Lupa Sandi?

Ingatan Kuliner dan Cerita

Setya Ningsih
Setya Ningsih
0 Komentar
Ingatan Kuliner dan Cerita

Setiap kaki bergerak menjelajahi ragam geografis, wangi nusantara terbaui lewat aneka rempah dan bumbu. Masyarakat tradisional mengenang kedirian lewat kekepiawaian tangan leluhur mengolah masakan. Hidangan menyemarakkan hidup komunal, memberi makna pada peristiwa-peristiwa penting di keseharian. Kota mengawal kuliner tradisi serta seperangkat inovasi memasuki wadah yang lebih kolosal bernama festival. Inilah undangan kepada publik penikmat, pemerhati, pembaca, dan pengicip merasai kembali ke masa lalu dalam bingkai lebih mutakhir. Bukan sekadar melejitkan cita rasa, kreasi bisa berharga ekonomi untuk mendayakan potensi daerah.

Mengingat para pelancong tempat-tempat, makanan jadi ingatan bersama. Makanan bisa saja mengingatkan pada rumah, ibu, bapak, keluarga, tetangga, atau kekasih. Beruntung bagi orang-orang yang tidak hanya merekam rasa dalam foto, tapi juga cerita. Makanan tidak sekadar komentar uenak, maknyus, endes, laziz, sedap, atau mantap. Cerita ada, dan kini kita turut menikmati kabar baik jejaknya dalam buku-buku bernuansa biografis. Makanan sampai bercerita tentang rasa hidup dan rasa perasaan.  

Majalah Tempo edisi Antopologi Kuliner Indonesia (1-7 Desember 2014) pernah mengikhtiari diri untuk mendokumentasikan pelbagai sajian nusantara. Makanan-makanan memiliki sejarah, kultural, muatan politik-ekonomi, akulturasi, dan jejak perasaan para pengolahnya. Dokumentasi ini tidak hanya menginginkan orang berwisata perut atau uji narsisme sebagai pecinta kuliner. Ada kesadaran makanan memiliki sejarah, menjadi bagian dari ilmu pengetahuan, atau bahkan menjadi mitos selama bertahun-tahun. Ada makanan-makanan yang disajikan dalam kekhususan waktu, tempat, dan peristiwa.

Di setiap daerah, kita mendapati cerita rakyat memuat asal usul pangan, seperti di Jawa ada kisah Dewi Sri sebagai representasi penciptaan padi. Di Banda, ada cerita Putri Ceilo Bintang yang mengisahkan asal usul pala si buah emas yang termasyhur sebagai bumbu masak. Para penjelajah melakukan perjalanan ke Timur untuk mendapati khasiat rempah-rempah yang menggoda. Di Seram Barat, asal usul sagu berasal dari kisah Putri Hainuwele (Hanna Rambe, 2010). Dari segala cerita ini, tercipta imajinasi kemakmuran dan tanah yang subur. Hutan, kebun, ladang, dan pekarangan Indonesia adalah penentu nasib kesadaran nasional bahwa pangan tidak miskin cerita. Ada orang-orang dilahirkan dan diingat dari sepiring makanan, mewarisi dari ibu, nenek, dan buyut.  

Baca Juga

Novel-novel Indonesia yang pernah terbit seperti Mirah dari Banda (Hanna Rambe, 2010), Pulang (Leila S. Chudori, 2012), Aruna dan Lidahnya (Laksmi Pamuntjak, 2014) menjadi pernyataan bahwa makanan memiliki ikatan kultural, identitas, dan pergolakan politik-kekuasaan. Pelbagai ekspresi hidup melengkapi keberadaan dan penciptaan makanan. Sebagian tokoh dilanda sepi, lewat rempah-rempah mereka diantarkan kembali ke haribaan tanah air dan rumah yang lama ditinggalkan. Makanan adalah rumah berpulang bagi diri.

Kita percaya dokumentasi kuliner bukan hanya berupa daftar menu, tata cara pembuatan, sesekali foto penampilan makanan, atau segerombolan orang narsis tengah berfoto genit sambil pamer piring dan sendok. Buku seperti 100 Makanan Tradisional Indonesia, Mak Nyus (2014) susunan Bondan Winarno yang telah mengalami cetak keempat jadi usaha kuliner tidak berhenti di aksi makan. Buku menyajikan pelbagai kuliner sekaligus deskripsi yang berisi sejarah, makna kultural, peristiwa yang merekam keberadaan si makanan, dan juga alamat tempat makan.

Julie Sutarjana selama tiga zaman rajin menulis buku resep sebagai ingatan pada keluarga. Buku 225 Resep Hidangan Pilihan Favorit Sepanjang Masa (2014) dilengkapi biografi sejak masa kecil hidup di Kampung Cina saat ini hampir menginjak usia ke-90. Majalah, buku, film, dan media sosial menjadi propanda kisah makanan sebagai kisah keluarga. Kuliner tidak dengan mudah dipermainkan oleh industri tayangan televisi yang menjadikan makanan sebagai hiburan atau bahkan permainan.

Buku-buku telah terbit dan terbaca oleh orang-orang dari rupa zaman yang berbeda. Pembukuan dan pencatatan aneka kuliner serta kesejarahan dan kondisi sosial-budaya masyarakat menyelamatkan kuliner di tengah arus deras foto di media sosial. Buku-buku mendokumentasikan ingatan kolektif para para tetua, tokoh kuliner setempat, dan ibu-ibu desa penjaga makanan agar cerita terus ada di waktu-waktu mendatang. Dan dari ruang paling bersahaja kita bernama rumah, tidak terlewatkan peristiwa mengolah makanan bersama simbah atau ibu. Mereka memiliki cerita, kita sebagai anak dan cucu menjadi pendengar dan pewaris makna-rasa hidangan.      

Menulis Kabar Baik
Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG SETYA NINGSIH

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara