Setiap negara tentu memiilki makanan khasnya masing-masing dan kita sebagai penikmat makanan pasti pernah mengecap dan mengenali suatu makanan, bahkan hanya dari nama makanannya. Misalnya, kita akan selalu tahu bahwa tom yam itu berasal dari Thailand, sushi berasal dari Jepang, kimchi berasal dari Korea dan Taco berasal dari Mexico.

Kenapa ini bisa terjadi? Ternyata makanan merupakan salah satu dari instrumen diplomasi yang cukup ampuh dalam mengenalkan sebuah negara. Diplomasi ini dikenal dengan diplomasi kuliner atau gastrodi plomacy yang bertujuan untuk menarik pihak luar negeri untuk mengenal suatu negara melalui makanan atau kulinernya.

Hal ini sudah dilakukan di beberapa negara dan cukup berhasil. Thailand misalnya, pada tahun 2002 sempat menggaungkan diplomasi melalui makanan dengan program Global Thai Program. Program ini menekankan untuk meningkatkan jumlah restoran-restoran dengan makanan khas Thailand diseluruh belahan dunia. Pada awalnya, restoran yang berbau khas Thailand hanya ada 5.500 gerai. Namun, seiring berjalannya waktu, pada tahun 2012 keberhasilannya mulai nampak menjadi lebih dari 10.000 restoran. Tidak hanya itu, kita sendiri yang di Indonesia juga menjadi banyak yang menyukai masakan Thailand bukan?

Diplomasi Makanan di Qatar (sumber : Tribun Jatim - Tribunnews.com)
Diplomasi Makanan di Qatar (sumber : Tribun Jatim - Tribunnews.com)

Negara lain yang melakukan diplomasi model ini adalah Jepang dengan program kuliner Shoku-bunka kenkyu suishin kondankai pada tahun 2005, Malaysia dengan program Malaysia Kitchen For The World di Amerika, United Kingdom, Australia, Selandia Baru dan Cina. Kemudian Taiwan dengan program Dim Sum Diplomacy, Australia dengan program There’s Nothing Like Australia pada tahun 2014, dan masih banyak lagi.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia sendiri sudah menerapkan diplomasi unik yang dikatakan salah satu instrumen diplomasi tertua ini. Pada tahun 2010, Indonesia gencar mempromosikan rendang sebagai masakan khas Indonesia. Rendang Diplomacy ini ternyata membuahkan hasil yang cukup baik. Rendang menjadi makanan terenak versi CNN melalui Facebook Poll dan disusul dengan nasi goreng di posisi kedua.

Pelaksanaan gastro diplomacy Indonesia ternyata tak berhenti dari situ saja. Perwakilan Indonesia di luar negeri, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) mendukung penuh terhadap diseminasi kuliner Indonesia melalui ajang pameran-pameran yang ada di negara perwakilan.

Rendang menjadi makanan terlezat di dunia (sumber : CNN Travel)
Rendang menjadi makanan terlezat di dunia (sumber : CNN Travel)

Beberapa minggu yang lalu penghasil kopi Indonesia, Barista Indonesia dan kopi dari Indonesia berhasil menyabet medali emas dan perunggu di Melbourne International Coffee Expo (MICE) 2017. Hal ini mengingatkan juga bahwa kopi dari Indonesia yakni Kopi Luwak merupakan kopi termahal di dunia dengan harga 150 US$ per 500 gram.

Di sisi lain, mie instan yang biasa kita lihat sehari-hari dan juga menjadi ‘teman setia’ mahasiswa rantau, Indomie ternyata telah mengakar di luar negeri. Bahkan sudah mendominasi dilebih dari 100 negara di seluruh belahan dunia termasuk negara-negara Eropa, Afrika dan Amerika Serikat.

Indonesia memiliki makanan khas yang jumlahnya luar biasa, yakni lebih dari 5.300 makanan khas. Namun akan terlalu lebar dan panjang untuk djelaskan. Untuk itu mari kita lihat makanan yang sehari-hari kita makan, yakni tempe dan tahu, di Jerman terdapat kafe tempe (tempeh) dan tahu (tofu) dengan nama Sojahaus. Kafe ini terletak di kota Nuremberg dan menyediakan menu berbahan tempe dan tahu dari Indonesia. kafe ini dimiliki oleh pria Sunda bernama Setia Nugraha. Di Jepang, ada Rustono sang ‘ Raja Tempe’ yang ternyata usahanya menjual tempe ini telah berekspansi di 7 negara termasuk Perancis dan Polandia. Di London pun ada warung bernama Authentic Indonesian Tempeh yang dimiliki oleh William Mitchel, bule asal Inggris.

Pengunjung kafe tempe dan tahu di Jerman (sumber : Traveling Yuk)
Pengunjung kafe tempe dan tahu di Jerman (sumber : Traveling Yuk)

Euforia akan makanan Indonesia ini pun semakin membuat Indonesia dikenal di mata dunia, setiap booth stand Indonesia pada pameran kuliner di luar negeri selalu dipenuhi oleh pengunjung yang penasaran dengan makanan dan minuman Indonesia. Alhasil terbentuklah rasa kecintaan akan Indonesia melalui makanan Indonesia, banyak orang luar negeri yang ternyata cinta terhadap Indonesia.

Bisa dilihat dahsyatnya makanan Indonesia dari Audun Kvitland, musisi dari Norwegia yang jatuh cinta dengan Nasi Padang. Fransoa dari Peracis yang merilis lagu berjudul 'aku lapar' berisi 43 nama makanan Indonesia dan bahkan Obama sendiri pun pada waktu datang ke Indonesia sewaktu dirinya masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat mengutarakan perasaan senangnya ketika makan makanan Indonesia seperti bakso dan sate. Gastrodiplomacy yang kini sedang dilakukan oleh Indonesia menjadi salah satu instrumen ampuh untuk menumbuhkan kecintaan orang luar negeri terhadap Indonesia.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu