Makna Tersebunyi Dari Pagelaran Kuda Lumping

Makna Tersebunyi Dari Pagelaran Kuda Lumping

Beberapa pelajar Singapura belajar tari Kuda Lumping di halaman sekolah SMP Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia (YPPI) Surabaya © tirto.id

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Kuda Lumping merupakan sebuah tarian menggunakan properti kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu serta ditunggangi oleh seorang penari yang dirasuki kekuatan ghaib.

Dalam penampilannya, biasanya tarian ini diiringi oleh alat musik tradisional seperti gong, kenong, kendang, dan juga slompret.

Kuda Lumping punya beragam sebutan dari tiap-tiap daerah, misalnya Jawa Barat disebut dengan Kuda Lumping, Jaranan Buto dari Banyuwangi, Jaran Kepang dari Surabaya, Jaranan Turonggo Yakso dari Trenggalek, Jathilan Hamengkubuwono dari Yogya dan Jawa Tengah, dan Jaranan Sang Hyang dari Bali.

Kuda Lumping adalah seni tari yang sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu berkembang di Indonesia. Pada masa itu, tarian adalah sarana penting dalam setiap upacara yang lekat dengan spiritualitas dan juga sarana berkomunikasi dengan arwah para leluhur. Oleh karena itu, Kuda Lumping merupakan salah satu contoh bentuk kesenian budaya kuno yang didalamnya mengandung kekuatan magis.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Tari Kuda Lumping (© www.topindonesiaholidays.com)

Dalam pertunjukan Kuda Lumping, bagian yang paling mencuri perhatian penonton adalah saat salah satu atau beberapa penari kerasukan roh yang diyakini sebagai arwah nenek moyang. Dalam adegan ini, akan diperagakan hal-hal diluar nalar yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. Biasanya, penari yang kerasukan akan memiliki kekebalan fisik, seperti kebal terhadap pukulan musuh atau benda keras, goresan senjata tajam, bahkan yang sering kita tahu seperti makan beling dan silet.

Meski sering membuat bergidik ngeri melihat salah satu penari yang ndadi ditengah pagelarannya, ternyata tarian ini punya makna penting bagi kehidupan manusia yang bisa dipetik.

Di Ponorogo misalnya, kehadiran roh ditandai dengan salah satu penari yang berubah sikap menjadi lebih bringas dan biasa disebut sebagai warok. Lawan dari warok gemblakan. Dari keduanya, masing-masing digambarkan sebagai singa hitam untuk warok, sedangkan merak untuk gemblakan. Dan saat pagelaran Kuda Lumping berlangsung, terjadilah pertandingan antara warok dan gemblakan. Hubungan antara warok dan gemblakan inilah yang diibaratkan sebagai sifat-sifat manusia. Ada yang baik dan ada pula yang jahat. Mereka yang baik biasanya diperagakan memiliki sifat sabar, lebih rendah diri, dan senang memberi petuah-petuah. Nah, untuk mereka yang memiliki sifat jahat, akan memiliki sifat sombong, seenaknya sendiri, tamak, dan lebih liar.

Masyarakat lokal yang begitu mengenal dekat Kuda Lumping, memaknai peristiwa kerasukan itu sebagai kekuatan besar di luar kendali manusia. Lebih jelasnya, manusia hidup dibekali dengan akal. Akal yang dimiliki, akan digunakan untuk berusaha menjadi sebaik-baik manusia. Misalnya sekolah, kuliah, dan bekerja, namun dibalik kerja keras untuk menjadi sesuatu yang baik, tentu atas kehendakNya. Sehingga dari hal ini timbul keyakinan akan kepercayaan dan kepasarahan terhahadap kekuasaan yang lebih tinggi. Dan mereka yakin bahwa setiap manusia memiliki kekuatan besar yang tak sama.

Masuknya roh ke dalam tubuh penari, menjadi pengingat bahwa manusia pun meyakini adanya alam kehidupan dunia dan alam kehidupan ghaib yang telah dituliskan pada kitab agama.

Pada zaman kerajaan Hindu di Indonesia, properti kuda dimaknai sebagai simbol keberanian, kekuatan dan sifat pantang menyerah. Dan tiga hal ini pula yang semestinya dimiliki oleh manusia dalam hidupnya.

Sekelompok orang juga beranggapan bahwa warna pada kuda-kudaan dalam Kuda Lumping memiliki arti sendiri. Seperti merah sebagai simbol dari kebranian dan kewibawaan, warna putih melambangkan kesucian pikiran dan hati yang kemudian direfleksikan dalam semua panca indera, sehingga menghasilkan tindak-tanduk yang selaras; dan warna hitam melambangkan sifat yang buruk.

Dan sebagian masyarakat juga mengartikan sajak-sajak, percakapan antar tokohnya sebagai sarana pengingat supaya manusia berkelakuan baik dan selalu ingat dengan Tuhannya.


Sumber : Diolah dari berbagai sumber

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga43%
Pilih SedihSedih12%
Pilih SenangSenang9%
Pilih Tak PeduliTak Peduli16%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi10%
Pilih TerpukauTerpukau11%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Kisah Asnawi, Mahasiswa UMY Yang Selesaikan Kuliah Dengan Jualan Gorengan Sebelummnya

Kisah Asnawi, Mahasiswa UMY Yang Selesaikan Kuliah Dengan Jualan Gorengan

Pohon Pengantin Salatiga, Pohon Kesepian Penyatu Dua Insan Selanjutnya

Pohon Pengantin Salatiga, Pohon Kesepian Penyatu Dua Insan

Candriko Pratisto
@candriko_pratisto

Candriko Pratisto

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.