Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Mencari Muru Keba di Waturaka, Ende-NTT

Saepul Hamdi
Saepul Hamdi
0 Komentar
Mencari Muru Keba di Waturaka, Ende-NTT
Air Terjun Muru Keba © Akhyari Hananto

Selain menikmati keindahan Danau Tiga Warna di Kelimutu selama perjalanan baik dari Ende ke Kelimutu atau sebaliknya saya pun menikmati suguhan keindahan alam dan menemukan beberapa lokasi keren lainnya, salah satunya Air Terjun Muru Keba.

Saya dan teman-teman singgah di Desa Waturaka, yaitu salah satu pemukiman yang ada di kaki gunung Kelimutu, di sana terdapat Air Terjun Muru Keba yang kini keberadaannya menjadi destinasi wisata bagi siapapun yang melewati jalan utama Desa Waturaka menuju Kelimutu atau sebaliknya.

Pesawahan dan Beberapa Rumah di Desa Waturaka, Ende-NTT
Pesawahan dan Beberapa Rumah di Desa Waturaka, Ende-NTT

Ada yang unik saat kami ingin ke sana, setelah menepikan mobil yang kami tumpangi. Saya dan tiga orang lainnya yaitu Kak Tian, Kieran, dan Mas Akhyari masuk dan melewati gapura dengan tulisan "Muru Keba Waterfall", tak jauh dari gapura terdapat satu tempat yang dijadikan loket pembayaran tiket.

Sayang, saat kami di sana tidak ada seorang pun penjaganya, hingga kami menunggu beberapa saat masih belum ada yang datang. Tapi akhinya kami tetap memutuskan melanjutkan pejalanan mencari air terjun ini.

Baca Juga
Pencarian Air Terjun Dimulai
Pencarian Air Terjun Dimulai

Kami berjalan mengikuti arah jalan setapak hingga akhirnya menemukan sebuah jalan yang agak besar, tepatnya lahan yang dibuka menjadi jalan. Namun karena kami tidak melihat atau mendengar keberadaan air terjun ini sama sekali meskipun udah jalan lumayan jauh, kami sempat kebingungan juga.

Beruntungnya di pertengahan jalan kami bertemu dengan salah seorang pria di tengah kebun, kami pun menanyakan arah menuju air terjun muru keba. Ah, untung aja nanya, kalau enggak kami akan terus berjalan di jalur yang ternyata salah.

Lahan yang dibuka untuk jalan
Lahan yang dibuka untuk jalan

"Tadi sudah bayar tiketnya?" tanya pria tersebut,

"Belum pak, tadi tidak ada orang di sana" jawab salah satu dari kami,

Belakangan saya paham kenapa pria tersebut nanyain hal itu, ternyata kalau kita bayar tiket pasti kita dikasih tau jalur menuju air terjun. Kak Tian akhirnya memberi pria tersebut uang sebagai pengganti tiket yang tidak kami bayar. Menurut informasi harga tiket menuju air terjun ini hanya Rp.5000,- saja.

Tanpa pikir panjang kami pun langsung melanjutkan pencarian air terjun muru keba sesuai jalur yang ditunjukan pria tadi. setelah melewati jalan setapak lagi, kami tiba di satu padang rumput dan terdapat beberapa sapi yang sedang "ngadem" di sana.

"Lapangan Ranjau" ujar Kieran ketika melihat banyak sekali kotoran sapi di beberapa titik, hingga kami harus memperhatikan langkah demi langkah.

Santai Kayak di Pantai
Santai Kayak di Pantai

Dari padang rumput itu ternyata kami masih harus berjalan sekitar 300 meter melalui jalan setapak, hingga akhirnya kami tiba di Air Terjun Muru Keba.

Saat kami tiba air nya tidak begitu deras, tapi rupanya itu tidak jadi alasan bagi Kieran, bule asal Australia untuk nyebur dan merasakan "shower" alami itu.

Akhirnya ku menemukan mu
Akhirnya ku menemukan mu

Menurut infromasi air terjun ini belum terlalu lama dibuka sebagai tempat wisata yang dikelola, pantas saja tidak begitu ramai, eh malah waktu itu hanya kami berempat.

Namun begitu setiap harinya pasti ada saja yang datang ke air terjun ini. Mungkin jika kamu ke Kelimutu jangan lupa sempatkan juga singgah ke sini, tepatnya siap-siap berjalan ke air terjun ini sekitar 600 meter dari tepi jalan utama.

Tulisan juga dimuat di blog pribadi penulis : www.boyhavetogo.com

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG SAEPUL HAMDI

Social workers & Social media enthusiast ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara