoran Indonesia di kawasan ini. Sebelumnya, keduanya sudah saling bermitra ketika Ian membuka sebuah toko roti di dekat Queen Victoria Market. Ian banyak menerima pekerja dari Indonesia dan mereka seringkali membawa makanan Indonesia.

Hani berkisah, sebenarnya Ian sudah lama ingin membuka restoran Indonesia karena ia tahu ada banyak warga Australia yang suka melancong ke Bali. Dan barulah tahun 2016 Ian dan Hani mampu mewujudkannya dengan nama restoran Pondok Rempah.

Restoran Indonesia lainnya yang baru buka adalah Fat Oma, terletak di Swanston Street, dikenal sebagai jalan utama di pusat kota Melbourne. Menurut pihak manajemennya, restoran ini lebih mengedepankan jiwa muda, dengan desain modern agar konsumennya nyaman untuk 'nongkrong'. Nama restoran sengaja tidak memiliki unsur Indonesianya, agar lebih menarik perhatian konsumen.

"Dengan semakin banyaknya restoran Indonesia di Melbourne, justru sangat bagus sekali. Karena dengan begitu kita bisa bersama-sama memperkenalkan kuliner Indonesia yang nantinya dapat menarik banyak turis untuk datang ke Indonesia kedepannya," ujar manajemen Fat Oma.

Populer dan Jadi Favorit Warga Setempat

 

Restoran Indonesia yang juga bisa ditemukan di kawasan pusat kota Melbourne lainnya adalah restoran Nelayan, yang sudah lama buka, Naughty Nuri's dari Bali, Sate Plus, Kedai Satay, Bali Bagus, Salero Kito, Spices Indonesian Kitchen, Es Teler 77. Beberapa diantara restoran ini baru buka kurang dari tiga tahun lalu. Ada pula beberapa restoran Indonesia yang berada di luar pusat kota Melbourne.

Menurut Hani, saat ini makanan Indonesia bisa dibilang cukup populer di Australia. Hal ini karena semakin banyaknya orang Indonesia yang tingga di Australia, mulai dari belajar sampai yang menjadi turis. Hani pun mengungkapkan ada kemungkinan faktor lain yang membuat masakan Indonesia menjadi populer.

"Makanan Indonesia saat ini cukup populer, terlebih karena pemenang acara televisi My Kitchen Rules tahun ini adalah orang Indonesia. Ian semakin yakin jika warga Australia akan mau mencoba masakan Indonesia," jelas Hani kepada Erwin Renaldi dari ABC.

Kepopuleran itu pun nyatanya berbuah prestasi yang apik. Pada Oktober 2016 lalu, sebuah restoran Indonesi di negara bagian Queensland berhasil meraih penghargaan dari situs travel Trip Advisoe pada kategori tempat makan di Australia yang pas dengan bujet. Restoran milik pasangan Safwan dan Sri Mulyani dari Jawa Tengah menduduki peringkat pertama Top Restaurant for Budget Dining in Australia, yang dipilih oleh para pelancong dan penggemar traveling dari seluruh dunia.

Restoran bernama Bagus Cafe ini letaknya hanya kurang dari 10 menit menyetir dari bandara udara Cairns ini mengalahkan restoran-restoran ternama lainnya, seperti restoran Malaysia Mamak di Sydney dan Laksa King di Melbourne yang menyajikan makanan Singapura.

Bagus Cafe jadi restoran pilihan Trip Advisor untuk kategori tempat makan ramah bujet (Foto: australiaplus)
Bagus Cafe jadi restoran pilihan Trip Advisor untuk kategori tempat makan ramah bujet (Foto: australiaplus)

Di sini, Safwan dan istri menghidangkan makanan-makanan khas Indonesia seperti iga bakar, sate, nasi goreng, hingga ikan bakar sambal jingkrak.

Namun, membuka restoran di kawasan pantai di Australia yang di sana sangat jarang ditemukan warga Indonesia menjadi tantangan bagi Safwan dan istri. Keduanya pun berusaha untuk selalu fokus dan yakin. Safwan punya cara khusus untuk menarik hati pelanggannya, yakni ia menganggap konsumen sebagai saudaranya.

"Jadi saya tanya mereka bagaimana rasanya, selalu minta masukan," ujar Safwan.

Dan sejak awal Safwan memang sudah berkeinginan untuk membuat masakan yang banyak digemari dengan harga terjangkau. Harga makanan di Bagus Cafe berkisar $7 hingga $26 saja. Di samping itu, Safwan dan istri juga berusaha menjaga keaslian rasa dari bumbu masakan-masakan Indonesia yang dihidangkan. Ia belanja bumbu-bumbunya semua dari negara bagian Queensland yang memiliki iklim tropis seperti di Indonesia.

Pada 2015 silam, Bagus Cafe juga mendapat penghargaan karena banyaknya ulasan yang ditulis konsumen melalui Trip Advisor. Menariknya, mayoritas reviewer tersebut adalah warga lokal Australia, bahkan dari negara lain.

"Mungkin hanya 20 persen konsumen kami berasal dari Asia, terutama Indonesia dan Filipina," jelas Safwan.

Dari jaraknya, Indonesia memang negara yang paling dekat dengan Australia. Hal ini pun membuat kedua negara ini seringkali menjadi tempat bermigrasi para warganya. Berdasarkan data PPI Australia, tahun 2016 tercatat ada lebih dari 19.000 pelajar Indonesia di Australia. Dengan semakin banyaknya restoran Indonesia di Australia, seperti yang dikatakan Fat Oma, hal ini bisa menjadi motivasi bagi masyarakat Indonesia untuk memperkenalkan ragam kuliner ke luar negeri serta melestarikannya.


Sumber : australiaplus

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu