Lupa Sandi?

Prof Josh: Penelitian Saya Memang “Ah, Begitu Saja”

Han Yong Ra
Han Yong Ra
0 Komentar
Prof Josh: Penelitian Saya Memang “Ah, Begitu Saja”

Jika harus membandingkan dua hal, yang baik dan yang buruk di Indonesia maka presentase kabar buruk akan jauh lebih mendominasi dibandingkan hal yang baik. Tidak bisa dipungkiri memang banyak sekali hal yang kurang dari Indonesia, tetapi bukan berarti tidak ada yang lebih. Jika mau meluangkan saja sedikit waktu untuk mencari tahu, ada banyak sekali hal baik yang telah dicapai Indonesia.

Selama ini yang banyak kita dengar tentang indonesia hanyalah yang buruk saja seperti negeri bencana, menyusul tragedi tsunami pada 2004. Negara dengan sistem pendidikan yang buruk, bandara terburuk, negara korup dan ratusan lainnya. Mungkin memang benar adanya, tetapi jangan salah, disamping hal buruknya Indonesia punya seratus hal yang baik dan salah satunya adalah Prof. Joshapat.

Prof. Josh begitu beliau biasa dipanggil, merupakan salah satu guru besar radar di Chiba University, Japan. Nama beliau kian melambung setelah berhasil menciptakan circularly polarized synthetic aperture radar (CP-SAR) sensor yang bisa dipasang pada pesawat tanpa awak bernama Josaphat Experimental Aircraft JX-1 dan microsatellite untuk monitoring permukaan bumi di masa depan. Satelit dan sensor ini dirancang dan dibangun di Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL), Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University.

CP_SAR sendiri merupakan sensor radar yang bekerja di gelombang L band atau 1,270 gigahertz (GHz). Gelombangnya memiliki panjang 23 sentimeter. Itulah yang membuat radar ini dapat menembus awan, kabut, asap, hutan, dan bisa penetrasi ke dalam tanah. Selain itu, CP-SAR juga dapat mencitrakan suatu objek dan dapat digunakan pada siang maupun malam hari. Satelit selama ini menggunakan SAR konvensional, yaitu Linear Polarized SAR (LP-SAR). Keunggalan CP-SAR ini dibanding LP-SAR ada pada teknologi polarisasi melingkar yang bisa mengurangi getaran wahana pembawa radar dan pengaruh rotasi Faraday di ionosfer. Dengan cara ini, citra yang didapat lebih akurat ketimbang radar konvensional.

Tidak hanya itu saja, CP-SAR ini memiliki bobot kurang dari 100 kg saja atau sepersepuluh lebih ringan dibandingkan radar termutakhir yang ada saat ini yang mencapai 1 ton. Selain itu, antena yang biasanya memiliki panjang antara 10-12 meter beliau ringkas menjadi sekitar 3,6 meter saja.

Temuan Prof.Josh ini telah digunakan untuk beberapa penelitian. Diantaranya penurunan tanah di kota Jakarta, tanah longsor, kebakaran lahan gambut, dan pengaruh sedimentasi terhadap reklamasi di Teluk Jakarta. Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory selama ini telah bekerja sama dengan berbagai badan ruang angkasa di dunia, seperti NASA dan Seoul University untuk pengambangan radar pengamatan bulan, Mars, dan Venus. Juga dengan Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk membuat sensor SAR berfrekuensi tinggi. Serta, LAPAN dan JAXA (Badan Antariksa dan Penerbangan Jepang) untuk membuat satelit mikro SAR.

Sekedar informasi, temuan-temuan beliau ini telah patenkan di 118 negara. Namun, meskipun demikian luar biasanya, beliau bercerita bahwa banyak orang yang hanya berkomentar “ah, begitu saja”. Namun bukannya diambil pusing, beliau merasa bahwa komentar tersebut merupakan tolok ukur keberhasilan karena telah sukses menyederhanakan hal yang awalnya rumit. Meskipun untuk memperoleh si “ah, begitu saja” itu beliau membutuhkan waktu penelitian bertahun-tahun lamanya. Melihat prestasi beliau saya yakin ada banyak sekali hal luar biasa di Indonesia, entah itu dari sisi sumber daya manusianya, sumber daya alamnya maupun sumber daya lainnya. Hal itu senada dengan pernyataan beliau di salah satu seminarnya yang kebetulan juga saya hadiri.

“Saya ingin membuktikan bahwa Indonesia tidak seburuk sebagaimana yang dipikirkan banyak orang", begitu kata beliau disela-sela prosesi tanya jawab.

So, kenapa tidak? Indonesia bisa bersaing kok dan jangan lupakan, dibalik debu yang menutupi negeri ini tersimpan jutaan mutiara yang siap bersinar di masa depan.

Artikel ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Kabar Baik GNFI #2.

Prof. Josh saat mengisi seminar di Universitas Sebelas Maret, Surakarta
Prof. Josh saat mengisi seminar di Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Sumber: Seminar Development of Advanced Microsatellite SAR Onboard For Global Enviromental Monitoring

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG HAN YONG RA

Kawan GNFI ... Lihat Profil Lengkap

Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas