Masyarakat dunia lebih mengenal rute perdagangan Jalur Sutra dibanding Jalur Rempah. Padahal, Jalur Rempah memberi pengaruh pada kehidupan Indonesia dan dunia di masa kini. 

Rempah telah diperdagangkan berabad lamanya sebelum masehi. Perdagangan ini menempuh Asia Selatan hingga Timur tengah dan Eropa, dilakukan oleh pedagang Arab dan Cina. Di masa itu rempah-rempah miliki peranan penting bagi kehidupan, mulai dari urusan citarasa masakan, hingga mengawetkan mayat.

Menurut sejarawan JJ Rizal, dengan kemajuan teknologi, khususnya di bidang kartografi dan astronomi, pada abad ke 15 dan 16, penjelajah Eropa seperti Christopher Columbus dari Italia dan Portugis Vasco da Gama mencari jalan ke daerah asal rempah-rempah. Para pedagang Asia Selatan menyembunyikan peta ke daerah tersebut, hingga orang Eropa tak dapat menemukannya.

Agar dapat menguasai komoditas rempah, ekspedisi penjelajah Eropa sangat agresif. Di tengah kehidupan feodal masyarakat Eropa, penguasaan atas rempah dianggap penting agar pemiliknya dapat disejajarkan dengan  golongan elit. Para penjelajah mengorbankan hidup mereka untuk menguasai rempah-rempah di Asia Tenggara. Ratusan awak da Gama, salah satu penjelajah paling obsesif, tewas dalam ekspedisi 1498.

Pedagang Eropa tiba di nusantara pada akhir abad 16. Trinitas rempah termahal di Eropa, yaitu pala, cengkeh dan lada menjadi komoditas dagang utama mereka. Rempah-rempah tersebut ditemukan di Kepulauan Banda Maluku. Sayangnya, 50 tahun setelah ditemukan dan dibudidayakan di Eropa, nilai jualnya menurun. Hal ini memaksa Belanda untuk memanfaatkan komoditas lain di nusantara, seperti gula dan teh.

Di sisi lain, selama berabad-abad kerajaan dan kesultanan nusantara mendidik orang-orangnya menjadi intelektual, untuk mencapai kejayaan. Kerajaan Sriwijaya, Banten dan Gowa termasuk diantaranya. Politik pecah belah pun dijalankan Belanda untuk mengacaukan kekuatan kerajaan nusantara.

Sejarah rempah, sedikit atau banyak, telah memberi kontribusi pada sejarah panjang pembentukan nasionalisme Indonesia. Demi meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya Jalur Rempah tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menyelenggarakan sejumlah program.

Salah satunya adalah dengan membawa Jalur Rempah dalam Festival Europalia 2017 di Belgia dan negara sekitarnya. Agenda yang akan berlangsung pada 10 Oktober 2017 hingga 21 Janari 2018 ini merupakan festival budaya terbesar dan paling bergengsi di Eropa. 

Terlepas dari pentingnya sejarah dibalik Jalur rempah, Dirjen Kebudayaan Hilmar Harid mengakui bahwa sejarah Jalur Rempah telah dilupakan masyarakat Indonesia. Menurutnya Cina berhasil mendapat pengakuan internasional untuk sejarah Jalur Sutra, sebagai bagian dari kerangka diplomasi.

Selengkapnya di Jakarta Post.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu