Lupa Sandi?
Java Jazz Single

Persilangan Budaya Cina-Jawa, Wacinwa Karya Besar dari Indonesia

athif  thitah
athif thitah
0 Komentar
Persilangan Budaya Cina-Jawa, Wacinwa Karya Besar dari Indonesia
Beberapa wayang koleksi Museum Sonobudoyo dalam Pameran "Wacinwa : Silang Budaya Cina-Jawa" © arifkoes.files.wordpress.com

Etnis Cina dan Jawa merupakan etnis yang telah mendiami wilayah Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka. Diberbagai  wilayah Indonesia khususnya daerah Jawa, Etnis Cina dan Jawa hidup berdampingan membentuk Budaya Cina-Jawa. Keberagaman budaya dari persilangan Cina-Jawa meliputi kuliner, pakaian, arsitektur bangunan, hingga seni pertunjukan.  Sejarah mencatat, tahun 1925 di wilayah Yogyakarta muncul Wayang Cina-Jawa (Wacinwa) sebagai sebuah seni pertunjukan. Gan Thwan Sing (1885-1967) adalah pembuat sekaligus dalang Wacinwa, yang lahir dan dibesarkan di Jatinom, Klaten. Sebagai keturunan Cina, Gan Thwan Sing mewarisi tradisi Cina dari kakeknya, Gan Ing Kwat.

Gan Thwan Sing muda sudah hafal berbagai bentuk dan wajah tokoh legenda Cina dari buku-buku kakeknya. Disisi lain, Sejak kecil kehidupan dan pergaulan dengan penduduk kampung halaman di Jatinom, Klaten menjadikan dirinya paham bahasa dan budaya Jawa. Awal abad 20, Gan Thwan Sing pindah ke Yogyakarta untuk mendalami seni pertunjukan dengan belajar seni pedalangan dan musik karawitan. Pengetahuan dan wawasan luas yang diperoleh Gan Thwan Sing di Yogyakarta, melahirkan gagasan untuk menciptakan Wacinwa.

Gan Thwan Sing saat menjadi dalang dalam pertunjukan wacinwa
Gan Thwan Sing saat menjadi dalang dalam pertunjukan wacinwa

Wacinwa merupakan salah satu jenis seni pertunjukan wayang selain wayang beber, potehi, purwa dan sebagainya. Wacinwa hanya ada 2 set wayang di dunia, satu set wayang menjadi koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Sedangkan satunya lagi tersimpan di Uberlingen (Bodensee, Jerman) milik Dr. Walter Angst. Awalnya, wacinwa tersebut merupakan koleksi milik Chineesch Institut Yogyakarta. Namun, sekitar tahun 1960-an wayang ini dibeli dari sebuah toko barang bekas oleh Dr. F. Seltmann saat berkunjung di Yogyakarta. Setelah Dr. F. Seltmann meninggal tahun 1995, wayang tersebut dibeli oleh Dr. Walter Angst.

Wacinwa koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta memiliki karakter unik dan berbeda dari wayang pada umumnya. Kehebatan kreatifitas Gan Thwan Sing dalam membuat wayang terlihat dari pengabungan dua simbol budaya dalam satu bentuk wayang. Wacinwa yang terbuat dari kulit kerbau ini, memilki pernak-pernik yang sama dengan wayang purwa, namun karakter dan bentuk wayang mirip wajah orang Cina. Karakter tokoh wayang juga beragam, ada sekitar 200-an tokoh wayang dan ratusan potongan karakter kepala yang dapat diganti sesuai kehendak dalang. Selain itu, ukuran wayang relatif lebih kecil, berukuran rata-rata 70 cm.

Baca Juga
Satu tokoh wayang yang dapat diganti beberapa karakter
Satu tokoh wayang yang dapat diganti beberapa karakter

Pada pertunjukan wacinwa, alat yang digunakan sama seperti pertunjukan wayang purwa berupa gamelan dan kelir (tirai atau layar). Kelir yang digunakan berukuran 130 x 300 cm dan terdapat tulisan bahasa Melayu ditengah sisi bawah, yang berbunyi: “Terbikin Gan Thwan Sing –Djogja, 27 November 1942”. Selain itu, pada pertunjukan wacinwa juga terdapat kambi kelir, kotak, cempolo, kepyak, blencong, sapit blencong, dan gedhebog. Tata cara pertunjukan wacinwa diawali mengucapkan mantra oleh dalang dilanjutkan pertunjukan yang terbagi dalam tiga pembabakan dengan durasi sekitar 6-7 jam. Pertunjukan wacinwa dapat dilakukan dimana saja, misalnya kelenteng atau rumah warga yang kebetulan sedang mempunyai hajatan. Dalang dan pengrawitnya (penabuh gamelan) wacinwa juga menggunakan tembang Jawa bernada pelog dan slendro berbahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan bukan bahasa Jawa halus, melainkan bahasa Jawa yang khas digunakan oleh masyarakat Cina peranakan, yang di kenal dengan bahasa Jawa “ lumrah”. Hanya saja, busana yang digunakan yaitu pakaian sehari-hari, bukan menggunakan beskap.

Tokoh Sie Jin Kui
Tokoh Sie Jin Kui

Cerita dalam pertunjukan wacinwa diambil dari legenda masyarakat Cina pada masa pemerintahan Dinasti Tang (618-907) Masehi. Wacinwa menceritakan tentang kepahlawanan Sie Jin Kwie dari kerajaan Tong Tya, dengan mengangkat Sin Jin Kwie sebagai tokoh utama. Sie Jin Kwie merupakan seorang tokoh yang mengabdi pada negerinya sebagai prajurit yang memiliki sifat jujur, setia, taat, dan rendah hati. Tokoh-tokoh wacinwa juga terdiri dari dewa-dewi, siluman, pendeta, raja, permaisuri, bangsawan, mentri, prajurit, dayang-dayang, perampok, binatang ( seperti singa, naga, kuda) dan gunung.

Karakter hewan naga dalam wacinwa
Karakter hewan naga dalam wacinwa

Perpaduan antara kisah dari legenda Cina dan tata cara pertunjukan Jawa membuat masyarakat Cina peranakan saat itu merasa identitas budaya leluhur mereka masih dapat dilestarikan. Hal ini terlihat dalam lakon-lakon yang dibuat oleh Gan Thwan Sing, misalnya lakon Rabinipun Raja Thing Jing (pernikahan raja Ting Jing). Sebagai seorang seniman, Gan Thwan Sing telah membuktikan perbedaan tradisi dapat dipertemukan dalam pertunjukan seni. Pertunjukan wacinwa berhasil menjadi media yang penuh kreatifitas serta mendidik dalam membentuk identitas budaya peranakan Cina di Indonesia. Maka sepatutnya, kita mengenal dan bangga dengan hasil karya dari persilangan budaya Cina Jawa yang dimiliki oleh Indonesia.

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2


Sumber :

Katalog, Wacinwa : Silang Budaya Cina – Jawa koleksi museum Negeri Sonobudoyo , Yogyakarta: Museum Negeri Sonobudoyo Dinas Kebudayaan DIY, 2014.

https://sanskertaonline.blogspot.co.id/2015/04/sanskerta-wacinwa-wayang-cina-jawa.html

Menulis Kabar Baik #2
Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ATHIF THITAH

kata mahasiswa 'pemuda desa tak kerja' kata S.I.D "muda beda dan bebahaya" ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie