Pesona Suku Talang Mamak: Cerita Perjalanan

Pesona Suku Talang Mamak: Cerita Perjalanan
info gambar utama

Saat itu, Casio G-Shock di tangan saya menunjukkan pukul 06.00 WIB, matahari enggan muncul akibat hujan yang mengguyur semalaman menyambut kedatangan kami di Desa Teluk Sejua dalam perjalanan menuju Desa Talang Durian Cacar, Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Indragiri Hulu, Propinsi Riau, daerah yang dulunya merupakan pusat penyebaran Suku Talang Mamak. Beruntung, kedinginan di pagi itu sedikit dihangatkan dengan seduhan kopi tubruk yang diracik oleh Kak Semi, istri dari Bang Samad, warga lokal tempat kami menginap sekaligus informan dalam perjalanan ini. Sekilas terlihat di celah-celah dinding rumah, rintik hujan masih membasahi “Tanah Talang Mamak”, namun hal ini tidak menghambat berbagai aktivitas masyarakat, di jalan yang berliku-liku dan tidak beraspal itu, samar-samar terlihat masyarakat berlalu-lalang. Meski tak saling kenal, sebuah senyuman masih tersirat di wajah mereka. Ramah sekali, kehangatan pagi ini semakin terasa melihat harmonisnya masyarakat memaknai kebudayaan mereka.

Suku Talang Mamak merupakan komunitas masyarakat suku asli Indonesia yang masih ada di pedalaman hutan Indragiri Hulu. Mereka memiliki ikatan yang sangat kuat dengan lingkungan alamnya, terutama hutan. Hutan menurut mereka bukan hanya sebagai tempat tinggal yang menyediakan berbagai fasilitas hidup. Tetapi melahirkan falsafah-falsafah budaya yang bernilai tinggi. Semua makhluk hidup mendapat habitat yang wajar dalam tata ruang masyarakat Suku Talang Mamak. Hal ini memberikan rahmat dan anugerah berupa kehidupan yang bersih, alami, indah dan tentram. Di situ dapat didengar kicau Srindit dan kokok Ayam Hutan, air jernih mengalir sepanjang bebatuan sungai dan rimba belantara yang kokoh berdiri menantang langit. Sungguh karunia Tuhan yang mengagumkan.

Kabupaten Indragiri Hulu berjarak ±225 Km dari Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau. Perjalanan ini diawali dengan melewati Pandau yang merupakan daerah perbatasan Pekanbaru dan Kabupaten Kampar, daerah ini merupakan jalur alternatif untuk menembus Jalan Lintas Timur menuju Kabupaten Indragiri Hulu. Dua jam berlalu, kami tiba di Pangkalan Kerinci, ibukota Kabupaten Pelalawan yang membatasi Pekanbaru dan Kabupaten Indragiri Hulu. Sepanjang perjalanan, hanya hamparan perkebunan sawit yang kami temui, bermacam pikiran berkecamuk melihat fenomena ini. Disatu sisi, kita bersyukur dengan anugerah kesuburan negeri ini, namun disisi lain kita juga harus memikirkan dampak langsung maupun tidak langsung dari ekspansi perkebunan sawit. Sekelebat bayangan tentang berbagai konflik lahan muncul di memori otak saya, semoga itu tidak terjadi di daerah ini. Pikiran ini membuat mata saya terpejam ditengah kepenatan dan rasa kantuk yang mulai melanda. Saya pun terlelap..

Dua jam perjalanan dari Pangkalan Kerinci, kami pun sampai di Air Molek yang merupakan ibukota Kecamatan Pasir Penyu. Kami pun berhenti sejenak melepaskan kepenatan di tetangga Kecamatan Rakit Kulim ini sambil menunggu jemputan Bang Samad untuk menuju ke Desa Teluk Sejua. Menjelang Zuhur akhirnya jemputan pun datang, kami segera bergegas menuju lokasi tujuan. Rimbun pepohonan dan suasana sejuk tersaji sepanjang perjalanan, setengah jam kemudian kami sudah memasuki daerah permukiman masyarakat, “itu tempat tinggal orang Talang (sebutan bagi Suku Talang Mamak)” Bang Samad menunjuk rumah panggung yang berdinding papan dan beratap seng, di depan rumah terparkir beberapa sepeda motor, terdapat antena parabola dan anak-anak yang asyik berkejar-kejaran. “itu orang Talang yang sudah modern” lanjut Bang Samad. Hal ini semakin mengundang rasa penasaran kami untuk segera sampai di Desa Talang Durian Cacar. Kami pun sampai di rumah Bang Samad pukul 14.00 WIB. Karena tahu sepanjang perjalanan kami tidak mendapatkan asupan nutrisi yang memadai, Bang Samad pun langsung mengajak makan siang bersama. Ikan gabus bakar, gulai pakis, tumis Kijing dan nasi hangat terasa sangat nikmat dan berjasa untuk menambah energi yang terkuras selama perjalanan. Selesai makan siang kami pun sholat zuhur berjamaah, puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas keselamatan selama perjalanan dan semoga daerah ini tetap dilimpahi kemakmuran. Hari itu kami habiskan untuk istirahat total.

Rintik hujan mulai reda, matahari mulai memancarkan sinarnya walaupun masih sedikit ditutupi kabut mendung. Kebetulan hari ini adalah hari pasar, lokasi pasar berada di desa seberang yaitu Desa Petonggan. Bila hari pasar seperti ini, seluruh warga akan libur bekerja. Mereka habiskan hari itu untuk belanja kebutuhan hidup selama seminggu. Ketika kami sedang berbincang-bincang, seorang pria berperawakan tinggi kurus melintas di depan kami, menggunakan peci dan kain sarung, ketika tersenyum tampak deretan giginya berwarna merah kehitaman. “dia adalah orang Talang asli” kata Bang Samad sambil menyapa orang yang dimaksud. Beliaulah suku Talang Mamak pertama yang kami temui, namanya Pak Buat. Pertemuan ini tidak berlangsung lama karena beliau ada keperluan, kami pun berjanji untuk bertemu lagi keesokan harinya. Suasana pasar semakin ramai, berbagai aneka jualan tersaji mulai dari pakaian, mainan, perkakas rumah tangga, kosmetik sampai makanan tradisional. Kami pun tidak melewatkan kesempatan mencicipi pecal khas Pasar Petonggan dimana ada campuran semacam cendol yang dibuat dari tepung sagu. Unik dan nikmat pastinya. Nyamm..

Siang ini kami berniat menyusuri tepian Sungai Gangsal yang membelah Kecamatan Rakit Kulim, akhirnya kami mendapatkan tumpangan sampan, namanya Pak Gani. Tiga sampan, masyarakat lazim menyebutnya sampan panjang perlahan mengikuti arus Sungai Gangsal. Pak Gani, laki-laki berbadan pendek dan kurus, berdiri di haluan sampan memandu dengan tongkat bambu panjang, ia mengayuh sampan. Sepanjang perjalanan, Pak Gani terus berbicara apa saja yang menarik dan ingin kami ketahui, “lihat itu, pohon yang menjulang tinggi macam batang pinang, itu adalah pohon Nibung” ujar Pak Gani sambil tangannya menunjuk ke arah batang Nibung yang tumbuh subur di tepi sungai yang kami lewati. Memori otak saya tiba-tiba teringat masa-masa SD, dimana ketika itu kami belajar tentang flora dan fauna khas setiap propinsi di Indonesia. Nibung (Oncosperma tigillarium) adalah flora khas Propinsi Riau, tentunya tidak banyak masyarakat yang mengetahui dan melihat Nibung secara langsung. Kami pun menepikan sampan dan mengikatnya pada batang Manggis lapuk, kesempatan ini tidak kami sia-siakan dan kami langsung mengabadikan pertemuan dengan flora endemik ini. Jepreeeet..

Perjalanan kami lanjutkan menyusuri hilir Sungai Gangsal, banyak hal-hal menarik yang kami temui dan tentunya tak luput dari jepretan kamera. Kera ekor panjang yang meloncat-loncat di tengah rimbun pepohonan, burung elang yang terbang di permukaan air untuk mencari mangsa, ternak warga yang berkubang karena cuaca yang panas di siang itu dan tentu saja berbagai aktivitas warga di sepanjang perairan sungai ini seperti menjala ikan, menombak dan mencari Kijing. Saya merasa seperti berada dalam film dokumenter National Geographic, namuan khayalan itu buyar ketika tiba-tiba Pak Gani berujar dengan mimik serius “jangan terlalu ribut, daerah ini ada penunggunya”. Kami pun mengerti maksudnya, masyarakat Suku Talang Mamak memang masih mempercayai hal-hal yang berbau mistik. Dari ajaran Islam, Suku Talang Mamak mengetahui bahwa tiap manusia dikawal atau diawasi oleh malaikat. Dari sini, dukun-dukun Suku Talang Mamak membuat analogi, bahwa tiap makhluk hidup tentu juga ada pengawalnya. Maka makhluk hidup berupa binatang liar dan burung dikawal oleh makhluk halus bernama Sikodi, makhluk hidup berupa pohon dan hutan belantara dikawal oleh Mambang dan orang Bunian, tanah dikawal oleh Jembalang. Dari pandangan tradisional ini, maka tidak ada warga yang berani begitu saja mengambil, apalagi merusak flora dan fauna. Jika mereka merasa memerlukannya, maka mereka terpaksa meminta bantuan para dukun, sehingga mereka merasa aman mengambilnya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini