Lupa Sandi?

Indeks Inovasi Global: Bukti bahwa Indonesiaku Keren

Yesi Supartoyo
Yesi Supartoyo
0 Komentar
Indeks Inovasi Global: Bukti bahwa Indonesiaku Keren

Indonesiaku keren!

Masa?

Kalo ga percaya coba deh cek publikasi terbaru The Global Innovation Index: Winning with Global Innovation Tahun 2016. Serta merta kalian akan menemukan kabar baik tentang bagaimana kerennya Indonesia di mata dunia. Berdasarkan analisis in-depth dalam laporan ekonomi diperoleh hasil bahwa Indonesia menempati ranking ke – 88 untuk kategori indeks inovasi secara global pada tahun 2016. Khususnya untuk rasio efisiensi inovasi yang menempati posisi teratas (ranking 52). Keren!

Selanjutnya ranking dan skor dari indeks inovasi tersebut dirinci per pilar diantaranya Institutions (122); Human Capital and Research (92); Infrastructure (80); Market Sophistication (62); Business Sophistication (106); Knowledge and Technology Outputs (71); dan Creative Outputs (85). Hal ini memberikan gambaran bahwasanya potensi pasar di Indonesia menjadi daya dukung dominan yang berpeluang besar untuk dikembangkan lebih lanjut apalagi bila ditopang oleh perbaikan kelembagaan/institusi.

Baca Juga
Sumber: GII 2016 Report
Sumber: GII 2016 Report

Market Sophistication menempati posisi ranking ke – 62 sebagai salah satu pilar penunjang indeks inovasi terkait kondisi pasar dan jumlah transaksi. Masing-masing sub pilar dari pengalaman pasar di tanah air diantaranya ialah Credit; Investment; dan Trade, Competition and Market Scale. Berdasarkan analisis diperoleh hasil bahwa letak kekuatan Indonesia ialah pada Trade, Competition and Market Scale (ranking 10; skor 78,8) dengan Domestic Market Scale-nya sebagai kekuatan utama (ranking 8; skor 80,5). Oleh karenanya, Indonesia perlu memberikan perhatian lebih terhadap bidang perdagangan, persaingan dan skala pasar khususnya skala pasar domestik guna meningkatkan pengalaman pasar tanah air di kancah global. Semisal dengan terus memperhatikan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang kreatif dan berkelanjutan yang notabene memang telah terbukti mampu menopang perekonomian.

Sumber: GII 2016 Report
Sumber: GII 2016 Report

Knowledge and Technology Outputs yang berada di posisi ke – 71 juga menjadi salah satu bagian dari indeks inovasi global. Masing-masing sub pilar diantaranya Knowledge Creation; Knowledge Impact; dan Knowledge Diffusion dengan letak kekuatan Indonesia di bidang pengetahuan ialah pada dampak pengetahuan (ranking 28; skor 45,7) khususnya rata-rata pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) per orang yang menempati ranking 1 dengan skor sempurna yaitu 100. Keren!

Sumber: GII 2016 Report
Sumber: GII 2016 Report

Bidang Infrastructure yang menempati posisi ke – 80 terbagi atas sub pilar Information and Communication Technologies (ICTs); General Infrastructure; dan Ecological Sustainability. Kekuatan Indonesia di bidang infrastruktur pada dasarnya terletak pada Infrastruktur secara umum (ranking 38; skor 42,2) khususnya pada formasi modal bruto (ranking 7; skor 41). Keberlanjutan ekologi melalui PDB per unit dari penggunaan energi juga menjadi kekuatan Indonesia (ranking 38; skor 34,4). Berkenaan dengan hal tersebut maka penghematan dan penggunaan energi terbarukan demi keberlanjutan perlu terus digalakkan oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan yang terkait.

Sumber: GII 2016 Report
Sumber: GII 2016 Report

Creative Outputs yang berkaitan dengan kreativitas dan inovasi menempati posisi ke – 85. Sub pilar yang membentuknya ialah Intangible Assets; Creative Goods and Services; dan Online Creativity. Letak kekuatan yang utama ialah pada aset non benda yaitu kreasi model organisasi dan ICT (ranking 38; skor 59,8) serta pada layanan dan barang kreatif yaitu ekspor barang kreatif (ranking 17; skor 48,2). Jadi, daya kreasi model dan layanan ekspor menjadi poin utama kekuatan Indonesia dalam dunia kreatif global.

Sumber: GII 2016 Report
Sumber: GII 2016 Report

Human Capital and Resarch Indonesia menempati posisi ke – 92 dengan sub pilar Education; Tertiary Education; dan Research and Development (R&D) yang mendukungnya. Letak kekuatan Indonesia ialah pada bidang riset dan pembangunan khususnya pada rata-rata ranking universitas dengan skor 3 besar universitas (ranking 41; skor 32,3). Hal ini membuktikan bahwa litbang bukan lagi menjadi anekdot dari “sulit berkembang” namun telah menjadi domain penting yang benar-benar elit dan berkembang. Keren, kan?

Sumber: GII 2016 Report
Sumber: GII 2016 Report

Business Sophistication menempati posisi ke – 106 dan berupaya untuk melihat level bisnis guna menilai sejauh mana kondusifnya suatu perusahaan dalam melakukan aktivitas berinovasi. Sub pilar yang menyusunnya ialah Knowledge Workers; Innovation Linkages; dan Knowledge Absorption. Letak kekuatan Indonesia di bidang bisnis yaitu pada jaringan inovasi khususnya kolaborasi penelitian antar universitas dan/atau industri (Ranking 29; skor 59,1) serta dasar dari pembangunan klaster (ranking 27; skor 56,1). Hal ini membuktikan bahwa kolaborasi antar lintas bidang maupun klaster secara spasial kewilayahan dapat menunjang terciptanya hubungan jaringan inovasi bisnis. Selain itu daya serap pengetahuan khususnya pembayaran properti intelektual (ranking 33; skor 26,8) juga menjadi daya tarik kekuatan kita.

Sumber: GII 2016 Report
Sumber: GII 2016 Report

Hmm, but sorry to say!

Dari serentetan kabar baik yang diutarakan baik dari segi potensi pasar, pengetahuan dan teknologi, infrastruktur, output kreatif, sumber daya manusia dan penelitian serta hubungannya dengan bisnis, sekarang saatnya mendengar sedikit kabar tidak baik tentang salah satu pilar pendukung indeks inovasi Indonesia yaitu...Institutions.

Ya, Institutions yang menempati ranking ke – 122 dengan skor 41,6 menjadi titik kelemahan Indonesia secara keseluruhan. Baik terlihat dari sub pilar lingkungan politik, peraturan maupun bisnis. Hampir tidak ada daya tarik kekuatan dari pilar institusi kelembagaan di tanah air. Hasil analisis membuktikan bahwa Indonesia masih lemah di pembebasan kelebihan biaya yang terkait dengan lingkungan peraturan/regulasi serta lemah pada kenyamanan dalam memulai bisnis yang terkait dengan lingkungan bisnis. Berkenaan dengan hal tersebut maka pembenahan kelembagaan menjadi hal mutlak yang perlu dilakukan. Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut maka tidak menutup kemungkinan Indonesia akan menjadi benar-benar tidak keren di mata dunia maupun masyarakatnya dan ini jelas bukan kabar baik. Hal ini tentu perlu dibenahi.

Kendati demikian, kabar baik yang diperoleh jauh lebih banyak dan lebih bermakna dibandingkan segelintir kabar tidak baik yang ada. Sehingga hal ini tentu jangan sampai mengurangi esensi kekerenan Indonesia di mata dunia dan mata kita semua. Masalah kelembagaan tentunya tetap perlu ditindaklanjuti dan diubah dari titik kelemahan menjadi peluang kekuatan dalam menunjang inovasi global Indonesia. Pokoknya saya tetap yakin dan terus percaya bahwa Indonesiaku akan selalu keren dan senantiasa mampu memberikan kabar baik untuk dunia.

Salam keren!

Sumber: The Global Innovation Index 2016: Winning with Global Innovation

Cat: Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id
Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG YESI SUPARTOYO

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas