Pascakemerdekaan, Soekarno ingin bangunan-bangunan di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri karena saat itu rumah dan beberapa gedung di Indonesia didominasi dengan gaya arsitektur Eropa. Salah satu gaya arsitektur khas Indonesia yang muncul dan sempat tenar pada masanya.

Arsitektur gaya jengki begitu populer di Indonesia pada kisaran waktu tahun 1950-1960an. Tidak begitu jelas siapa yang pertama kali menyebarkan gaya ini. Tapi bila merujuk pada pendapat Profesor Josef Prijotomo, pencetus gaya jengki ini adalah lulusan STM yang pernah menjadi aannemer (ahli bangunan) di perusahaan Belanda. Kala itu perusahaan tersebut sedang ditinggalkan oleh para arsitek Belanda ke kampung halaman mereka sehingga para lulusan STM ini pun ingin mengambil alih perencanaan gaya arsitektur khususnya untuk bangunan-bangunan di Nusantara.

Gaya bangunan karya arsitek para kolonial biasanya berlandaskan fungsionalisme. Dengan semangat untuk bisa membuat bangunan gaya sendiri tanpa pengaruh pihak asing, akhirnya para lulusan STM ini membuat tipe dan bentuk bangunan yang baru. Lantaran mereka umumnya memiliki pengetahuan yang terbatas sehingga gaya bangunan yang tercipta pun seperti tidak beraturan. Namun, justru gaya itulah yang kemudian menyebar secara sporadis ke daerah-daerah di Indonesia.

“Arsitekturnya saat itu masih sebagai seni, belum mengandung ilmu," jelas Prof. Josef Prijotomo.

Ya, kalau kita lihat dengan seksama, bangunan gaya jengki ini bentuknya tidak kentara. Ada yang melengkung-lengkung, ada yang miring, ada yang lurus. Namun, bentuk-bentuk ini tidak diterapkan pada seluruh ruangan melainkan pada satu bidang, misalnya jendela, rumah, atau atap.

Kata 'jengki' sendiri kemungkinan dihubungkan dengan kata Yankee, sebuah sebutan bagi orang-orang New England yang tinggal di bagian utara Amerika Serikat.

Sayangnya, arsitektur gaya jengki hanya bertahan kurang lebih selama satu dekade karena memasuki tahun 70-an mulai banyak arsitek yang lahir dan memberikan desain-desain baru dan segar. Akibatnya, gaya rumah jengki tidak terlalu banyak didirikan dan bertahan lama. Bangunan gaya ini pun semakin langka kita temui sekarang. Nah, salah satu kota yang bisa kita saksikan desain arsitektur seperti di Surabaya. Beberapa bangunan dengan gaya jengki bisa kita temui di beberapa sudut Kota Pahlawan ini, di antaranya:

Gerbang Taman Makam Pahlawan

Atap gerbang Taman Makam Pahlawan Surabaya yang unik ini bergaya jengki (foto: arsitek jengki)
Atap gerbang Taman Makam Pahlawan Surabaya yang unik ini bergaya jengki (foto: arsitek jengki)

 

Bila Kawan berkunjung ke Taman Makam Pahlawan Surabaya, coba lihat sejenak bagian gerbangnya. Spot terdepan TMP yang amat apik untuk dijadikan objek foto ini memiliki gaya jengki yang amat rapi. Pada bangunan ini, atapnya dibentuk kurva-kurva dengan kolom penyangga yang tidak dibuat simetris. Menurut beberapa sumber, karakteristik seperti inilah yang menjadi ciri khas bangunan jengki yang ada pada beberapa bangunan lain seperti Wisma Djendral Ahmad Yani, Gresik.

 

Rumah "S" Ampel

Rumah gaya jengki di Kampung Ampel ini sering disebut Rumah "S" (foto: rooang.com)
Rumah gaya jengki di Kampung Ampel ini sering disebut Rumah "S" (foto: rooang.com)

 

Di daerah Kampung Ampel kita bisa menemukan sebuah rumah yang unik bergaya jengki. Biasanya disebut dengan rumah "S". Dari depan kita akan melihat bingkai jendela yang miring tidak simetris pada dinding yang ditempeli susunan batu. Pun batu-batu itu disusun dengan berantakan. Kemungkinan rumah jengki ini dibangun di awal kemunculan gaya ini, yakni sekitar tahun 1950 saat belum ada arsitek lulusan perguruan tinggi.

Rumah Kolonel Soebandi

Lubang dinding rumah Kolonel Soebandi merupakan gaya jengki yang unik
Lubang dinding rumah Kolonel Soebandi merupakan gaya jengki yang unik

 

Berada di kawasan Jalan Dr. Soetomo, Surabaya, rumah keluarga Jenderal Soebandi memiliki gaya jengki yang berbeda dengan rumah gaya jengki sebelumnya. Awalnya rumah ini merupakan peninggalan Belanda, kemudian pada 1960 didatangkanlah pengrajin bangunan dari Madiun yang dikepalai oleh Sudrajat untuk merenovasi bagian ruang tamu hingga teras rumah dengan gaya jengki.

Beberapa ciri gaya jengki dari rumah ini tampak dari setiap bagian fasadnya. Di bagian depan maupun samping fasad selalu diisi dengan bebatuan. Kemudian pada bagian jendela depan dihiasi dengan sirip yang disusun miring, dipadukan dengan sosoran yang asimetris. Dan masuk ke dalam, lubang-lubang dinding penghubung antar ruangan dibuat miring khas gaya jengki.

 

Rumah Salim Martak

Rumah Salim Martak memiliki gaya jengki di bagian atap dan fasadnya (foto: ayorek.org)
Rumah Salim Martak memiliki gaya jengki di bagian atap dan fasadnya (foto: ayorek.org)

 

Rumah milik Bapak Salim Martak yang berada di Jalan Untung Suropati ini tampak juga berbeda gaya jengkinya dengan rumah-rumah sebelumnya. Namun, bagian atapnya agak mirip dengan gerbang Taman Makam Pahlawan yang berupa kurva, hanya saja atap rumah ini bentuknya melengkung ke atas dan memberikan kesan rumah yang cantik.

Salim Martak membeli Mess Angkatan Darat bergaya Kolonial di lokasi ini pada tahun 1952. Pada tahun 1963 ia kemudian merenovasinya, memperluas bagian depan dan menambahkan lantai kedua dengan desain dari seorang pemborong bernama Pak Timboel. Gaya jengkinya juga tampak lewat lubang-lubang udara di seluruh fasad bangunan.

Meski kini gaya bangunan sudah jauh lebih modern dan terkadang artistik, namun arsitektur jengki tidak akan lekang oleh waktu. Gaya inilah yang menjadi salah satu model pelopor arsitektur Indonesia pascakemerdekaan pada tahun 1950-1960. 

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu