Yang Khas, Yang Legendaris Kuliner Timur Tengah di Surabaya

Yang Khas, Yang Legendaris Kuliner Timur Tengah di Surabaya
info gambar utama

Sejak berabad-abad lampau, masyarakat Timur Tengah yang ada di Nusantara, khususnya Surabaya telah melakukan penyebaran budaya. Banyak muslim Timur Tengah yang singgah di pesisir Nusantara seperti Surabaya, Gresik, Semarang, dan Sumatera untuk berniaga sembari menyebarkan agama Islam. Kebanyakan para musafir Timur Tengah itu bersinggah cukup lama untuk menunggu arus balik dan kembali ke peraduan. Tak sedikit diantaranya yang kemudian singgah dan menikah dengan masyarakat lokal kemudian memutuskan untuk menetap di pesisir-pesisir Nusantara.

kawasan Ampel yang banyak dihuni oleh peranakan Timur Tengah
info gambar

Di Surabaya terdapat sebuah kawasan yang dihuni peranakan Timur Tengah. Kebanyakan orang-orang menyebutnya sebagai ‘Kampung Arab’, tepatnya di sekitaran Makam Sunan Ampel di Jalan Pertukangan I, Ampel, Semampir, Surabaya. Tim GNFI menyempatkan berkunjung ke tempat yang jadi rujukan wisata Kota Surabaya ini. Kami merasakan betul suasana Timur Tengah-nya di sini.

Dari yang kami amati, kebanyakan orang berlalu lalang di sini memakai gamis putih disertai peci. Sedangkan yang perempuan memakai gamis ataupun setelan rok dilengkapi hijab. Suasana Timur Tengah pun semakin terasa dengan bangunan yang khas dari sana.

Di sini kita akan jumpai banyak penjual kudapan, cindera mata, sampai baju-baju islami. Berbagai jenis kurma berjajar rapi di samping kiri kanan lorong menuju Masjid Sunan Ampel. Belum lagi kaligrafi-kaligrafi yang dijajakan sepanjang jalan, semakin menambah kental suasana Timur Tengah di sini.

Tak jauh dari kawasan wisata religi Makam Sunan Ampel, terdapat kawasan yang menjajakan kuliner khas Timur Tengah, yakni di sepanjang jalan KH. Mas Mansyur. Salah satunya yakni rumah makan Parata.

Ketika memasuki rumah makan Parata ini, kami disambut tiga baris meja dengan kursi plastik berwarna merah. Di samping kanan, seorang lelaki berkaus abu-abu bergaris sedang berbincang santai dengan lelaki paruh baya di depannya. Nampaknya mereka sama-sama bukan berdarah Indonesia. Beberapa pekerja di sana menawarkan daftar menu untuk dipesan mulai dari kebab, parata, roti maryam, nasi mandhi, naan, qeema, aluqeema, nasi goreng, dan beberapa minuman yogurt. Setelah berdiskusi cukup lama, pilihan kami jatuh pada naan, aluqeema, dan dua porsi mini kebab Turki.

Selang beberapa menit kemudian para pelayan di sana menyuguhkan sepiring roti panggang beserta cincangan kentang halus dan daging kambing kecoklatan lengkap dengan kepulan asap dengan aroma gurih yang menguar ke hidung kami. Tak beberapa lama, sajian double mini kebab juga telah hadir di hadapan kami. Dengan segera kami menyantap sajian yang ada di hadapan kami. Mumpung masih hangat.

Aluqeema
info gambar

Usai menyantap makanan khas Timur Tengah tersebut, kami menyempatkan diri utuk berbincang-bincang dengan pemilik rumah makan. Ternyata lelaki paruh baya berkaus abu-abu bergaris tadi adalah pemilik rumah makan ini. Said Abdullah, bersama saudaranya Zahir Ahmad. Ia menjelaskan tentang beberapa kuliner yang sempat kami cicipi tadi. Termasuk menjelaskan bahwa orang Timur Tengah memang biasa memakan naan (roti) bersama dengan cocolan baik itu qeema (daging cincang) maupun aluqeema (kentang dan daging cincang).

“Kita sudah biasa makan roti, makannya di sini juga banyak menu roti seperti parata, roti maryam, dan naan. Tapi di sana roti maryam tidak disebut sebagai roti maryam. Di sana namanya cenai. Di sini disebut roti maryam mungkin karena yang pertama kali bikin ini namanya Bu Maryam,” ujarnya sambil menunjuk daftar menu yang ada di atas meja kami.

Dengan semangat ia menceritakan kepada kami seluk-beluk makanan Timur Tengah yang ada di kawasan Kampung Arab ini. Salah satunya yakni kebiasaan mereka mengkonsumsi roti. Ia mengungkapkan bahwa orang-orang Timur Tengah tidak bisa jauh dari makanan asalnya, jadi mereka – para pendatang – membawa serta makanan dan resep makanan asal tanah mereka. “Di sini kalau cari masakan Arab atau Timur Tengah asli pasti sudah tidak ada. Sudah campuran.,” jelasnya sambil tersenyum.

Masyarakat Timur Tengah terbiasa mengkonsumsi roti
info gambar

Sedangkan perihal bumbu masakan Timur Tengah, Zahir mengaku sudah mengalami penyesuaian dengan bumbu dan cita rasa setempat. Bahkan penyebutan menu nasi goreng yang ada di daftar menu ternyata digunakan untuk nasi kebuli. Dengan alasan agar pelanggan bisa lebi akrab dengan nama-nama menu yang ada di sini.

“Bumbu juga sudah menyesuaikan dengan bahan dan cita rasa sini, ya meskipun saya sendiri juga masih sering pakai bumbu dari Pakistan dan India. Toh sekarang di sini juga sudah banyak yang jual. Kalau aluqeema ini ya bumbunya biasa saja, beberapa sudah pakai bumbu lokal, ada tomat, bawang merah, jahe, bawang putih, dan ada bumbu khas dari sana juga.”

Sependapat dengan sang empunya rumah makan Parata, Fadly Rahman, seorang sejarawan kuliner Indonesia juga menyebutkan bahwa cita rasa Nusantara, termasuk Surabaya, sudah melebur bersama cita rasa Timur Tengah menjadi cita rasa kolektif masyarakat pribumi. Bahkan di manuskrip Serat Centhini, didalamnya pun sudah terpengaruh cita rasa Timur Tengah. Artinya akulturasi budaya kuliner sudah melebur sedemikian rupa dan sudah merupakan bagian dari kita

“Ada juga satu teori yang mengatakan kalau sebenarnya nasi goreng ini sangat mirip dengan nasi di Arab yang diambil dari kata ‘pilash’ yang disebarkan oleh pedagang Arab berabad-abad lampau,” terangnya saat diwawancara tim GNFI.

Sebagai Port City, maka tak heran jika Surabaya memiliki kekayaan kuliner akulturasi. Bukan hanya dengan Timur Tengah, tetapi juga dengan Tionghoa, Eropa, dan India.

Bertepatan dengan hari jadi Surabaya yang ke-724 ini, tak ada salahnya kawan berkeliling Surabaya mengunjungi spot-spot makanan akulturasi Nusantara dan Timur Tengah yang ada di Surabaya. Jika kawan ingin mencicipi masakan khas Timur Tengah yang cocok dengan lidah masyarakat Surabaya, Kawan bisa mengunjungi jalan KH Mas Mansyur, serta sekitaran kawasan Makam Sunan Ampel dan Kampung Arab.


*

GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini