Lupa Sandi?

Srikandi Rock ‘n Roll itu Bernama Dara Puspita

Luqman Saputro
Luqman Saputro
0 Komentar
Srikandi Rock ‘n Roll itu Bernama Dara Puspita

Surabaya, Surabaya, oh Surabaya

kota kenangan, kota kenangan

takkan terlupa

Di sanalah, di sanalah, di Surabaya

pertama lah, tuk yang pertama

kami berjumpa 

Syair di atas merupakan penggalan dari tembang berjudul Surabaya. Meskipun sederhana, namun lagu ini mampu menggugah imajinasi kita tentang sebuah kota besar di Jawa Timur di masa perjuangan. Hingga kini, beberapa stasiun kereta api di Surabaya sering melantunkan nada lagu ini. Tembang Surabaya seolah menjadi predikat yang melekat dan bahkan menjadi bagian dari identitas kota terbesar kedua di Indonesia tersebut. Surabaya adalah kota pahlawan dan kota perjuangan anak bangsa.

Namun pernahkah kawan-kawan berpikir, siapakah yang memulai popularitas lagu Surabaya? Awalnya, lagu tersebut diciptakan pada tahun 1928 oleh grup sandiwara Bintang Soerabaja. Namun menurut artikel dari Boombastis, lirik lagu tersebut dimodifikasi hingga diterbitkan pada tahun 1966 dan menjadi lagu Surabaya yang kita kenal hingga sekarang.

Tak kenal maka tak sayang. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas tentang Dara Puspita. Band yang mengalami puncak kejayaan pada era 1960an hingga 1970an mengusung konsep yang unik. Dara Puspita adalah band pertama di Indonesia yang semua anggotanya adalah wanita.

Pertemuan dengan Koes Bersaudara

Sebelum menjadi Dara Puspita yang terkenal, band tersebut masih bernama Nirma Puspita dan lahir pada tahun 1960 di kota Surabaya. Menurut Rolling Stone Indonesia, Nirma Puspita pada saat itu masih menjadi band pengiring. Seiring perjalanan, satu per satu anggota Nirma Puspita mengundurkan diri hingga tersisa empat nama. Titiek AR sebagai gitaris, Prasetiani sebagai gitaris dan vokalis, Lies AR pembetot bass, dan Susy Nander sebagai penggebuk drum. Transformasi band tersebut kemudian melahirkan nama baru Irama Puspita, pengganti Nirma Puspita.

Pada era 1960an, semangat musik yang menggelora pada saat itu adalah genre rock ‘n roll. Anak-anak muda Indonesia tahun 60an juga tak luput dari gelombang budaya ini. Band-band barat menjadi panutan bagi budaya pop pada saat itu. Penggemar The Beatles, The Rolling Stones, hingga Creedence Clearwater Revival mulai bermunculan di Indonesia. Bahkan mereka menjadi referensi bagi para kawula muda dalam bermusik. Koes Bersaudara adalah salah satu contoh yang mengekalkan budaya pop 60an di Indonesia. Kelak, band tersebut menjadi mentor yang berhasil menempa Irama Puspita di kemudian hari.

Dara Puspita berpose di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda pada tahun 1971
Dara Puspita berpose di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda pada tahun 1971

Babak perubahan nasib Irama Puspita bermula ketika mereka mendengar bahwa Koes Bersaudara, band idola mereka, akan menggelar konser di Taman Hiburan Rakyat Surabaya pada April 1964. Pertunjukan tersebut adalah kesempatan yang tidak bisa dilewatkan bagi Irama Puspita. Titiek AR mendekati dan melobi panitia untuk memasukkan Irama Puspita untuk tampil di pertunjukan yang sama. Tak lupa ia mencari tahu hotel tempat Koes Bersaudara menginap demi mendapat tanda tangan.

Di Hotel Simpang, Irama Puspita berhasil menemui para personel Koes Bersaudara. Pertemuan tersebut, bagi Irama Puspita, merupakan hari awal perubahan nasib mereka. Tonny Koeswoyo, salah satu personel Koes Bersaudara, mengatakan bahwa band pengiring seperti Irama Puspita tidak akan terkenal kalau tidak bermain di Jakarta.

Terbakar oleh motivasi tersebut, Titiek dkk. kemudian memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Bermodal nekat dan semangat ingin terkenal, mereka ke Jakarta Selatan untuk mencari tempat Koes Bersaudara biasa berlatih. Terkejut dengan kunjungan tersebut, Koes Bersaudara kemudian bersedia untuk menjadi mentor yang mengasah kepiawaian Irama Puspita. Berkat Koes Bersaudara, Irama Puspita mampu mengasah kualitas bermusiknya sebagai modal untuk menjadi terkenal.

Personel Koes Bersaudara. Band inilah yang menjadi mentor bagi Dara Puspita © Garage Hangover
Personel Koes Bersaudara. Band inilah yang menjadi mentor bagi Dara Puspita © Boombastis

Dalam usia seumur jagung, Irama Puspita sempat mengalami perubahan formasi. Lies AR harus kembali ke Surabaya untuk menempuh ujian SMEA. Posisi Lies kemudian digantikan oleh Hamziati Hamzah (dikenal dengan nama Titiek Hamzah). Titiek Hamzah adalah seorang gadis yang berbakat sebagai penulis lagu sekaligus ahli dalam memainkan berbagai alat musik.

Masalah baru muncul ketika Lies kembali ke Jakarta. Timbul perselisihan di dalam Irama Puspita yang menyebabkan Prasetiani hengkang dari band tersebut. Tidak hanya formasi anggota, nama Irama Puspita pun juga ikut berubah menjadi Dara Puspita. Menurut kesaksian dari salah satu anggota Dara Puspita, nama Dara Puspita muncul karena kesalahan panitia penyelenggara saat mereka tampil di Istora Senayan pada akhir Februari 1965.

"Tapi kami waktu itu ndak protes karena nama Dara Puspita lebih enak kedengarannya," ungkap Susy Nander, mantan drummer Dara Puspita.

Untuk selanjutnya, formasi yang baru tersebut bertahan hingga Dara Puspita memutuskan untuk bubar.

Meskipun lambat laun Dara Puspita mulai mendapat sorotan, kondisi politik domestik pada saat itu kurang bersahabat bagi mereka. Rezim Orde Lama pada saat itu anti terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan negara-negara barat imperialis. Musik rock ‘n roll pada saat itu dicibir oleh pemerintah sebagai musik "ngak-ngik-ngok".

Berdasarkan informasi dari Rolling Stone Indonesia, "ngak-ngik-ngok" adalah idiom yang dilontarkan Bung Karno terhadap perilaku budaya populer dari negara-negara imperialis yang dikumandangkan lewat band-band atau pemusik bernafas rock ‘n roll. Koes Bersaudara dan Dara Puspita tak luput dari sasaran bredel pemerintah Orde Lama. Koes Bersaudara dijebloskan di penjara. Sedangkan Dara Puspita hanya diwajibkan untuk lapor seminggu sekali kepada pihak yang berwajib.

Meski menghadapi kecaman pemerintah terhadap musik rock, namun Dara Puspita tetap tidak bergeming. Dara Puspita tetap menghentak mengikuti irama rock ‘n roll. Dengan gaya panggung yang bertenaga, mereka seolah menggebrak stigma bahwa wanita harus kalem dan lembut. Meski mengandalkan teknologi rekaman yang seadanya, Dara Puspita tetap berkarya hingga menjadi salah satu pemain penting di dalam musik rock di Indonesia.

Dara Puspita saat tampil di panggung. Wanita Indonesia era 60an belum ada yang seenergik ini © Boombastis
Dara Puspita saat tampil di panggung. Wanita Indonesia era 60an belum ada yang tampil seenergik ini © Boombastis

Tampil di Luar Negeri hingga Tur Keliling Indonesia

Tidak hanya di tanah air, Dara Puspita juga mendapat kesempatan untuk tampil di luar negeri. Di Asia Tenggara, Dara Puspita pernah tampil di Malaysia dan Thailand. Ketika di Thailand, Dara Puspita mengeluarkan lagu berjudul Pantai Pataya. Negara Asia lain yang menjadi tujuan manggung Dara Puspita adalah Iran. Pada tahun 1968, Dara Puspita sempat diminta tampil di hadapan anggota Kerajaan Iran (pada saat itu masih berbentuk kerajaan hingga tahun 1979). Pangeran Kerajaan Iran sempat meminta Dara Puspita untuk memainkan lagu Kakatua.

Setelah Iran, Dara Puspita kemudian pergi dan tampil di Jerman Barat, Turki, dan Hongaria. Dalam rentang waktu selama satu tahun lebih, Dara Puspita melakukan 250 pertunjukan di 70 kota. Di Eropa, Dara Puspita tampil di klub-klub malam hingga pangkalan militer Amerika Serikat di Eropa.

Dara Puspita kemudian tiba di Inggris. Di sana, mereka sempat tampil di kota London hingga Liverpool, kota kelahiran The Beatles. Di Inggris pula Dara Puspita sempat merekam lagu Ba Da Da Dum dan Dream Stealer.

Petualangan Dara Puspita di Eropa kemudian berlanjut ke Perancis, Belgia, Spanyol, dan Belanda. Namun di tengah keliling Eropa, Dara Puspita mulai tidak harmonis. Titiek Hamzah secara tertulis menyatakan ingin mengundurkan diri dari Dara Puspita. Namun keinginan tersebut tertahan dengan alasan rencana tur keliling Indonesia.

Personel Dara Puspita di kota Köln, Jerman Barat pada tahun 1968 © Handiyanto
Personel Dara Puspita di kota Köln, Jerman Barat pada tahun 1968 © Handiyanto

Dara Puspita tiba di Indonesia pada tahun 1971 dan disambut bak superstar kelas dunia. Rencana tur keliling Indonesia sudah dipersiapkan. Dara Puspita tampil bersama band-band terkenal Indonesia lainnya. Namun dibalik ketenaran Dara Puspita, rumor bubar tetap diketahui oleh publik. Pada tanggal 29 Maret 1972, Dara Puspita manggung untuk terakhir kalinya di Jakarta. Pada tahun tersebut kemudian Dara Puspita menyatakan diri untuk bubar.

Warisan dan Prestasi Dara Puspita bagi Musik Indonesia

Banyak penggemar yang menyayangkan keputusan bubarnya Dara Puspita. Selain hanya bertahan sekitar tujuh tahun, Dara Puspita bubar di saat mereka masih berjaya di tanah air. Meskipun demikian, Dara Puspita memberikan sumbangsih yang sangat berharga bagi khazanah musik Indonesia. Dua tembang Dara Puspita yang berjudul Surabaya dan Mari-Mari berhasil masuk ke dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa oleh Rolling Stone Indonesia.

Gambar sampul depan majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2015 yang menampilkan Dara Puspita. Band wanita tersebut berhasil mengukuhkan dua karyanya di dalam 150 Lagu Terbaik Sepanjang Masa di Indonesia © Rolling Stone Indonesia
Gambar sampul depan majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2015 yang menampilkan Dara Puspita. Dua karya dari Dara Puspita berhasil masuk ke dalam 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa © Rolling Stone Indonesia

Dara Puspita juga mendapatkan Lifetime Achievement Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) 2014 atas jasanya di dalam blantika musik Indonesia. Berdasarkan pemaparan Rolling Stone Indonesia, Dara Puspita merupakan wujud keberanian berekspresi di tengah tekanan rezim Orde Lama yang represif terhadap budaya barat yang dianggap melemahkan bangsa. Selain itu, Dara Puspita juga menjadi simbol kesetaraan gender di dalam dunia musik Indonesia. Ketika musik Indonesia masih didominasi oleh band-band pria, Dara Puspita hadir sebagai Srikandi rock ‘n roll yang menghentak panggung tanah air dengan energik. Berlawanan dengan adat yang memaksa wanita untuk berlaku lemah lembut.

Dara Puspita juga berhasil menjadi pelopor tren kelahiran band-band wanita lainnya. Sebut saja The Singers dan The Beach Girls di akhir era 1960-an. Kemudian pada dekade berikutnya muncul Pretty Sisters, Aria Junior, One Dee and The Ladyfaces, The Orchids, Anoas, Antique Clique, Ress Group, Partha Putri dan lain-lain. Bahkan pada tahun 1976 majalah Top pernah menyelenggarakan Festival Band Wanita pertama di Indonesia. Tidaklah berlebihan apabila Dara Puspita menjadi band yang berpengaruh bagi Indonesia.

Stay Rock ‘n Roll, Oma!


Sumber: Diolah dari berbagai sumber.

Sumber Gambar Utama: Qubicle

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang6%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau19%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG LUQMAN SAPUTRO

Mahasiswa biasa, penulis cerpen amatiran, (mendaku sebagai) arek Suroboyo, juru kunci di masroyalbecak.blogspot.com ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas