Lupa Sandi?

Batu Dua, Bukti Nyata Sentuhan ‘Motekar’ di Sumedang

fauzan genkidama
fauzan genkidama
0 Komentar
Batu Dua, Bukti Nyata Sentuhan ‘Motekar’ di Sumedang

Pariwisata bisa menjadi penunjang perekonomian utama di berbagai daerah di Indonesia. Betapa tidak, kekayaan alam yang melimpah di negeri ini seringkali membuat negara lain cemburu. Potensi itu kian nyata dengan populasi penduduk yang mencapai ratusan juta orang. Seyogyanya jika keduanya antara bisa dioptimalkan akan membuat roda perekonomian bergerak tanpa hambatan.

Sudah banyak contoh yang membuktikan kalau kolaborasi anugerah alam dengan jumlah sumber daya manusia bisa memberikan multiflier effect pada penghidupan yang layak. Di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat ada kawasan Batu Dua yang kini namanya mulai mendunia sebagai destinasi wisata dirgantara. Padahal siapa sangka dulunya kawasan yang berada di Gunung Lingga itu pangangonan (tempat menggembala).

Batu dua jadi bukti nyata betapa sentuhan magis kreativitas atau orang Sumedang bilang motekar sangat bisa mendongkrak perekonomian. Menjadikan Sumedang tidak hanya dikenal dengan tahu. Membuat warga di sekitar Gunung Lingga tidak hanya berpikir tentang pertanian. Lebih dari itu bisa memanfaatkan wisata dirgantara untuk meraup pundi-pundi rupiah dengan berbagai jasa.

Ketenaran Batu dua yang kini dikenal sebagai salah satu tempat paralayang terbaik di Indonesia tidak terlepas dari perhelatan event pra piala dunia XC Paraglaiding pada akhir tahun 2013 lalu. Ketika itu Pemerintah Kabupaten Sumedang menangkap peluang menyelenggarakannya meski di tengah rasa pesimisme banyak kalangan.

Keberanian pemerintah menyelenggarakan even bertaraf internasional pertama kalinya di kawasan yang berada di ketinggian 930 mdpl itu patut diacungi jempol. Meskipun hanya bertaraf pra piala dunia, tapi perhelatan yang diikuti 63 atlet dari berbagai belahan dunia itu dibilang cukup sukses. Tidak hanya sebatas penyelenggaraannya tapi efek setelah itu.

Terakhir PON XIX 2016 Jawa Barat untuk cabang paralayang diselenggarakan di kawasan perbukitan yang tidak jauh dari Waduk Jatigede itu. Dipilihnya venue paralayang di sana merupakan pengakuan bahwa potensi yang dimiliki Batu Dua memang mampu diandalkan. Bahkan menurut kabar rencananya Asean Games tahun 2018 cabor paralayang pun akan digelar di sana.

Kelebihan Batu Dua sendiri di antaranya titik lepas landas (take off) untuk paralayang sangat layak dan ideal . Di sini, terdapat kombinasi antara pegunungan dengan dataran luas yang rata. Perpaduan ini sangat cocok untuk pertandingan paralayang di nomor cross country (lintas alam).

Belum lagi ditambah terdapat beberapa titik thermal (uap panas bumi) yang sangat memungkinkan atlet paralayang terbang lebih tinggi lagi, hingga lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut, sehingga mampu terbang lebih lama. Hembusan anginnya pun membuat atlet bisa melakukan manuver. Areal pendaratannya sebagian besar berupa persawahan yang terhampar di bawahnya.

Pengunjung yang datang ke Batu Dua tidak hanya disuguhi pemandangan alam yang sangat menyejukkan mata, tetapi juga bisa berwisata budaya sekaligus ziarah. Karena tidak jauh dari lokasi Batu Dua terdapat makam Prabu Tajimalela, salah satu Raja Sumedang Larang. Selain itu, kawasan Gunung Lingga juga cocok untuk dipakai berkemah, bahkan ada juga bumi perkemahan .

Keunggulan lain kawasan Batu Dua adalah akses yang mudah dijangkau utamanya dengan menggunakan kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Akses menuju lokasi sudah sedikit diperbaiki. Jaraknya juga cukup dekat dengan jalan raya Sumedang-Wado, sekitar 4 Kilometer. Kalau dari kota Sumedang jaraknya sekitar 20 km.

Seperti di kawasan lain tempat paralayang, Batu Dua ke depan bisa dijadikan kawasan pariwisata dirgantara misalnya dijadikan sebagai objek wisata keluarga untuk paralayang seperti halnya wisata paralayang yang ada di Kawasan Puncak, Bogor. Perlu keseriusan pemerintah daerah untuk mengembangkannya ke arah sana. Karena lagi-lagi pariwisata bisa jadi tumpuan yang tepat untuk menopang perekonomian daerah. Potensi itu sudah ada, saatnya mengoptimalkannya.

"Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2"

Sumber : pwca.org, blog.na-nang.com, sumedangtandang.com, tempo.co

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang13%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau13%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FAUZAN GENKIDAMA

Seseorang yang terus belajar. Salah satunya belajar menulis dengan bergabung di Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas