Kabar baik bagi bangsa Indonesia!

Kabar baik bagi bangsa Indonesia datang dari bahasa nasionalnya, yakni bahasa Indonesia. Bagaimana tidak? Ternyata bahasa Indonesia punya nilai, bahkan kedudukan di kaca internasional, seperti yang digambarkan di buku Pembinaan Minat Baca, Bahasa dan Sastera karya Ajib Rosadi, pada tahun 1983, mahasiswa Australia yang mempelajari bahasa dan sastra berjumlah lebih banyak daripada mahasiswa Indonesia di seluruh Indonesia. Bahkan, dewasa ini, Pemerintah Australia mencetuskan program New Colombus Plan (NCP), yang bertujuan untuk memberi beasiswa kepada mahasiswanya untuk mengeyam pendidikan di Indonesia, untuk belajar bahasa Indonesia lebih mendalam. Selain itu, menurut Konsul Jenderal Republik Indonesia periode 2007-2008, Irdamis Ahmad, bahasa Indonesia dianggap sejajar dengan bahasa Inggris, Perancis, dan Jepang sebagai bahasa kedua yang diutamakan di Kota Ho Chi Minh, Vietnam.

Diprediksikan pada tahun 2017 ini pelajar asing yang ingin belajar bahasa Indonesia semakin bertambah. Kabar baiknya lagi, untuk bangsa Indonesia, yang perlu kita sadari, adalah kenyataan bahwa kekayaan bahasa Indonesia tidak pernah luntur ditembus zaman. Bahkan di era globalisasi seperti ini, bahasa Indonesia memiliki nilai estetika tersendiri. Bermunculan bahasa-bahasa baru yang berkembang di masyarakat dan diserap oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahkan “bahasa gaul” pun yang dibuat oleh kalangan masyarakat tertentu, yang pada akhirnya digunakan oleh masyarakat luas, ada yang sudah termuat oleh KBBI karena penggunaannya yang konsisten, seperti “bahasa gaul” dari kata “mejeng”.

Bahasa Indonesia yang akarnya dari bahasa Melayu mampu melepas bahasa Melayu terdahulu dan lebih banyak menyerap bahasa-bahasa yang dianggap lebih “modern” yang terlahir dalam perkembangannya. Apakah kita harus menggerus bahasa kita sendiri dengan bahasa asing yang selalu berkembang? Saya rasa tidak. Bahasa asing dapat kita pergunakan pada ruang dan waktu tertentu yang memang dibutuhkan. Pada era globalisasi kini, aplikasi media sosial yang merebak, yang juga terdapat di dalamnya portal-portal media massa cukup memprihatinkan, hal ini karena menggunakan bahasa asing (bahasa inggris) untuk menarik minat pembaca. Bahasa kini bukan lagi digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai alat membentuk sebuah citra diri.

Seberapa dalam ‘kah kita mengenal bahasa kita sendiri?

Barangkali dalam menyampaikan kabar baik bagi Bangsa Indonesia ini, merpati putih pembawa petuah harus juga mengapit surat-surat tersirat maha karya sastra Indonesia yang lahir dari nilai-nilai penggunaan bahasa Indonesia. Bila membahas bahasa Indonesia, tidak terlepas dari sastra Indonesia. Di dalam sastra Indonesia terdapat gaya bahasa Indonesia dalam menyampaikan tujuan tertentu. Kekayaan itu tampak jelas dari rangkaian kalimat yang indah dari sastra indonesia. Sebetulnya pengertian sastra Indonesia yakni segala macam bentuk karya sastra milik bangsa Indonesia, sehingga cerita dari berbagai daerah pun termuat di dalamnya. Sudahkan kita mengenal sastra Indonesia lebih dekat?

Kabar baik bagi Indonesia, bahwa sastra Indonesia sangatlah kaya, kita dapat menemukan berbagai jenis karya sastra seperti puisi, cerita pendek, prosa, roman, dan naskah drama, dalam berbagai genre. Menceritakan berbagai macam kisah, dan pandangan hidup yang dapat kita ambil. Permainan bahasa, dan mutu sastra Indonesia adalah kekayaan yang bangsa Indonesia, perlu ditekankan, nyatanya sejarah perkembangan sastra indonesia terlahir dari kaum intelektual terdahulu, yang bisa menambah kebutuhan informasi kita, baik sejarah, maupun pandangan hidup.

Mohammad Hatta pernah mengatakan :

  • Kurangnya kecakapan bangsa dalam ilmu teknik dan berperang, berakibat bangsa kita dapat ditaklukan oleh bangsa Barat. Kekurangmampuan dan kekuranguletan di bidang ekonomi menyebabkan kita dapat dikalakan oleh bangsa Eropa dan bangsa Tiongkok. Kurangnya semangat meneliti dan mengetahui membuat bangsa kita tercecer dengan ilmu pengetahuan.

Banyak sekali karya sastra yang tercecer begitu saja, padahal beraroma pengetahuan yang diekspresikan penulis terkait masa tertentu. Dahulu kalangan terpelajar menyerukan pandangannya melalui karya sastra yang terbilang formula halus dalam memakmurkan pemikiran bangsa Indonesia. Tetapi disisi lain sebagai pula bentuk suara dari jeritan masyarakat secara terang-terangan. Sayang sekali apabila karya-karya tersebut tidak sebanding dengan penyerapannya di ranah publik.

Adanya nilai literasi yang tinggi, dari rangkaian permainan bahasa yang baik. Sungguh kita merugi apabila masih malu dengan bahasa sendiri. Negeri kita kurang terbiasa oleh permainan bahasa khiasan dari majas-majas yang Indah. Permainan bahasa yang padat dan singkat, yang meruncingkan informasi dengan cara yang lebih manis. Permainan bahasa dari pakem-pakem bahasa yang baik, disampaikan secara lebih tersurat, permainan logika, seni, dan rasa. Indah sekali!

Pada kenyataannya, umumnya saat ini pengajaran di sekolah masih lebih mengutamakan siswa dan siswinya, belajar menjadi penyair yang handal, ketimbang mencintai sastra Indonesia-nya terlebih dahulu. sehingga mereka berlomba-lomba menciptakan karya sastra belum pada pakem-pakem yang baik, terlepas dari waktu belajar tersebut, mereka jadi tidak mengingat nilai sastra. Beda halnya apabila siswa dan siswi-nya diperkenalkan karya sastra Indonesia terlebih dahulu, dengan mengenal genre cerita yang kaya, berbagai polemik kehidupan dan pengetahuan yang termuat di dalamnya. Hingga mereka bisa jadi penikmat, bahkan sekaligus pemberi tanggapan atas karya sastra tersebut, selayaknya seperti kritik sastra yang menilai sekaligus mengapresiasikan karya sastra tersebut.

Seberapa banyak anak-anak yang berani mengulas kembali buku karya sastra? Bahkan membuat karya sastra berdasarkan cara pandang dan pengalamannya, rasa, riset, serta agrumentasi dari pola pikirnya? Barangkali ini yang di maksud oleh Umar bin Khattab:

Ajarkan sastra kepada anak-anakmu karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.

- Umar bin Khattab.

Dalam mengenal sastra kepada anak-anak, mengasah nilai estetika, dan pola pikir, peka terhadap lingkungan sekitar, logika yang sejalan dengan penilaian hati nurani, bukanlah semata-mata hanya pencarian kedudukan.

Bahasa dan Sastra Indonesia yang kaya dan selalu berkembang, membuat kita bangga dalam memakainya untuk lebih mudah berekspresi untuk mengaktualisasi diri kita di hadapan publik, dan bila mengenal nilai estetika dari sebuah bahasa yang kaya yang dirangkai dengan permainan kata, serta penyampaian pola pikir kita, membuat kita lebih menyadari betapa kaya bangsa Indonesia buat kita. Melihat di era sekarang ini, kabar baiknya, sastra Indonesia memiliki ruang yang cukup baik dalam mendatangkan pundi-pundi pendapatan, sebagai peluang yang cukup menjanjikan terhadap nilai komersil. “goal” karya sastra bukan lagi saat menjadi buku best seller di toko buku, tetapi juga bisa divisualisasikan di layar kaca Indonesia.

Presiden Joko Widodo menyarkan sendiri untuk perfilman di Indonesia, dalam acara penganugerahan Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu, 6 Desember 2014. "Industri perfilman merupakan salah satu kekuatan ekonomi kreatif," Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menegaskan kembali dukungan pemerintah yang dipimpinnya terhadap ekonomi kreatif. Hal itu juga ditegaskan melalui pemisahan bidang ekonomi kreatif dari Kementrian Pariwisata. Adapun sektor ekonomi kreatif, termasuk di dalamnya industri film, akan dibuatkan badan tersendiri yang berada langsung di bawah naungan presiden. Sehingga karya-karya terbaiknya dan bermutu yang sudah diproduksikan sejak dahulu,di era ini lebih diapresiasi, dan memiliki lebih banyak peluang dalam dunia perfilman.

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu