Lupa Sandi?

Menyajikan Islam yang Lemah Lembut dalam Tiga Mangkuk Takjil

Zia Dzulfia
Zia Dzulfia
0 Komentar
Menyajikan Islam yang Lemah Lembut dalam Tiga Mangkuk Takjil

Berbicara Ramadan di Indonesia berarti tidak hanya berbicara puasa, tarawih, dan ibadah utama lainnya, tetapi juga keunikan yang cuma ada di negeri ini. Salah satunya takjil. Sebenarnya, istilah takjil sendiri bukan berarti makanan pembuka puasa.

Dalam bahasa Arab, takjil berarti “bersegera” yang diambil dari hadist Nabi Muhammad SAW yang menyuruh untuk segera berbuka puasa jika sudah sampai waktunya. Kebiasaan masyarakat Arab yang biasa menyegerakan berbuka dengan korma akhirnya diadopsi oleh masyarakat Indonesia dengan menyebut kurma dan makanan berbuka lain sebagai ‘Takjil’. Pembelokan makna ini disebutkan oleh beberapa linguis terjadi sejak 10 tahun terakhir.

Namun diluar pembelokan maknanya, toh ‘takjil’ memiliki cerita kebaikan tersendiri. Kisah tentang ajaran Islam yang penuh kasih, seperti yang datang dari beberapa daerah berikut ini.

Bubur Lodeh di Yogyakarta

Seperti daerah lain di Indonesia, warga Yogyakarta juga biasa menyantap takjil saat berbuka. Namun ada yang tak biasa di Masjid Sabiilurrosya’ad Dusun Kauman, Kabupaten Bantul. Mereka memiliki tradisi cukup unik yang sudah diwariskan secara turun termurun sejak abad ke-16, yaitu berbuka dengan bubur sayur lodeh sebagai takjil.

tradisi berbuka dengan bubur lodeh di Masjid Sabilurrosyad, Bantul Yogyakarta. Warisan sejak abad 16
tradisi berbuka dengan bubur lodeh di Masjid Sabilurrosyad, Bantul Yogyakarta. Warisan sejak abad 16 (dok/reg.kompas)

Pada dasarnya, bubur ini tidak jauh berbeda dengan bubur lain di Indonesia. Bahan utamanya ialah bubur yang disajikan dengan kuah sayur lodeh berisi tempe, tahu, dan daging ayam khusus hari Jumat. Bubur sendiri merupakan makanan asli Gujarat, India. Namun kreativitas masyarakat pribumi mengolahnya dengan bahan yang ada disekitar mereka, yaitu salah satunya dengan dicampur sayur lodeh yang merupakan makanan khas Jawa.

Disampaikan oleh Sekretaris Takmir Sabiilurrosya’ad, Hariyadi mengungkapkan bahwa tradisi takjilan dengan bubur lodeh ini sudah dilakukan sejak sekitar tahun 1570 Masehi, di bawah pimpinan Panembahan Bodho yang bernama asli Adipati Trenggono. Ia merupakan murid Sunan Kalijaga yang menolak jabatan Adipati Terong di Sidorejo dan memilih menjadi ulama, mensyiarkan Islam di Desa Wijirejo.

bubur sayur lodeh (dok/metrotv)
bubur sayur lodeh (dok/metrotv)

Selain sudah lestari hampir lima abad lebih, bubur lodeh ini juga memiliki filosofi Islam yang lemah lembut yang terdiri dari dua hal: bibirrin dan beber. Bibirrin berarti kebagusan, maksudnya ajaran Islam harus diajarkan dengan cara yang baik dan lembut, bukan kekerasan.

Adapun beber memiliki dua makna sekaligus: pertama berarti sebelum takjil dibagikan, akan lebih dahulu ada penjelasan—atau pembeberan mengenai agama Islam. Sedangkan beber kedua memiliki filosofi bahwa ajaran Islam harus menyatu dengan masyarakat, tanpa memandang status sosial, dan harus disampaikan dengan cara yang halus bukan dengan pedang atau kekerasan.

Bubur Suro di Tuban

Jika Yogyakarta punya bubur lodeh, maka Tuban punya bubur suro sebagai tradisi takjil masyarakatnya, khususnya yang berada di kawasan makam Sunan Bonang. Seperti juga bubur lodeh, bubur suro memiliki usia yang panjang karena ia merupakan makanan berbuka yang diwariskan secara turun-temurun sejak zaman Sunan Bonang.

pengurus masjid Sunan Bonang memasak bubur suro (dok/beritabojonegoro)
pengurus masjid Sunan Bonang memasak bubur suro (dok/beritabojonegoro)

Takjil legendaris ini berbahan utama beras sebanyak 12 kilogram, bumbu kari yang terdiri dari santan dan rempah, serta balungan dan daging sapi cincang. Untuk memasaknya, para juru masak masih menggunakan tungku api tradisional, dengan lama masak 2,5 sampai 3 jam. Setiap bulan Ramadan, pengurus yayasan Sunan Bonang akan memasak bubur suro tersebut dan membagikannya kepada orang-orang di kawasan makam Sunan Bonang, Kabupaten Tuban.

Mengenai namannya sendiri, bubur suro diambil dari kata nama bulan dari Bahasa Jawa, sedangkan bahasa Arabnya Muharram. Salah satu pengurus Yayasan Sunan Bonang, Ihwan Hadi menyebut bahwa nama bubur suro digunakan merujuk pada kebiasaan orang Jawa yang selalu memasak bubur pada bulan suro. Bubur ini dikatakan kental dengan aroma makanan khas Timur Tengah, dengan bumbu kari dan daging yang terasa menyentak di lidah.

bubur suro
bubur suro

Selain lezat, bubur ini juga memiliki nilai perjuangan. Ihwan mengatakan bahwa Sunan Bonang dahulu membagikan bubur suro kepada orang-orang tidak mampu di kawasan Tuban sembari berdakwah mensyiarkan Islam. Hal ini menjadi bukti tambahan bahwa sejak dahulu, Islam masuk dan berhasil melebur dengan damai diantara masyarakat Indonesia.

Bubur Samin di Solo

Satu takjil legendaris lain yang hanya dimasak bulan Ramadan datang dari Solo, Jawa Tengah, yaitu bubur samin. Pada bulan Ramadan, ratusan orang akan mengantre untuk mendapatkan bubur tersebut dari Masjid Darussalam Jayengan, Sarengan, Solo secara cuma-cuma.

Takjil yang sudah melegenda sejak tahun 1960-an di Solo ini berbahan utama beras, dengan kuah yang terdiri dari beberapa rempah seperti kapulaga, kayu manis, serta minyak samin yang berwarna kekuningan sebagai ciri khas. Bubur ini juga dicampur dengan daging dan sayuran dan diaduk selama kurang lebih 4 jam.

tradisi bubur samin (dok/liputan6)
tradisi bubur samin (dok/liputan6)

Sebenarnya, bubur samin ini merupakan makanan biasa khas Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di daerah asalnya, bubur ini biasa dijual setiap hari. Sedang di Solo, bubur samin disajikan secara istimewa yaitu hanya pada bulan Ramadan dan hari-hari besar Islam. Meski begitu keberadaan bubur ini juga tak lepas dari syiar Islam yang rahmatallil alamin.

Ketua Pengurus Masjid Darussalam Solo, Rosyidi Muchdlor menceritakan bahwa bubur samin dibawa oleh pendatang asal Martapura yang merantau ke Solo. Para pedagang rantau yang merupakan saudagar dan pengrajin batu mulia ini pada 1930-an berinisiatif membangun langgar di Jayengan berdinding bambu yang kemudian menjadi tembok yang berupa Masjid Darussalam seperti sekarang ini.

bubur samin
bubur samin

Dahulu, selain untuk kegiatan ibadah, masjid ini digunakan sebagai tempat pertemuan para saudagar di Kota Solo. Saat berkumpul dan bersilaturahmi, terutama pada bulan puasa, akan disajikan hidangan takjil berupa bubur samin. Bubur tersebut juga seringkali dibagikan tidak hanya untuk masyarakat kurang mampu, tetapi semua kalangan agar dapat sama-sama merasakan kenikmatan bubur khas Kalimantan tersebut sembari menyemarakkan Ramadan.

Lewat sajian makanan di atas, Islam berhasil hadir tersaji di Indonesia dengan lemah lembut dan rahmatullil alamin. Tanpa ucapan kasar. Apalagi kekerasan.

Jadi, sudah menyiapkan takjil apa untuk berbuka hari ini?

*
diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ZIA DZULFIA

Sedang hidup dikelilingi karakter fiksi. Paling suka makan pop mie lewat jam 12 malam di kereta saat perjalanan keluar kota. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata