Lupa Sandi?

Makna Tersebunyi Dari Pagelaran Kuda Lumping

Candriko Pratisto
Candriko Pratisto
0 Komentar
Makna Tersebunyi Dari Pagelaran Kuda Lumping

Kuda Lumping merupakan sebuah tarian menggunakan properti kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu serta ditunggangi oleh seorang penari yang dirasuki kekuatan ghaib.

Dalam penampilannya, biasanya tarian ini diiringi oleh alat musik tradisional seperti gong, kenong, kendang, dan juga slompret.

Kuda Lumping punya beragam sebutan dari tiap-tiap daerah, misalnya Jawa Barat disebut dengan Kuda Lumping, Jaranan Buto dari Banyuwangi, Jaran Kepang dari Surabaya, Jaranan Turonggo Yakso dari Trenggalek, Jathilan Hamengkubuwono dari Yogya dan Jawa Tengah, dan Jaranan Sang Hyang dari Bali.

Kuda Lumping adalah seni tari yang sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu berkembang di Indonesia. Pada masa itu, tarian adalah sarana penting dalam setiap upacara yang lekat dengan spiritualitas dan juga sarana berkomunikasi dengan arwah para leluhur. Oleh karena itu, Kuda Lumping merupakan salah satu contoh bentuk kesenian budaya kuno yang didalamnya mengandung kekuatan magis. 

Baca Juga
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Tari Kuda Lumping (© www.topindonesiaholidays.com)

Dalam pertunjukan Kuda Lumping, bagian yang paling mencuri perhatian penonton adalah saat salah satu atau beberapa penari kerasukan roh yang diyakini sebagai arwah nenek moyang. Dalam adegan ini, akan diperagakan hal-hal diluar nalar yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. Biasanya, penari yang kerasukan akan memiliki kekebalan fisik, seperti kebal terhadap pukulan musuh atau benda keras, goresan senjata tajam, bahkan yang sering kita tahu seperti makan beling dan silet.

Meski sering membuat bergidik ngeri melihat salah satu penari yang ndadi ditengah pagelarannya, ternyata tarian ini punya makna penting bagi kehidupan manusia yang bisa dipetik.

Di Ponorogo misalnya, kehadiran roh ditandai dengan salah satu penari yang berubah sikap menjadi lebih bringas dan biasa disebut sebagai warok. Lawan dari warok gemblakan. Dari keduanya, masing-masing digambarkan sebagai singa hitam untuk warok, sedangkan merak untuk gemblakan. Dan saat pagelaran Kuda Lumping berlangsung, terjadilah pertandingan antara warok dan gemblakan. Hubungan antara warok dan gemblakan inilah yang diibaratkan sebagai sifat-sifat manusia. Ada yang baik dan ada pula yang jahat. Mereka yang baik biasanya diperagakan memiliki sifat sabar, lebih rendah diri, dan senang memberi petuah-petuah. Nah, untuk mereka yang memiliki sifat jahat, akan memiliki sifat sombong, seenaknya sendiri, tamak, dan lebih liar.

Masyarakat lokal yang begitu mengenal dekat Kuda Lumping, memaknai peristiwa kerasukan itu sebagai kekuatan besar di luar kendali manusia. Lebih jelasnya, manusia hidup dibekali dengan akal. Akal yang dimiliki, akan digunakan untuk berusaha menjadi sebaik-baik manusia. Misalnya sekolah, kuliah, dan bekerja, namun dibalik kerja keras untuk menjadi sesuatu yang baik, tentu atas kehendakNya. Sehingga dari hal ini timbul keyakinan akan kepercayaan dan kepasarahan terhahadap kekuasaan yang lebih tinggi. Dan mereka yakin bahwa setiap manusia memiliki kekuatan besar yang tak sama.

Masuknya roh ke dalam tubuh penari, menjadi pengingat bahwa manusia pun meyakini adanya alam kehidupan dunia dan alam kehidupan ghaib yang telah dituliskan pada kitab agama.

Pada zaman kerajaan Hindu di Indonesia, properti kuda dimaknai sebagai simbol keberanian, kekuatan dan sifat pantang menyerah. Dan tiga hal ini pula yang semestinya dimiliki oleh manusia dalam hidupnya.

Sekelompok orang juga beranggapan bahwa warna pada kuda-kudaan dalam Kuda Lumping memiliki arti sendiri. Seperti merah sebagai simbol dari kebranian dan kewibawaan, warna putih melambangkan kesucian pikiran dan hati yang kemudian direfleksikan dalam semua panca indera, sehingga menghasilkan tindak-tanduk yang selaras; dan warna hitam melambangkan sifat yang buruk.

Dan sebagian masyarakat juga mengartikan sajak-sajak, percakapan antar tokohnya sebagai sarana pengingat supaya manusia berkelakuan baik dan selalu ingat dengan Tuhannya.


Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga83%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau17%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG CANDRIKO PRATISTO

Senang mengkhayal di tengah bercerita ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas