Lupa Sandi?

Kisah Masa Muda dan Warisan Dua Budaya di Sudut Surabaya

Zia Dzulfia
Zia Dzulfia
0 Komentar
Kisah Masa Muda dan Warisan Dua Budaya di Sudut Surabaya

Jika diibaratkan manusia, Surabaya mungkin mirip sosok rocker legendaris dunia: panas, enerjik, meluap-luap. Meski usianya sudah menginjak 724 tahun, namun hari ini ia masih punya semangat yang sama seperti dua abad lalu: jalan-jalan masih ramai kendaraan, arena jual beli tidak pernah sepi interaksi, kapal-kapal besar di pelabuhan mondar-mandir menurun-naikkan barang, dan banyak pendatang yang membawa pertaruhan di dalamnya.

Untuk mengenal Surabaya lebih dalam, Tim GNFI disuguhkan cerita masa muda Kota Pahlawan ini oleh seorang pedagang berkebangsaan Asia dalam buku karya Mcmillan. Ia mengenang spirit Surabaya tahun 1920-an:

The song of Sourabaya is the song of labour. No more hard-working place can be found east of Suez except this place. All day the streets are busy, and the roar of traffic is never stilled. Nor does the night bring quietness,  for.. the inhabitants seek to recuperate their tired energies in pursuit of pleasure. With brilliant suns and gharish nights, Sourabaya lives on its reserves of nervous energy…

Jembatan merah, perkampungan Eropa sekaligus pusat pemerintahan dan bangunan publik seperti bank dan rumah sakit
Jembatan merah, perkampungan Eropa sekaligus pusat pemerintahan dan bangunan publik seperti bank dan rumah sakit

Kesibukan legendaris dari kota ini yang diingat lelaki berkebangsaan Asia di atas tentu tidak terjadi begitu saja. Letak geografis Surabaya yang strategis terletak di ujung timur Pulau Jawa dan berhadapan langsung dengan Selat Madura dan Laut Jawa menempatkannya pada posisi prestise sebagai kota pelabuhan penting, bahkan sejak zaman Majapahit yang jaya sekitar abad 14.

Saat bangsa Eropa mulai menduduki wilayah ini, kemudian peran Surabaya menjadi lebih besar lagi. Ia ditunjuk sebagai ‘colleting centers’ dari hasil perkebunan daerah hinterland nya serta menjadi tumpuan akhir hasil bumi dari Jawa yang akan diekspor ke negeri luar. Tak pelak sejarawan ternama Howard Dick menyebut Surabaya sebagai kota pelabuhan tersibuk dan terbesar di Hindia Belanda pada tahun 1900-an.

Tren perdagangan maritim internasional ini akhirnya membawa negeri-kerajaan Nusantara pada saat itu menjadi populer di kalangan pedagang. Sebut saja diantaranya Kerajaan Samudera Pasai, Singsasari, Majapahit sampai Mataram. Wilayah pesisir kemudian menjadi primadona—termasuk Surabaya—dan ditumpleki berbagai macam bangsa, diantaranya Timur Tengah, Tionghoa, dan Eropa.

Kalimas, jalur utama yang menghubungkan langsung ke laut lewat jalur air (dok/soerabaja tempo doeloe)
Kalimas, jalur utama yang menghubungkan langsung ke laut lewat jalur air (dok/soerabaja tempo doeloe)

Tumpleknya segala bangsa ini pada akhirnya membuat pemerintah Belanda gerah karena merasa eksklusifitasnya diganggu. Atas dasar itu pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan Regerings Reglement, sebuah kebijakan yang membagi kelompok masyarakat berdasarkan ras. Hal itu dilakukan dengan dalih memudahkan Belanda dalam mengontrol kelompok-kelompok masyarakat etnis, sehingga dibuatlah Kampung Arab dan melayu di wilayah utara Kalimas, Kampung Cina di selatan Kalimas, sedang pusat perkampungan Eropa berada di Jembatan Merah, bersama dengan pusat pemerintahan.

Sampai sini, Surabaya berhasil dikotak-kotakkan.

Berpadunya Resep Masakan Dua Budaya

Pemisahan kampung berdasarkan ras ini mungkin saja pada masanya memang dapat memisahkan tempat tinggal mereka, namun aktivitas ekonomi Surabaya yang padat dan tinggi membuat hal tersebut hanya terbatas sampai di sana. Toh, orang-orang berbagai bangsa masih terus bertemu melaksanakan aktivitas ekonomi. Kehidupan terus berjalan. Budaya semakin melebur satu sama lain membentuk akulturasi baru, salah satunya dalam hal makanan atau kuliner.

Ada yang menarik ketika Tim GNFI menelusuri jejak-jejak diskriminasi pemerintah Belanda mengenai perkampungan berdasarkan ras. Saat berkunjung ke Kampung Arab di Ampel dan Peranakan Tionghoa di Pasar Atum serta Kembang Jepun, kami seperti tersedot kembali menuju abad 18. Ramainya bangunan tua dan riuh rendah masyarakat keturunan dua bangsa tersebut menambah kentalnya atmosfir masa lalu. Belum lagi aktivitas ekonomi yang padat terutama di bidang kuliner yang rupanya saat ini menjadi warisan akulturasi budaya. Namun sayangnya, saat ini aktivitas ekonomi di kawasan pecinan Kembang Jepun telah redup dan lebih banyak terpusat di Pasar Atum. Sehingga yang tertinggal hanya bangunan-bangunan tua dan gerbang utama yang kental dengan unsur Tionghoa.

Kawasan Ampel, dikhususkan oleh pemerintah Belanda waktu itu untuk warga Timur Tengah dan Melayu (dok/surabaya tempo doeloe)
Kawasan Ampel, dikhususkan oleh pemerintah Belanda waktu itu untuk warga Timur Tengah dan Melayu (dok/surabaya tempo doeloe)

Berdasarkan keterangan Fadly Rahman, sejarawan ahli gastronomi Indonesia, posisigeografis Surabaya sebagai kota pelabuhan ini juga sangat berpengaruh pada citra kulinernya. Keberagaman penduduk di Surabaya pada dasarnya melahirkan bentuk akulturasi kuliner baru hasil kreativitas masyarakatnya.

Dalam manuskrip lokal seperti Serat Centhini disebutkan bahwa pengaruh cita rasa dua budaya yang lebih dulu hadir di  Surabaya, yaitu Timur Tengah dan Tionghoa sangat kental, bahkan sudah melebur menjadi cita rasa kolektif masyarakat pribumi. Rupanya angka persilangan budaya yang sangat tinggi memberi pengaruh besar dalam tata kelola kehidupan sehari-hari, terutama kuliner.

Kembang Jepun tahun 1930, kawasan yang dikhususkan untuk warga peranakan Tionghoa (dok/soerabaja tempo doeloe)
Kembang Jepun tahun 1930, kawasan yang dikhususkan untuk warga peranakan Tionghoa (dok/soerabaja tempo doeloe)

“Pada dasarnya, lanskap geografis itu sangat berhubungan dengan lanskap kulinernya. Hal itu juga berlaku di Surabaya sebagai Port City. Kekayaan kuliner Jawa Timur khususnya Surabaya tidak terlepas dari hal tersebut. Itulah kenapa akhirnya pengaruh peranakan Tionghoa seperti Sate dan Soto sudah melebur menjadi identitas kuliner Surabaya,” terangnya pada GNFI.

Keberadaan Kampung Arab di Ampel dan Peranakan Tionghoa di Kawasan Pasar Atum hari ini menjadi bukti lestarinya warisan keragaman budaya dan kentalnya diaspora Surabaya dari abad-abad yang lampau. Kekayaan kuliner, diversitas masyarakat dari berbagai bangsa, serta bangunan-bangunan tua di Kembang Jepun, Pasar Atum dan Ampel menyisakan romatisme di sudut kota. Serta atmosfer bahwa tidak pernah ada yang berubah di Surabaya.

Sebuah kota yang tak pernah menua.

*
GNFI

Pilih BanggaBangga63%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi5%
Pilih TerpukauTerpukau32%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ZIA DZULFIA

Sedang hidup dikelilingi karakter fiksi. Paling suka makan pop mie lewat jam 12 malam di kereta saat perjalanan keluar kota. Biasa menulis hal-hal remeh. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Indonesia Akan Pamerkan 400 Artefak di Europalia

Agatha Olivia Victoria2 bulan yang lalu

"Ternate, Terima kasih"

Akhyari Hananto2 bulan yang lalu

Di Balik Lagu "Hari Lebaran" Karya Ismail Marzuki

Adriani Zulivan2 bulan yang lalu

Transformasi Logo Telkom Indonesia

Yufi Eko Firmansyah3 bulan yang lalu
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie