Lupa Sandi?

5 Hal yang Dikemukakan Indonesia Saat Jadi Pembicara Utama G20

Adriani Zulivan
Adriani Zulivan
0 Komentar
5 Hal yang Dikemukakan Indonesia Saat Jadi Pembicara Utama G20

Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta menjadi pembicara utama untuk isu perlawanan terhadap terorisme dalam Leader’s Retreat G20. Permintaan ini hadir atas keberhasilan Indonesia dalam melawan radikalisme.

G20 merupakan Konferensi Tingkat Tinggi Kelompok Negara 20. Tahun ini konferensi bergengsi tingkat pemimpin dunia tersebut berlangsung di Hamburg, Jerman pada 7-8 Juli 2017. Konferensi ini libatkan 19 negara paling berpengaruh dalam perekonomian dan perdagangan dunia, serta negara representasi Uni Eropa dan Bank Sentral Eropa.

Dalam pidatonya Jumat (7/07), Presiden Jokowi tekankan pentingnya negara seluruh dunia untuk bersatu lawan terorisme. "Kita harus bersatu untuk memerangi terorisme," sebut Jokowi dalam pembukaan pidatonya.

Berikut lima poin utama yang dijelaskan Jokowi dalam KTT G20, sebagai pesan atas pengalaman keberhasilan Indonesia melawan terorisme dan permintaan agar negara-negara G20 lakukan langkah serupa.

Baca Juga

1. Pengawasan aliran dana kelompok radikal

Dukungan negara G20 terhadap proses keanggotaan Indonesia dalam Financial Action Task Force (FATF) diapresiasi Jokowi. Dukungan ini penting untuk meningkatkan pengawasan terhadap aliran dana kepada jaringan kelompok radikal dan teroris. 

2. Penggunaan TI untuk menyebar nilai perdamaian

G20 harus menjadi kekuatan pendorong dalam penyebaran kontra-naratif dengan penekanan pada gerakan moderasi dan penyebaran nilai-nilai damai dan toleran. Penggunaan teknologi informasi (TI) merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan.

3. Mencari solusi atas masalah terorisme

G20 perlu mencari solusi masalah terorisme yang timbul akibat ketidaksetaraan dan ketidakadilan. Memperkuat pemberdayaan ekonomi yang inklusif merupakan hal yang dapat dilakukan.

4. Kerjasama pertukaran intelijen

G20 harus kembangkan kerjasama bidang pertukaran intelijen, penanganan teroris asing (FTF) dan pengembangan SDM.

5. Radikalisme

Di Indonesia, program ini ampuh menurunkan tingkat keinginan para mantan teroris untuk mengulangi aksinya. Hanya 3 dari 560 mantan aktor teroris, atau 0,53 persen yang berkeinginan untuk kembali melakukan aksi teror.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Presiden Jokowi pada ASEAN Summit di Myanmar. © Malay Mail Online

Selain itu, Presiden Jokowi juga menyampaikan sejumlah pesan lain. Salah satu yang paling menimbulkan kesan bagi para peserta KTT G20 adalah, ketika ia meminta negara G20 untuk menghindari penggunaan senjata dan kekuatan militer untuk menangkal terorisme.

“Sejarah telah mengajarkan kita bahwa senjata dan kekuatan militer tidak bisa memberantas terorisme. Pikiran sesat hanya bisa dikoreksi dengan cara berpikir yang benar," jelas Jokowi seperti dikutip dari Setkab.go.id.

Ia juga merangkul organisasi kemasyarakatan untuk menyebar toleransi. “Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama juga berperan penting dalam menyebarkan perdamaian dan ajaran Islam yang toleran,” ujarnya.

Melakukan kerjasama dengan pengguna media sosial juga patut dilakukan. Pemerintah RI telah merekrut pengguna akun medsos berpengaruh untuk menyebar perdamaian.

"Dengan kemampuan teknologi informasi, G20 harus menjadi kekuatan pendorong dalam penyebaran kontra-naratif dengan penekanan pada gerakan moderasi dan penyebaran nilai-nilai damai dan toleran," ujar Presiden.

Sebagai negara dengan latar belakang penduduk yang majemuk, sekaligus sebagau negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi nehara demokratis terbesar ketiga di dunia. Indonesia pun berkomitmen jadikan pemberantasan terorisme dan menyebarkan perdamaian sebagai komitmen global bagi perdamaian dunia. 

Pilih BanggaBangga89%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang11%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADRIANI ZULIVAN

A big fan of Indonesian heritage--from culture to nature, tangible to intangible. Reading and writing as hobby, as well as dedicated work. Interested in urban discussion, disability rights, disaster m ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie