Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Jatuh Hati pada Wayang, Para Bule Ini Pilih Jadi Dalang

Mutia Silviani Aflakhah
Mutia Silviani Aflakhah
0 Komentar
Jatuh Hati pada Wayang, Para Bule Ini Pilih Jadi Dalang
sumber foto: youtube.com

Siapa tak kenal wayang kulit, seni pertunjukan paling rumit yang namanya telah menggema di penjuru dunia. Dalam setiap pertunjukannya, wayang kulit dikendalikan oleh seorang dalang. Sehingga profesi dalang pun tidak bisa dianggap sepele.

Seorang dalang tentunya harus betah duduk membawakan cerita semalaman. Selain itu, ia juga harus menguasai banyak cerita, juga membahasakan wayang dengan beragam nada. Berbagai kerumitan ini terkadang menjadi alasan mengapa tidak banyak orang yang mampu dan mau menjadi seorang dalang.

Namun, wayang kulit seakan memiliki kekuatan magis tersendiri. Setiap pagelarannya mampu menghipnotis orang untuk jatuh hati pada seni pertunjukan yang telah ada sejak ribuan tahun silam ini.

Tak hanya penduduk pribumi saja yang terpikat oleh pesona wayang, pun orang asing. Para bule ini rela datang jauh dari negara asalnya untuk mempelajari seni pertunjukan wayang kulit. Bahkan, beberapa diantaranya telah mendedikasikan dirinya menjadi seorang dalang. Apresiasi luar biasa yang datang dari negara lain untuk kebudayaan Indonesia ini patut kita acungi jempol.

Baca Juga

Sosok Gaura Mancacaritadipura bersama Wakil Menteri Pendidikan Windu Nuryanti dalam sebuah seminar di Jakarta (foto: suryanto.web.id)
Sosok Gaura Mancacaritadipura bersama Wakil Menteri Pendidikan Windu Nuryanti dalam sebuah seminar di Jakarta (foto: suryanto.web.id)

Gaura Mancacaritadipura

Lelaki yang berasal dari Australia ini telah menjadi WNI sejak tahun 2004. Gaura mengaku telah jatuh cinta dengan budaya dan bangsa Indonesia.

Aktivis budaya ini telah mengenal wayang sejak tahun 1997 silam. Menunjukkan kecintaannya pada wayang, Gaura pun mempelajari segala jenis wayang dan memutuskan untuk mendalami aliran wayang Surakarta. Beragam teknik pun ia pelajari hingga dapat menguasainya dengan baik.

Gaura bahkan kerap diundang untuk tampil pada acara tertentu. Ia sering menampilkan wayang di luar negeri dengan menggunakan Bahasa Inggris. Baginya, dalam sebuah pertunjukan wayang, selain mengandung nilai-nilai adhiluhung juga dapat disisipi oleh pesan diplomasi.

Matthew Isaac Cohen kerap dipanggil Ki Matthew saat mendalang (foto: pure.royalholloway.ac.uk)
Matthew Isaac Cohen kerap dipanggil Ki Matthew saat mendalang (foto: pure.royalholloway.ac.uk)

Matthew Isaac Cohen

Pria asal Amerika ini memulai belajar seni pertunjukan wayang saat dirinya menuntut ilmu di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo pada tahun 1988. Ketertarikannya pada wayang muncul, seiring dengan dukungan dari dosen-dosen di kampusnya, termasuk Dalang Ki Joko Susilo.

Kecintaannya pada wayang mengantarnya untuk menjadi dalang sungguhan. Bahkan, pria yang sering tampil di luar negeri ini juga dijuluki sebagai Ki Matthew, seperti layaknya dalang sungguhan.

Saat ini Matthew menetap di Inggris. Ia kerap mementaskan wayang yang menarik penduduk dan akademisi lokal di kawasan tempat tinggalnya. Atas apresiasinya terhadap budaya Indonesia, pria yang kini mengajar di Royal Hollaway University of London ini juga mendapatkan gelar Kyai Ngabehi dari Kerajaan Cirebon pada tahun 2009.

Helen Pausacker, dalang perempuan yang 'langka' asal Australia (foto: beritamandiri.co)
Helen Pausacker, dalang perempuan yang 'langka' asal Australia (foto: beritamandiri.co)

Helen Pausacker

Selama lebih dari 40 tahun, Helen Pausacker telah jatuh cinta pada seni wayang kulit. Ia bahkan menjadi satu-satunya perempuan Australia yang belajar menjadi dalang secara profesional.

Helen mulai menemukan benih cintanya pada wayang pada saat melihatnya pertama kali, dalam kunjungannya tahun 1974 silam. Dua tahun berselang, ia memutuskan hijrah ke Solo untuk mendalami seni pertunjukkan wayang.

Saat di negara asalnya, Helen mendalang dengan Bahasa Inggris, didampingi oleh Komunitas Gamelan Melbourne yang telah terbentuk lebih dari 20 tahun lalu. Posisinya sebagai dalang dapat dikatakan unik, karena Helen merupakan seorang perempuan dan berkebangsaan Australia. Menjadi pedalang perempuan merupakan suatu hal yang relatif langka, karena umumnya dalang di Indonesia didominasi kaum pria.

Ryoh Matsumoto, kecintaannya pada wayang membawanya pada kreasi Wayang Kyokai (foto: imelda.coutrier.com)
Ryoh Matsumoto, kecintaannya pada wayang membawanya pada kreasi Wayang Kyokai (foto: imelda.coutrier.com)

Ryoh Matsumoto

Ryoh sangat menyukai filosofi pertunjukan wayang. Perkenalan pertamanya pada pertunjukan wayang kulit dimulai saat ia datang ke Indonesia sebagai turis pada tahun 1968. Sejak saat itu, Ryoh yang masih tinggal di Jepang memulai untuk mempelajari berbagai jenis wayang yang ada di Pulau Jawa.

Pria asal Jepang ini sudah mempelajari seni pertunjukan wayang selama puluhan tahun. Ia bahkan mengembangkan wayang kulit menjadi sebuah ragam baru yang dinamai wayang Kyokai. Pengembangan tersebut ia lakukan dari beberapa aspek, seperti tokoh, tata artistik, dan juga musik.

Saat berada di Indonesia, pria yang menggabungkan elemen wayang Jawa dengan beberapa kisah dari Jepang ini mementaskan pertunjukan wayangnya dengan menggunakan Bahasa Jawa, juga dengan Bahasa Jepang ketika ia mendalang di negerinya sendiri.


Sumber : diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG MUTIA SILVIANI AFLAKHAH

Art enthusiast | I'd like to tell you good things, with words I write. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara