Indeks Kebahagiaan Masyarakat Kota Bandung Naik di Tahun 2017 ini

Indeks Kebahagiaan Masyarakat Kota Bandung Naik di Tahun 2017 ini
info gambar utama

Pada kamis (7/09) lalu Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Kota Bandung telah merilis hasil survei Indeks Kebahagiaan yang dilakukan bersama Laboratorium Quality Control Departemen Statistika Universitas Padjadjaran, di Hotel El Royale Bandung. Hasil dalam indeks tersebut menunjukkan bahwa indeks kebahagiaan Kota Bandung pada tahun 2017 sebesar 73,42 yang berarti sangat bahagia. Angka itu naik 0,15 dari tahun sebelumnya.

Pengukuran kebahagiaan yang dilaksanakan dalam survei ini dilakukan menggunakan Model Dinamis Kebahagiaan yang dikembangkan oleh The New Economics Foundation (NEF 2008) dan dimodifikasi menurut konteks kekinian oleh tim survei dengan pendekatan psychological wellbeing.

Dimana pendekatan tersebut diprioritaskan karena dianggap paling komprehensif dan berdasar pada teori theory-guded approach dalam ilmu psikologi positif. Survei ini juga dilakukan dengan kerangka kerja Badan Pusat Statistik (BPS).

Segmentasi survei pada tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, tak hanya kepala rumah tangga atau pasangannya, kini segmentasi responden ditambah dengan kategori remaja dan keluarga miskin. Penyajian data pun disegmentasi berdasarkan kategori tersebut.

Terdapat 10 variabel esensial yang digunakan dalam survei ini. Kesepuluh variabel tersebut adalah pekerjaan, pendapatan rumah tangga, kondisi rumah dan aset, pendidikan, kesehatan, keharmonisan keluarga, hubungan sosial, ketersediaan waktu luang, kondisi lingkungan, dan kondisi keamanan. Bobot tiap variable itu dihitung secara proporsional berdasarkan data dengan teknik Analisis Faktor.

Berdasarkan hasil survei, segmentasi kepala keluarga/pasangan memiliki Indeks Kebahagiaan sebesar 73,43 (sangat bahagia), remaja 75,11 (sangat bahagia), dan kepala keluarga/pasangan warga miskin sebesar 68,58 (bahagia).

Ridwan Kamil selaku Wali Kota Bandung menuturkan bahwa hasil survei itu merupakan cara Kota Bandung melaksanakan pembangunan yang tepat sasaran. Ia ingin agar program-program pemerintah dijalanka berdasarkan data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menambahkan, Indeks Kebahagiaan merupakan standar baru dalam mengukur kemajuan pembangunan. Saat ini, Kota Metropolis terbesar se Jawa Barat itu memang sedang berupaya mengetengahkan program pembangunan yang seimbang antara fisik dan mental.

“Kami sedang mencari pebanguanan berbasis mental manusia itu harus dibikin apa. Karena tidak bisa dipukul rata,” ujarnya.

Ia mencontohkan, program akan berbeda berdasarkan kelompok usia atau berdasarkan besaran penghasilan. Program kepada warga miskin akan berbeda dengan program untuk menengah ke atas. Ia juga perlu membedakan program berdasarkan wilayah.

“Tadi kan ketahuan antapani paling bahagia. Yang paling tidak bahagia Andir. Jadi kesimpulan itulah yang dibutuhkan untuk membuat rekayasa pembangunan,” lanjutnya.

Ridwan Kamil tidak menampik bahwa metode yang digunakan masih belum sempurna dan perlu untuk disempurnakan. Untuk kedepannya, pihaknya akan mendorong agar metode tersebut bisa juga digunakan dalam menerjemahkan dampak dari kebahagiaan itu.


Sumber: Pikiran Rakyat

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini