Lupa Sandi?

Generasi Baru Sumba dan Nilai Seni Rupa

Arya Martin
Arya Martin
0 Komentar
Generasi Baru Sumba dan Nilai Seni Rupa

Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur memang dikenal dengan pesona keindahan alamnya. Pantai di Sumba telah diakui dunia dan masuk dalam daftar pantai terbaik sejagat. Namun kali ini saya bukan akan membahas keindahan alamnya yang sudah banyak orang tahu.

Ternyata Sumba juga menyimpan warisan budaya tradisional yang menjadi salah satu identias bangsa. Masyarakat adat Sumba masih menjaga akar kesenian tradisional dengan sangat baik hingga saat ini. Nilai-nilai seni tersebut masih tercermin dalam bentuk rumah tinggal, pakaian yang dikenakan sehari-hari, tradisi-tradisi kepercayaan dan upacara tradisional masih melebur dalam kehidupan sosial masyarakat Sumba.

"Uma Bokulu" Rumah adat Sumba

Salah satu hal yang menarik saat berbicara tentang Sumba adalah keberadaan seni rupa yang kaya dan tertuang dalam bentuk motif-motif penghias di berbagai benda yang sehari-hari digunakan oleh masyarakat itu sendiri. Bentuk seni rupa ini bisa kita temukan dengan mudah pada perkakas gerabah, kain tenun, ukir-ukiran di tiang rumah adat dan juga pada kubur batu sebagai ornamen hias.

Seni rupa semacam ini memang selalu hadir pada setiap jaman, baik masa lalu maupun masa kini. Melalui seni rupa, manusia mengekspresikan pengalamannya akan keindahan dan perwujudan ide-ide tertentu. Di Sumba sendiri, seni rupa sangat lekat dan tidak dapat lepas dari kepercayaan yang dianut masyarakatnya sejak dahulu kala, yaitu Marapu.

Baca Juga

Gambar-gambar pada motif tenun Sumba misalnya, banyak mengambil bentuk visual dari hewan-hewan ternak seperti kuda, kerbau dan ayam yang memang sering terlihat di tanah yang memiliki cura hujan rendah ini.

Tenun Sumba - Motif Hewan Ternak
Tenun Sumba - Motif Hewan Ternak

Motif-motif tersebut dikombinasikan dengan warna-warna khas sehingga menghasilkan suatu benda yang selain memiliki nilai seni rupa namun juga tidak meninggalkan nilai fungsinya. Selain itu, masyarakat Sumba juga berusaha menggambarkan keberadaan nenek moyang mereka yang diyakini kepercayaan Marapu dalam bentuk seni rupa. Latar belakang seni semacam ini memang menciptakan bentuk-bentuk visual yang imajinatif sehingga tidak lagi menggunakan ukuran-ukuran paten suatu bentuk. Bisa kita temukan pada ornamen-ornamen kubur batu peninggalan masa lalu dimana terdapat relief relief yang terkesan mistis dan imajinatif.

Kubur Batu dengan ornamen hias di Anakalang, Sumba Tengah
Kubur Batu dengan ornamen hias di Anakalang, Sumba Tengah

Hal-hal yang sudah disebutkan tadi membuat seni rupa di Sumba mengandung nilai-nilai yang sangat kaya. Karya seni di Sumba telah mengalami perjalanan yang cukup panjang dari generasi ke generasi. Tidak heran jika darah seni para pendahulu tetap mengalir deras dalam tubuh anak-anak Sumba saat ini, sebagai pewaris kebudayaan tradisional.

Awal tahun 2017 ini saya berkesempatan menginjakan kaki kembali di tanah Marapu, kali ini memang dengan sebuah misi khusus untuk mencoba mengenal lebih jauh potensi anak-anak Sumba dengan kegiatan yang berbau seni rupa. Kami mendatangi dua tempat yaitu desa adat Prai Ijing di Sumba Barat dan juga bukit Wairinding di Sumba Timur. Ada hal yang memang cukup mengejutkan, ternyata anak-anak Sumba yang kami jumpai memiliki minat yang sangat tinggi pada seni rupa.

Kami mengajak mereka melakukan kegiatan seni rupa yang paling umum dilakukan, yaitu menggambar di alam terbuka. Anak-anak Sumba ini sama sekali tidak terlihat bingung ataupun canggung dengan alat-alat menggambar, tanpa berfikir terlalu lama mereka langsung menggoreskan pensil di atas kertas dan mulai memvisualisasikan ide-ide mereka. Seakan tanpa ragu, mereka tuangkan imajinasi yang segar pada sebuah media ekspresi.

Kegiatan menggambar bersama anak-anak bukit Wairinding - Sumba Timur
Kegiatan menggambar bersama anak-anak bukit Wairinding - Sumba Timur
Bersama anak-anak Desa Adat Prai Ijing, Sumba Barat
Bersama anak-anak Desa Adat Prai Ijing, Sumba Barat

Hal sederhana ini merupakan kabar baik yang perlu diketahui banyak orang, bahwa generasi muda di Sumba saat ini masih memiliki minat yang tinggi terhadap seni rupa. Gambar-gambar yang dihasilkan anak-anak Sumba ini juga merupakan gambar-gambar yang Keren !. Sepatutnya mereka mendapatkan perhatian lebih dari kita semua agar dapat ikut ambil peduli dalam upaya menjaga tradisi seni rupa di tanah Sumba dan meneruskan tongkat estafet nilai-nilai budaya yang luhur.

Pilih BanggaBangga42%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang11%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi21%
Pilih TerpukauTerpukau26%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARYA MARTIN

Saya berjalan kemudian mulai bercerita. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara