Mengenang Masa-masa Awal Pembangunan Jalan Tol di Indonesia

Mengenang Masa-masa Awal Pembangunan Jalan Tol di Indonesia

Tol Bali Mandara, salah satu tol terindah di Indonesia © Pemilik Gambar

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Bicara soal musim mudik, kita tak pernah jauh-jauh dari obrolan tentang jalan-jalan tol yang dipersiapkan untuk kebutuhan mudik. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun 2016, panjang tol yang sudah beroperasi di Indonesia tercatat mencapai 984 kilometer. Kemudian di tahun 2017 ini, pemerintah sudah menyiapkan jalan tol fungsional baru sepanjang 402 kilometer di Pulau Jawa dan Sumatera.

Indonesia sudah punya jalan tol sebanyak dan sepanjang itu, tapi tentu ada kisah awal mula yang mengiringinya. Penerapan jalan tol di Indonesia sebenarnya belum terlalu lama dilakukan, yakni pada ahun 1978. Namun, ide ini sebenarnya sudah diusulkan pada tahun 1950-an di Jakarta.

Yang pertama kali mengusulkan pembangunan jalan tol adalah Walikota Jakarta, Sudiro yang menjabat pada tahun 1953-1960. Usulannya ini berawal dari penggarapan jalan raya yang sekarang kita kenal dengan Jalan Sudirman-M.H Thamrin yang menghabiskan banyak anggaran hingga membuat Pemerintah Jakarta agak kelimpungan lantaran subsidi yang tersedia terbatas.

Dari masalah ini, Sudiro mengusulkan jalan tol sebagai strategi Pemerintah Daerah Kota Praja Jakarta mendapatkan dana tambahan untuk pembangunan. Ia mengusulkannya ke DPRDS pada tahun 1955 bersama Badan Pemerintah Harian Kota Praja. Sudiro juga mengusulkan adanya retribusi satu sen dari harga normal bensin.

“Di jembatan panjang, pada ujung jalan MH Thamrin itulah, diusulkan untuk didirikan tempat guna pemungutan toll bagi tiap kendaraan bermotor yang lewat di situ,” tulis Soebagijo IN dalam bukunya Sudiro Pejuang Tanpa Henti. Sayangnya, usulan ini ditolak oleh anggota DPRDS karena menurutnya tol ini akan menghambat laju lalu lintas.

Gerbang tol Salatiga baru-baru ini mencuri perhatian dengan pemandangan gunung di baliknya (foto: uzone.id)
Gerbang tol Salatiga baru-baru ini mencuri perhatian dengan pemandangan gunung di baliknya (foto: uzone.id)

Alasan lainnya, menyoal retribusi menurut anggota DPRDS hal itu adalah pajak kuno. Pada masa kolonial, pemungutan semacam ini sudah pernah dilakukan. Kala itu pemerintah kolonial menyewakan gerbang pemungutan tol kepada kalangan Tionghoa. Tarifnya ditentukan berdasarkan kedudukan gerbang tol.

"Jadi, sepikul (61,175 kg) beras harus membayar pajak sebesar 44 sen di Ampel. Sebuah gerbang tol di Surakarta yang telah lama didirikan pada jurusan Sala-Salatiga, hanya akan terkena pajak 15 sen pada gerbang tol utama Panaraga di Jawa Timur, 8 sen di bandar Pacitan di pantai selatan dan hanya ditarik 2 sen saja di rangkah pager Waru di Pacitan," demikian tulis Peter Carey dalam Orang Cina, Bandar Tol, Candu, dan Perang Jawa.

Bagi beberapa orang, ternyata jalan tol justru merupakan ide yang jadul. Namun, menurut Sudiro sebenarnya tidak juga. Suatu ketika ia pergi ke Amerika Serikat, sekitar tahun 1961. "Tatkala Sudiro sendiri pada tahun 1961 naik mobil dari New York ke Washington, di tempat tertentu diharuskan membayar toll. Apakah dengan demikian di USA hingga saat ini toll itu juga dianggap sebagai pajak kuno," lanjut Soebagijo.

Lantaran kerap mendapat pertentangan, jalan tol ini baru benar-benar dibangun 18 tahun kemudian pada 1973 dan menjadi awal mula pembangunan jalan tol di Indonesia. Jalan tol ini yang kemudian kita kenal dengan Tol Jagorawi yang menghubungkan Jakarta-Bogor-Ciawi sepanjang 59 kilometer.

Tol Jagorawi menjadi tol pertama yang dimiliki oleh Indonesia (foto:aktual.com)
Tol Jagorawi menjadi tol pertama yang dimiliki oleh Indonesia (foto:aktual.com)

“Jalan Tol Jagorawi merupakan jalan terbaik yang kita miliki. Tentu, dalam melaksanakan pembangunan kita selalu ingin menciptakan yang terbaik... Jalan Tol Jagorawi walaupun kontraktornya dari luar negeri, namun tidak sedikit pula pikiran dan tenaga kita yang ikut serta menyelesaikan jalan yang istimewa itu." Demikian ucap Presiden Soeharto dalam pidatonya di acara peresmian Jembatan Tol Citarum dan Jalan Tol Jagorawi pada 14 Agustus 1979.

Jalan tol Jagorawi dibangun dengan dana dari anggaran pemerintah dan pinjaman luar negeri yang diserahkan kepada PT Jasa Marga (Persero) Tbk. sebagai penyertaan modal. Kemudian memasuki tahun 1987 pihak swasta mulai ikut serta membangun jalan tol.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga28%
Pilih SedihSedih2%
Pilih SenangSenang13%
Pilih Tak PeduliTak Peduli12%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi34%
Pilih TerpukauTerpukau11%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Sunaka Jewelry Lestarikan Keindahan Bali Lewat Karya Kerajinan Perhiasan Sebelummnya

Sunaka Jewelry Lestarikan Keindahan Bali Lewat Karya Kerajinan Perhiasan

Sejarah Hari Ini (9 Agustus 2017) - Museum Keris Nusantara Diresmikan Jokowi Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (9 Agustus 2017) - Museum Keris Nusantara Diresmikan Jokowi

Arifina Budi
@arifinabudi

Arifina Budi

http://wetanngulon.blogspot.com

2 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.