Belajar sepanjang hayat, long life education, diterapkan Nana Sumarna dalam kehidupan sehari-harinya. Di usianya yang sudah hampir menginjak kepala lima, dosen Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari ini masih menorehkan prestasi cemerlang. Dia mampu menyelesaikan S-3 dalam waktu relatif singkat.

Dikatakan singkat karena dalam waktu tiga tahun tiga bulan pria kelahiran Kendari 13 Maret 1968 merampungkan studinya. Betapa tidak, belum ada satupun doktor atau lebih dari itu di bidang keilmuan pendidikan dasar di Indonesia. Alias dia menjadi yang mengawali lahirnya ahli di bidang pendidikan dasar di tanah air.

Prestasi suami dari Agustiani Halra itu tidak sampai di situ. Nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Nana nyaris sempurna. Dia memperoleh 3,92 dari nilai maksimum 4. Namun predikat itu tidak membuatnya jemawa. Dengan rendah hati ayah tiga anak itu mengemukakan, menjadi doktor pendidikan dasar pertama di Indonesia bukan sesuatu yang urgen.

“Menjadi doktor pendidikan dasar pertama bukan tujuan utama saya. Keahlian di bidang pendidikan dasar sangat penting. Hal ini untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks. Guru-guru SD harus dipersiapkan untuk menghadapinya,” tutur Nana selepas ujian promosi doktor yang digelar di auditorium Universitas Pendidikan Indonesia Jalan Setiabudhi, Kota Bandung, 29 Desember 2016.

Tantangan yang dimaksud di antaranya perubahan kurikulum ke kurikulum 2013 mendesak guru memiliki segudang alternatif pembelajaran agar tidak monoton. Paradigma pembelajaran yang inovatif tidak mudah ditangani individual.

“Setidaknya dengan mulai terbukanya keran doktor pendidikan dasar di Indonesia akan lebih memudahkan guru SD untuk mendapatkan alternatif pembelajaran agar semakin berkembang luas,” beber dia.

Pengalaman panjang Nana sebagai dosen sejak tahun 1994 memberikan gambaran bahwa kualitas guru sebagai garda terdepan pendidikan harus dipersiapkan sedari dini. Banyak penelitian menyebutkan betapa kualitas guru perlu pengembangan lebih lanjut.

“Hasil uji kompetensi awal dan uji kompetensi guru tahun 2012-2014 misalnya. Hanya 192 orang guru yang memiliki skor 90-100. Sementara lebih dari 1,3 juta guru memiliki skor di bawah 60,” ujarnya.

Disertasi Nana sendiri tentang pembelajaran investigasi matematik untuk meningkatkan kemampuan pemahaman matematik, berpikir kritis, kreatif dan penalaran matematis mahasiswa calon guru SD.

“Konteks disertasi saya secara khusus untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kreativitas guru SD harus dibangun untuk menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran. Sehingga ke depan lahir generasi yang punya integritas, punya kepercayaan diri dan jujur secara akademik,” paparnya.

Nana mengawal karir sebagai dosen di Prodi Pendidikan Matematika FKIP UHO. Dia menjadi PNS melalui formasi penerima beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas (TID) selama kuliah S1 di kampus yang sama.

Tidak puas dengan itu, Nana pun melanjutkan pendidikan ke jenjang magister peminatan biostatistik Universitas Airlangga dan lulus tahun 2000. Pada tahun 2011, dia dipindahkan ke prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) hingga akhirnya meneruskan studi doktoral di UPI tahun 2013 dan lulus 2016.

Sumber : wawancara pribadi

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu